<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442</id><updated>2011-04-21T10:42:29.432-07:00</updated><title type='text'>IBNU AMMAR</title><subtitle type='html'>HAMBA YANG MENDAMBA CINTAMU YA RABB</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-7106092643307613988</id><published>2007-12-08T23:32:00.001-08:00</published><updated>2007-12-08T23:38:12.648-08:00</updated><title type='text'>Jejak Penuh Hikmah</title><content type='html'>''Syahadat yang ideal adalah syahadat yang melahirkan kekuatan.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Di atas kesulitan-kesulitan yang kita hadapi di lapangan perjuangan, ada janji-janji Allah yang sangat menggiurkan.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Shalat itu bukan sekadar gerakan ritual semata. Di sana kita mengisi daftar usulan proyek, di sana kita meminta.''&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;''Jangan hanya kagum dengan membaca sejarah yang telah dilakukan Nabi dan sahabat-sahabatnya, serta kecemerlangan pejuang-pejuang Islam di belakang beliau. Tapi kita juga harus berbuat sesuatu yang pantas dicatat sejarah.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan di atas hanya sekadar menyegarkan kembali ingatan kita terhadap sosok almarhum Ustadz Abdullah Said, pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah dan juga pendiri majalah Suara Hidayatullah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan Utama kali ini, dalam rangka Milad majalah Suara Hidayatullah yang ke-19. kami mencoba tampil sedikit berbeda. Kami akan merekam kembali jejak penuh hikmah sosok Abdullah Said, termasuk nukilan buku berjudul KH Abdullah Said, Pokok-pokok Pikiran, Kiprah dan Perjuangannya karya Ust Manshur Salbu. &lt;br /&gt;Rekaman tersebut akan kami tampilkan dalam 10 halaman. Kami yakin ada banyak teladan dan hikmah yang bisa diambil dari rekaman tersebut. Selamat mengikuti!  *Dadang Kusmayadi, Mahladi/Suara Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan 2: 5 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekam Jejak Sang Pelopor &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan di Jakarta pada 17 Agustus 1945, jauh di pelosok Sulawesi Selatan, tepatnya di Desa Lamatti Rilau, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, lahirlah seorang anak dari ibu bernama Aisyah. Anak tersebut kemudian diberi nama Muhsin Kahar.&lt;br /&gt;Muhsin adalah anak ketiga dari empat bersaudara: Junaid Kahar, Lukmanul Hakim Kahar, dan As'ad Kahar. Ayahnya, Kiai Abdul Kahar Syuaib adalah ulama kharismatik di Kampung Lamatti. Sang ayah lebih populer di kalangan masyarakat dengan sebutan Puang Imang (panggilan kehormatan kepada Imam di kampung) karena cukup lama menjadi imam di kampung. &lt;br /&gt;Ketika masih dalam kandungan, Muhsin telah menjadi bahan perbincangan di kalangan keluarga. Sebab, usia kandungan ibunya sudah mencapai dua tahun, namun sang anak belum juga lahir. &lt;br /&gt;Hanya ayahnya yang selalu mengingatkan sang ibu agar tetap bersabar menunggu kelahirannya sampai kapan pun yang dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta'ala (Swt). &lt;br /&gt;Ketika usia kandungan memasuki tahun kedua timbul tanggapan miring bahwa mungkin yang dikandung itu bukan manusia. Mungkin buaya atau entah apa. &lt;br /&gt;Sang ayah marah besar mendengar tanggapan miring seperti itu. Ada keyakinan dalam hati sang ayah bahwa anak yang dikandung itu kelak justru akan menjadi orang hebat. &lt;br /&gt;Akhirnya bayi yang tadinya mencurigakan itu lahir dalam keadaan normal dan sehat layaknya bayi-bayi pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah ke Makassar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampung halamannya Muhsin sekolah sampai kelas III (1952-1954). Ia kemudian harus meninggalkan tempat kelahirannya tercinta karena harus mengikuti sang ayah pindah ke Makassar.&lt;br /&gt;Hati Muhsin merasa berat. Betapapun bersahajanya kampung itu, baginya banyak kenangan indah yang tidak mudah dilupakan. Desanya yang terletak di dataran tinggi dengan pepohonan yang rimbun selalu mengalirkan kesejukan. Apalagi jika memandang hamparan pulau-pulau di perairan Teluk Bone, memberi energi tersendiri dalam jiwanya. &lt;br /&gt;Kehidupan yang dijalaninya pada awal tiba di Makassar sangat memprihatinkan. Maklum, orang tuanya tdak mempunyai pekerjaan yang mendatangkan banyak uang. Ia hanya imam sebuah masjid di Kampung Malimongan Baru. Sesekali, sang ayah memberi tuntunan agama kepada jamaah masjid itu. &lt;br /&gt;Untunglah sang ibu sangat giat mencari nafkah untuk membantu membiayai anak-anak sekolah. Praktis, meskipun jauh dari memadai, kebutuhan keluarga itu tercukupi.&lt;br /&gt;Di Makassar itu Muhsin banyak menyaksikan orang mabuk-mabukan dan berteriak dengan kata-kata yang tidak sedap. Sering juga terjadi perkelahian antara kelompok anak muda yang hanya disebabkan persoalan sepele. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pindah ke Makassar, Muhsin meneruskan sekolah di kota itu. Ia diterima di kelas IV SD (dulu Sekolah Rakyat) No 30. Di SD ini ia selalu menjadi bintang kelas karena menguasai seluruh mata pelajaran termasuk menggambar. Bahkan ia pernah menjuarai lomba menggambar antar Sekolah Dasar se-Kota Besar Makassar.  Ia juga sering ditugaskan gurunya menyalin pelajaran di papan tulis.&lt;br /&gt;Ketika mengikuti ujian akhir SD, ia mendapat nilai tertinggi sehingga memungkinkan memilih sekolah favorit. Ia tidak memilih sekolah umum tapi sekolah agama yakni Pendidikan Guru Agama Negeri 6 Tahun (PGAN 6 Tahun). Ia memilih sekolah ini karena di samping mempelajari agama juga termasuk sekolah yang didambakan sebagai satu-satunya Pendidikan Guru Agama milik pemerintah di Indonesia Timur.&lt;br /&gt;Di sini yang diterima hanya murid-murid yang berprestasi. Di sisi lain, sangat menguntungkan bagi orang-orang yang tidak mampu dari segi biaya. Siswa di sekolah ini setiap bulan mendapat tunjangan ikatan dinas (ID). Muhsin sangat senang karena sedikit mampu meringankan beban orang tuanya.&lt;br /&gt;Di sekolah ini juga ia terkenal sebagai siswa yang pandai berpidato. Ia juga selalu ditunjuk menjadi ketua kelas. Dalam berbagai pertemuan ia dipercaya untuk memimpin. Ia dikenal sebagai siswa berpengetahuan luas karena sangat rajin membaca. Tunjangan ID-nya setiap bulan tidak bersisa. Semuanya dibelikan buku. &lt;br /&gt;Ini berbeda dengan teman-temannya yang lebih suka membeli baju demi penampilan. Maklum, di sekolah itu bercampur antara pria dan wanita. &lt;br /&gt;Muhsin memang kurang perhatian terhadap penampilan. Ia tidak malu-malu menggunakan sarung ke sekolah kalau celananya sedang dicuci. Teman-temannya sering sinis melihat kebiasaan tak lazim itu. Tapi ia cuek saja. Lagi pula peraturan soal pakaian belum seketat sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan Bangku Kuliah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhsin lulus dari PGAN 6 Tahun dengan nilai memuaskan. Karena prestasi itu ia langsung mendpat tugas belajar di IAIN Alauddin, Makassar.  &lt;br /&gt;Muhsin sempat menjalankan tugas belajar tersebut. Namun hanya bertahan satu tahun. Ia berhenti kuliah. Alasannya, ia merasa tidak memperoleh tambahan ilmu yang berarti. Ia telah membaca semua materi kuliah yang diberikan dosen. &lt;br /&gt;Muhsin berkesimpulan bahwa kalau duduk beberapa tahun di bangku kuliah akan banyak menyita waktu dan energi, sementara hasilnya tidak seimbang dengan yang telah dikorbankan.  &lt;br /&gt;Hati Muhsin terusik juga ketika teman-teman kuliahnya menganggapnya sombong. Tapi prinsipnya tetap dipegang teguh. Menurutnya, kuliah banyak menyia-nyiakan waktu untuk ngobrol ngalor-ngidul antara mahasiswa dan mahasiswi. Yang diobrolkan pun tidak ada hubungannya dengan perkuliahan. Bahkan mengarah pada hal-hal yang tidak wajar dibicarakan. &lt;br /&gt;Karena itu Muhsin berpendapat lebih aman jika berhenti kuliah dan aktif berorganisasi, belajar langsung kepada ulama, giat berdakwah, dan gencar membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Lewat Bacaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak ada rapat organisasi, Muhsin pergi ke tempat favoritnya, yakni toko buku. Beberapa toko buku di Makassar kala itu, seperti Hidayat Book Store, toko Buku Rakyat, Assagaf dan Aloha, menjadi langganannya. &lt;br /&gt;Ia sedih bila buku yang diminatinya tidak bisa dibeli karena uang yang dimilikinya tidak cukup. Saat itulah ia meminta kepada pemilik toko untuk menyimpan buku itu untuknya, sambil ia berusaha mencari uang untuk menebusnya. &lt;br /&gt;Beruntung karyawan toko buku umumnya telah mengenal Muhsin sebagai ''si kutu buku'', sehingga mereka tidak keberatan. Kegemaran seperti itu terus berlanjut kendati telah tampil menjadi muballigh muda favorit. Hampir setiap pekan ia tampak di toko buku, menghabiskan sebagian honor dakwahnya untuk belanja buku.&lt;br /&gt;Ketika telah menjadi pimpinan Pesantren Hidayatullah kegiatan membacanya  semakin tinggi. Untuk membeli sekian banyak buku ia rela mengeluarkan uang sampai jutaan rupiah. Ketika waktu kembali ke Balikpapan dengan menumpang kapal PELNI, buku yang diboyongnya sampai berkardus-kardus.&lt;br /&gt;Menariknya, buku-buku yang ia beli bukan melulu tentang agama tapi termasuk buku-buku manajemen, seperti buku tulisan Sondang P. Siagian. Buku pengembangan diri seperti karangan Dale Carnegie, Napoleon Hill, Norman Vincent Peale, David J.Schwartz, Herbert N. Casson, Stephen R. Covey, Gloria Steinem, John Naisbit, dan Alvin Toffler pun dibeli. Buku jurnalistik, ilmu pernapasan, pijat refleksi juga dibelinya.&lt;br /&gt;Setiap hari ia membaca tiga surat kabar ibu kota: Harian Merdeka, Kompas, dan Sinar Harapan, ditambah surat kabar lokal, Manuntung dan Suara Kaltim. Majalah Tempo, Gatra, Editor, Forum Keadilan, Topik, Panji Masyarakat, Kartini, termasuk majalah Trubus dan Asri tak luput dibacanya. Apalagi waktu menulis naskah Kajian Utama di majalah Suara Hidayatullah, gairah membacanya semakin besar. &lt;br /&gt;Selain membaca buku, ia juga sering mengikuti siaran radio BBC London, Voice Of America, radio Australia, dan RRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Lewat Masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya sering mengajaknya melaksanakan shalat berjamaah dan mendengarkan ceramah di berbagai masjid. Ajakan tersebut baginya mengandung hikmah besar. Karena, di samping menjadi kebiasaan melaksanakan shalat berjamaah, juga dapat menimba ilmu dari ulama-ulama yang memberi pelajaran setiap ba'da Maghrib dan Shubuh.&lt;br /&gt;Ia belajar pada ulama-ulama terkenal, seperti KH Abdul Djabbar Asyiri, yang melatihnya menghafal dan memahami hadits-hadits. Sementara Ustadz Abdul Malik Ibrahim membimbing dasar-dasar bahasa Arab. &lt;br /&gt;Dan, yang mendorongnya lebih giat menggali Al-Qur`an adalah KH Ahmad Marzuki Hasan, yang masih saudara sepupu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Lewat Pergaulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menimba ilmu pengetahuan ia juga memanfaatkan pergaulan dengan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Ia merasa dapat mengembangkan cakrawala berpikir dan mendapat banyak masukan yang diperlukan lewat pertemuan dan diskusi tersebut.&lt;br /&gt;Ia juga bergaul akrab dengan orang-orang seperti Emil Salim, Amin Rais, Adi Sasono, Erna Witular, Nafsiah Mboi Walinono, dan Abbas Muin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggeluti Organisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keranjingannya berorganisasi tidak tanggung-tanggung. Setiap organisasi yang dimasukinya ia selalu memegang jabatan yang ia minati, yakni dakwah dan pengkaderan.&lt;br /&gt;Ketika duduk di bangku PGAN 6 Tahun, ia memilih organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Ia duduk sebagai pengurus ranting di sekolahnya dan seterusnya ke tingkat wilayah.&lt;br /&gt;Sementara organisasi pemuda yang digelutinya yakni Pemuda Muhammadiyah. Ia menjadi pengurus dari tingkat cabang hingga wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra) periode 1966-1968.&lt;br /&gt;Pada masa pengganyangan G30S/PKI ia bergabung dengan Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia (KAPPI). Ia juga aktif dalam latihan militer ketika terbentuk Komando Keamanan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM).&lt;br /&gt;Ia melibatkan diri dan menjadi pengurus Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) di kota Makassar. Parmusi ini diharapkan sebagai penjelmaan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Namun, rupanya Masyumi pun dilarang oleh pemerintah. Sejak itu Muhsin kecewa melihat sikap pemerintah. Ia tidak lagi meneruskan kegiatannya dalam partai. Akhirnya, ia kembali menggeluti dunia dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menambah Ilmu di Jawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pendidikan muballigh di Makassar, Muhsin berangkat ke Surabaya bersama Usman Palese. Mereka sempat belajar sebentar di Pondok Modern Gontor, lalu pindah ke PERSIS Bangil. Di sini juga hanya bertahan tiga bulan.&lt;br /&gt;Muhsin lebih banyak berdiskusi dengan Ustadz Mansyur Hasan. Bahkan sering ditugaskan membawakan khutbah Jum'at dan ceramah di Masjid Persis. Muhsin juga senang berdiskusi masalah hukum dan politik serta hal-hal yang menyentuh agama dengan sepupunya, Jaksa Arsyad Hasan, SH.&lt;br /&gt;Lalu ia meninggalkan Surabaya menuju Jakarta. Di Jakarta, ia bersama Ustadz As'ad El-Hafidy membuka kursus muballigh. Cukup berhasil. Muballigh-muballighat muda banyak yang lahir dari kursus ini.&lt;br /&gt;Muhsin lalu kembali ke Makassar dan bergabung dengan Ustadz Ahmad Marzuki Hasan di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah. Ia aktif melakukan pengaderan dengan anak-anak muda binaan Ustadz Ahmad Marzuki Hasan dalam upaya pemberantasan kemaksiatan yang tengah marak di kota Makassar dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengganyang Judi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa penghancuran tempat perjudian di Makassar terjadi pada 28 Agustus 1969. Sehari sebelumnya, rencana penghancuran diarahkan langsung oleh Muhsin Kahar dan Mahyuddin Thaha. Peristiwa ini melibatkan para pemuda Muhammadiyah di Makassar.&lt;br /&gt;Peristiwa menghebohkan di Sulawesi Selatan itu membuat ruang tahanan Kodim 1408 Makassar penuh sesak. Banyak anggota Pemuda Muhammadiyah ditahan. Bahkan beberapa tokoh seperti Ustadz Ahmad Marzuki Hasan, KH Fathul Mu'in Daeng Maggading, Ustadz M. Arief Marzuki, dan ayahnya sendiri Kiai Abdul Kahar ditahan. Bahkan sampai ada yang dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan hingga diproses ke pengadilan. &lt;br /&gt;Namun, atas saran beberapa ustadz, Muhsin Kahar harus segera pergi dari Makassar dan jangan menyerahkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan Kota Daeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhsin meninggalkan Makassar ke arah selatan menuju daerah Gowa diantar oleh Amir Said dengan sepeda motor.  Pada 30 Agustus 1969 perjalanan dilanjutkan menuju Maros dengan diantar beberapa aktivis Pemuda Muhammadiyah. Akhirnya Muhsin bersama Manshur Salbu tiba di Maros setelah seharian berjalan kaki sejauh 40 km.  &lt;br /&gt;Lalu, pada 30 Agustus, Muhsin dibonceng dengan sepeda motor oleh Mahyuddin Thaha bertolak ke Pare-Pare dengan menempuh jarak 150 km. Muhsin juga mengganti namanya menjadi Abdullah Said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pare Pare yang Penuh Kenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhsin tidak hanya menetap di Pare Pare, ia sempat berkunjung ke Sidrap, dan Sengkang-Wajo, serta ke Pinrang dibonceng sepeda engkol oleh Abdul Fattah, aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Pare-pare. Abdul Fattah akhirnya berubah nama menjadi Abdurrahman Muhammad, yang ternyata kemudian menjadi Pemimpin Umum Hidayatullah.&lt;br /&gt;Selama di Pare Pare, Muhsin ditempatkan di sebuah kamar hotel tua yang tidak terpakai lagi agar tidak mengundang kecurigaan aparat. Hanya ada seorang pemikul air yang kurang normal bernama Marzuki yang sering ngomong tidak karuan. Penempatan ini atas pengaturan Mahyuddin Thaha dan H. Badiu. &lt;br /&gt;Pada saat terkurung di kamar yang hanya ada tumpukan ranjang-ranjang tua berdebu dan sarang laba-laba, ia merasakan tekanan yang menyiksa. Bukan karena sumpeknya kamar, tapi karena tidak bisa berceramah sebagai hobinya sejak kecil. &lt;br /&gt;Namun, di samping rasa sumpek itu, ada ketenangan yang diberikan Allah Swt kepadanya saat melakukan shalat lail (tahajjud). Ada inspirasi dan lintasan ilham yang mengalir deras. Kondisi ini tidak disia-siakan. Ia memanfaatkan waktunya untuk menulis. &lt;br /&gt;Ia mulai berkonsentrasi dan mengingat buku-buku yang dibacanya. Ia hanya ditemani sebuah tafsir Al-Furqan karangan A. Hassan dan beberapa majalah Kiblat yang memuat tulisan Mohammad Natsir secara bersambung tentang Fiqhu Dakwah. Juga mencoba mengingat pengalamannya sebagai muballigh. &lt;br /&gt;Hasilnya, lima buah buku penuh dengan tulisan tentang Metode Dakwah yang Efektif. Sebagai teman diskusi sekaligus melayani kebutuhan yang diperlukannya yakni Manshur Salbu. &lt;br /&gt;Kegiatan menulis berlangsung sampai tempatnya tercium dan digerebek petugas empat bulan kemudian. Tepatnya, Rabu, 24 Desember 1969, pada saat Manshur Salbu ditugaskan ke Makassar. Untung, Muhsin lolos dari sergapan petugas dengan menjatuhkan diri dari ketinggian empat meter lewat jendela lalu meninggalkan tempat itu melalui celah-celah rumah yang padat di kawasan itu.&lt;br /&gt;Sebelum kejadian mengagetkan itu, ia mendengar suara dengan jelas dalam keadaan tidur dan tidak. Ia ingat seperti ada yang membacakan sepotong ayat yang terdapat dalam Surat Yusuf ayat 10 yang berbunyi, ''La taqtulu yusufa ...,(janganlah engkau bunuh Yusuf)!''&lt;br /&gt;Di kala itu ia berjanji dan memasang tekad, ''Kalau memang Allah masih memberi saya umur panjang, di manapun berada akan saya habiskan umur untuk hanya mengurus Islam, tidak mengurus yang lain. Saya anggap umur yang diberikan Allah sesudah ini adalah bonus yang terlalu patut saya syukuri.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan Sulawesi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan-kawan Muhsin segera mengurus kepergiannya. Seperti orang diusir, ia dipaksa naik kapal yang juga tidak tahu tujuannya. Pokoknya, kota mana saja yang dituju kapal, di situlah ia akan berbuat. Di kota ini pulalah kawan-kawan Muhsin mengganti nama Muhsin menjadi Abdullah.&lt;br /&gt;Ternyata, malam itu, 25 Maret 1969, Kapal Motor Ganda Ria yang ditumpanginya bertolak ke Balikpapan. Kapal yang ditumpanginya itu memuat ayam, sapi, dan sayur-sayuran.&lt;br /&gt;Setelah dua hari dua malam diombang-ambingkan gelombang Selat Makassar barulah ia tiba di pelabuhan Kampung Baru. Satu-satunya alamat yang dikenal adalah tempat kerja kakak iparnya, Muchtar Pae, yang bekerja di Kejaksaan Negeri Balikpapan. Ia tiba dengan berpakaian lusuh dan bersandal jepit yang warnanya beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperkenalkan Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga keselamatan Abdullah, kakak iparnya melarangnya berceramah. Namun, kata Abdullah, ''Kayaknya rasa takut saya telah habis pada waktu dalam kejaran ancaman pembunuhan selama empat bulan.''&lt;br /&gt;Suatu waktu pada acara Isra' dan Mi'raj di Karang Anyar, Balikpapan, muballigh yang bertugas mengisi acara tidak hadir. Pihak Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) mencoba menampilkan Abdullah Said (tambahan nama Said setelah tiba di Balikpapan) sebagai gantinya. &lt;br /&gt;Ceramah yang disampaikan Abdullah sangat lancar, padat, bersemangat, dan diselingi humor yang segar.&lt;br /&gt;Sejak itu, nama Abdullah Said mulai populer. Nama Muhsin Kahar yang telah malang melintang di Sulawesi Selatan pelan-pelan tenggelam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggalang Anak Muda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah awal yang dilakukan Abdullah Said dalam mencari kader dengan mengadakan kursus muballigh. Terbukti, setelah kursus berlangsung, banyak anak muda yang tertarik mengikutinya. Ia juga mengadakan berbagai kegiatan Training Center (TC).&lt;br /&gt;Untuk memelihara hasil yang diperoleh dalam TC, ia terus mengadakan pembinaan. Selain itu juga mengadakan pengajian setiap Ahad, yang dinamakan Up-Grading mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin Belajar ke Timur Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah Said mulai berpikir untuk mendirikan sebuah pesantren sebagai pusat pengkaderan da'i. Untuk mewujudkan niatnya itu ia merasakan kurangnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga ia membulatkan tekad untuk menuntut ilmu di Timur Tengah (Kuwait). &lt;br /&gt;Ia pun pergi ke Jakarta untuk mengurus rencana kepergiannya ke Kuwait. Di Jakarta ia bertemu seseorang dari Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) yang memberi nasihat kepadanya. Katanya, ''Bukankah Al-Qur`an yang dipelajari di Kuwait itu juga yang dipelajari di sini? Kalau menurut saran saya kembalilah ke Kalimantan, amalkan ilmu yang kamu miliki. Orang-orang di Kalimantan sekarang sangat memerlukan pembinaan. Siapa yang berdosa kalau harus menunggu pintarnya dulu baru beramal. Insya Allah, Dia akan menambah ilmu yang kamu rasakan sangat kurang itu manakala kamu mengamalkannya.''&lt;br /&gt;Akhirnya setelah dipertimbangkan, Abdullah Said mengikuti nasehat orang tua itu, yang sampai akhir hayatnya tak mengetahui siapa orang tersebut sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memboyong Tenaga Pengajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah Said lalu mengunjungi rekannya, Usman Palese, yang sedang belajar di Akademi Tarjih Muhammadiyah, untuk pulang ke Kalimantan. Sebelum pulang, ia juga sempat berceramah di Masjid At-Taqwa, Jakarta, milik Muhammadiyah. Ceramah tersebut membuat banyak anak muda terpesona dan terpengaruh sehingga ikut ke Balikpapan. &lt;br /&gt;Setelah tiba di Balikpapan, murid-muridnya menyambut dengan gembira. Pasalnya, sang guru, Abdullah Said datang dengan membawa tenaga-tenaga pengajar untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memulai Kegiatan Pesantren&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan belajar mengajar bertempat di Gunung Sari, rumah H Muhammad Rasyid. Satu demi satu santri mulai berdatangan. Lalu pada 1 Muharram 1393 atau 26 Januari 1974 mereka hijrah ke Karang Rejo. Meski tempat ini berupa gubuk yang tidak layak dan jauh dari tetangga, tapi mereka tetap yakin, sabar, dan tawakal. Di tempat ini mereka tinggal 11 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memulai Sejarah Baru &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Karang Bugis mereka tinggal di sebuah emperan rumah milik seorang yang bernama Baba. Tempat ini dipakai untuk belajar sekaligus tempat tidur. Sementara empat kader putri yang setia mengikuti ditempatkan di sebuah rumah pinjaman. Salah satunya, Aida Chered, yang kemudian menjadi istri Abdullah Said. (Dari pernikahannya ini ia dikaruniai 7 anak: Saidah Abdullah Said, Ulfiah Su’adah Abdullah Said, Hizbullah Abdullah Said, Nashrullah Abdullah Said, Fathun Qorib Abdullah Said, Maftuhah Abdullah Said, dan Muntadzirizzaman Abdullah Said).&lt;br /&gt;Akhirnya, mujahadah mereka membuahkan hasil. Seorang tokoh masyarakat, H. Andi Kadir Mappasossong, mewakafkan tanahnya seluas 0,5 hektar. Setelah tiga tahun, untuk pertamakalinya Pesantren Hidayatullah memiliki sebidang tanah. Bangunan yang pertama kali diwujudkan adalah mushalla.&lt;br /&gt;Di tempat inilah setapak demi setapak mereka mulai mewujudkan rencananya. Dan, program-program pengembangan semakin padat dan nyata, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuka Gunung Tembak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi Karang Bugis yang sedemikian sempit, maka Abdullah Said berpikir keras untuk mendapatkan lokasi yang lebih luas.  Setelah melakukan penjajakan, akhirnya pengurus pesantren menemukan tempat yang dianggap cocok. Lalu mereka bersama Walikota Balikpapan, H. Asnawie Arbain, menemui pemilik tanah. Lokasi seluas 5,4 ha ini diserahkan secara resmi oleh pemiliknya, Darman, pada 5 Maret 1976.  &lt;br /&gt;Saat mengetahui tanah itu untuk pesantren, orang tua itu menangis haru. Setelah pesantren sudah ramai dipenuhi santri yang berpakaian putih berduyun-duyun menuju tempat shalat, orang tua itu berkata kepada Abdullah Said, ''Sudah dua tahun lamanya saya bermimpi didatangi orang berpakaian putih dengan muka bercahaya. Sejak itu saya tidak pernah lagi makan nasi. Saya hanya makan buah-buahan dan minum air putih. Saya juga tidak tahu mengapa berbuat demikian. Hanya dalam hati saya ada perasaan bahwa ini pasti kebaikan yang akan muncul di tempat ini.'' *Manshur Salbu, Dadang Kusmayadi/Suara Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihwal 3&lt;br /&gt;Mutiara Berserak dari Sang Pelopor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pepatah berbunyi, “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama.”  Namun meninggalnya orang-orang shaleh, memiliki dimensi lebih dari sekadar warisan nama dan benda.&lt;br /&gt;Di bawah ini butiran-butiran mutiara (hikmah) dari Allahu yarham Ustadz Abdullah Said, pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kader&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasakan serta nikmati hal-hal yang tidak menyenangkan dalam perjuangan, maka akan mendapat kekuatan di dalam jiwa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah dan Kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keberhasilan dakwah seorang muballigh tidak ditentukan oleh banyaknya tepuk tangan dan pujian-pujian.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada kekeliruan yang sangat fatal di kalangan umat, bahwa Nabi Muhammad memilih hidup miskin itu diterjemahkan dengan hidup ideal yang islami adalah yang merana dan sengsara.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika nilai agama hanya diajarkan sebagai ilmu pengetahuan, tanpa diantar pada wujud pelaksanaan, itu merupakan suatu bencana besar yang menimpa umat Islam. Lebih besar bahayanya daripada gempa bumi yang  menewaskan sekian jumlah orang dan menimbulkan kerugian miliaran rupiah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dakwah yang lebih didengar adalah dakwah yang didukung oleh pembuktian nyata, berupa peragaan dan praktik di lapangan pada diri dan keluarga.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena ketidakjelasan manhaj, kadang-kadang dakwah Islam tidak lebih sekadar hura-hura.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dakwah bukanlah pekerjaan ringan, karenanya Allah tidak menitip amanah ini kepada sembarang orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di atas kesulitan-kesulitan yang kita hadapi di lapangan perjuangan, ada janji-janji Allah yang sangat menggiurkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setetes hidayah dari Allah, jauh lebih berarti dari berjilid-jilid buku yang ditulis oleh seorang penulis paling terkenal sekalipun.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ukuran sederhana keimanan seorang mukmin, dapat diketahui lewat kadar cintanya kepada Tuhan melebihi cintanya kepada yang lain.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidup sengsara adalah pabrik yang paling produktif untuk lahirnya ide-ide brilian.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persatuan dan Jamaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan sampai kita terlalu memacu program pelayanan dan pengembangan lembaga, sementara kondisi barisan (shaf) dan jamaah dalam keadaan morat-marit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perputaran Roda Zaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan hanya kagum dengan membaca sejarah yang telah dilakukan  Nabi dan sahabat-sahabatnya, serta kecemerlangan pejuang-pejuang Islam di belakang beliau. Tapi kita juga harus berbuat sesuatu yang pantas dicatat sejarah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Muballigh adalah seperti anak panah yang meluncur mencari sasaran. Jika muballigh melenceng niatnya, jangan harap akan berhasil memperbaiki umat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapa tragisnya, kalau hanya untuk mendapatkan pengakuan sebagai orang yang berjasa, lantas kita korbankan kekayaan yang kita miliki. Yakni keikhlasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang dibutuhkan yunior dari para seniornya adalah keteladanan, bukan perasaan ingin diistimewakan. Perlakuan sebagai  orang yang istimewa, dapat melumpuhkan proses kaderisasi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah memang Maha Pengampun, tetapi bukan berarti kita boleh seenaknya melakukan dosa.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahadat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syahadat yang ideal adalah syahadat yang melahirkan kekuatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sadar akan beratnya tugas khalifah, mestinya mendorong kita memperoleh kekuatan tambahan dengan meningkatkan mutu ibadah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang bersyahadat tidak memerlukan apa yang orang umumnya kejar, dengan sangat mabuk dan penuh kegilaan, siang dan malam. Mereka sudah melampaui tahapan-tahapan seperti itu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus dan Kehidupan Islami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alangkah sayang dan ruginya kita membikin kampus (pesantren) dimana-mana, kalau kehidupan yang ada di dalamnya sama dengan kehidupan di luar kampus.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita dikucilkan orang karena kita tidak berqur’an, maka kita tidak  diberi kekuasaan karena kita jauh dari Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Faktor utama yang membuat kita tinggal di buntut-buntut peradaban dunia adalah karena kita tinggalkan Al-Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang paling aniaya adalah mereka yang tahu Qur’an itu nyata-nyata wahyu, tapi ditolak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelum memulai langkah dakwah, yang pertama-tama harus diselesaikan adalah mengimani Al-Qur’an sebagai konsepsi kebenaran mutlak satu-satunya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seseorang pada saat tidak berada dalam bimbingan Allah, maka dia akan dijadikan (dibimbing) syetan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berjuang di jalan Allah adalah salah satu cara mengharapkan perlindungan Allah Swt dari ganasnya serbuan syetan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat Lail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagi mereka yang pernah melakukan shalat lail tentu merasakan dan mengakui adanya pertarungan yang sangat seru dan sengit dalam menghadapi godaan syetan dan pengaruh nafsu yang luar biasa kuatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah, dia akan mendapatkan rezeki yang banyak dan kehidupan yang lapang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman dan Nafsu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perlawanan orang-orang yang beriman atas kaum tiran, menjadi dekorasi sejarah yang membuat hidup ini menjadi indah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ciri khas dari keberadaan iman adalah tidak mungkin mentolerir bentuk-bentuk kebatilan, bagaimanapun dia dipercantik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada dasarnya iman bergerak atas dasar kerinduan kepada Allah, sedangkan nafsu bergerak atas dasar ambisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akibat perjuangan yang digerakkan oleh hawa nafsu, bukan kemenangan yang yang didapatkan sesuai janji Allah. Bahkan modal kekuatan yang sekian lama menjadi kebanggaan pun lenyap, bertukar dengan rasa takut, cemas dan khawatir.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Format serta model orang yang bekerja karena iman, sudah ada ukurannya dalam Al-Qur’an. Hasil serta ujungnya pasti ada kesamaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya bagi mereka yang merindukan Allah, yang sangat mengharapkan perjumpaan dengan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mungkin ada iman yang mengalah dan menyerah pasrah lalu diam dan berpangku tangan tanpa berbuat apa-apa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iman bukan suatu yang pasif dan netral, ia selalu aktif dan menghasilkan hal-hal positif.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat dan Do’a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berdoa berbeda dengan membaca doa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Usai bertemu dengan Allah (shalat), hendaknya menghasilkan dua hal: semakin bertambah keyakinannya, dan siap melakukan tugas-tugas sebagai khalifatullah fil ardi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat nyaris ‘tidak ada gunanya’ bagi mereka yang tidak melaksanakan tugas tugas kekhalifahan di muka bumi.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; * Ali Athwa/Suara Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aida Chered (istri almarhum Ustadz Abdullah Said)&lt;br /&gt;Beliau Sosok Romantis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuannya saya dengan almarhum adalah sebuah anugerah dari Allah . Jalinan rumah tangga dengan beliau telah mengubah pandangan saya terhadap kehidupan. Pemahaman keislaman saya semakin bertambah, dan saya menemukan tujuan hidup yang hakiki.&lt;br /&gt;Perkenalan saya dengan beliau diawali di sebuah acara pernikahan. Saat itu saya berusia 23 tahun. Ketika memberi khutbah nikah, banyak yang terkesima dengan materi yang disampaikannya. Saya penasaran untuk terus mengikuti pengajian-pengajian beliau. &lt;br /&gt;Puncaknya ketika saya meninggalkan pekerjaan di Dinas Kesehatan Kota (DKK) untuk bergabung dengan beliau. Ketika itu kegiatan kami hanya belajar. Saya rela meninggalkan pekerjaan karena sudah lama ingin meningkatkan pemahaman keislaman. &lt;br /&gt;Setelah dua tahun mengikuti pengajian tersebut, akhirnya saya dipersunting oleh beliau. Sejak itu, saya merasakan perubahan drastis dalam hidup sebagai seorang Muslimah. Sebagai seorang istri, saya harus siap mendampinginya dalam suka dan duka. Kebahagiaan saya saat itu bukan karena pelayanan istimewa dan berbagai fasilitas untuk sang suami, karena saat itu belum ada apa-apa. Makan saja susah. Tapi karena saya telah menemukan makna hidup, perjuangan yang kami jalani terasa nikmat, sehingga hampir tak terasa dukanya.&lt;br /&gt;Untuk menambah pemahaman tentang perjuangan, saya senantiasa menyimak dengan serius setiap kali beliau memberikan pengajian. Ya, kadang-kadang saya itu disindir melalui ceramah. Maklum, beliau sangat sibuk, jadi kadang-kadang tidak sempat memberikan nasehat secara langsung.&lt;br /&gt;Meski memiliki mobilitas tinggi, tapi bagi saya beliau adalah sosok yang romantis. Ia sangat perhatian kepada istri. Demikian juga ketika telah mempunyai buah hati. Beliau tidak luput memperhatikan perkembangan anak-anak. &lt;br /&gt;Dalam hal shalat, misalnya, beliau sangat tegas. Beliau meminta untuk meninggalkan semua kegiatan dan segera mempersiapkan anak-anak untuk menunaikan shalat. Bahkan kalau ada tamu pun beliau minta untuk meninggalkan dulu tamu tersebut.&lt;br /&gt;Saya sangat bersyukur meski waktu yang tersedia untuk anak-anak sangat sedikit, tapi beliau berusaha untuk bercengkrama dan bercanda dengan buah hatinya. Sekarang, saya tidak punya pola pendidikan secara khusus untuk pendidikan anak-anak. Tapi saya senantiasa memperkuat do’a agar anak-anak tumbuh sebagai anak yang shaleh dan shalehah. *Mujahid/Suara Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Atika, Juru masak awal di Gunung Tembak&lt;br /&gt;Selalu Makan Bersama Santri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Abdullah said sosok yang sangat pemberani. Ketika menumpang di rumah saya di Gunung Sari, beliau sempat dicari-cari polisi, tapi selalu luput. Setiap kali para polisi pulang, beliau kembali mengadakan pengajian yang berpindah-pindah, yang diikuti sekitar 30-an pemuda yang setia mengikuti pengajiannya. &lt;br /&gt;Ketika hijrah ke Gunung Tembak, beliau selalu menikmati sajian yang disediakan, apa pun menunya. &lt;br /&gt;Satu hal yang selalu terkenang oleh saya, beliau tidak pernah mau makan sendiri, ia selalu bergabung dengan para santri atau memanggil orang untuk makan bersamanya. &lt;br /&gt;Demikian juga dalam memperlakukan orang lain, beliau selalu menyapa siapa saja, sehingga semua merasa diperhatikan. Beliau sangat perhatian kepada santrinya termasuk soal-soal yang kecil. &lt;br /&gt;Misalnya, beliau kerap meminta saya membagikan sabun kepada para santri yang diletakkan di mangkuk-mangkuk kecil, lalu diletakkan di depan kamar masing-masing. *Mujahid/Suara Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thoriqul Fajr, Pendamping Bagian Kerumahtanggaan.&lt;br /&gt;Beliau Seorang Humoris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau seorang yang humoris, sehingga saya merasa senang mendampingi beliau. Beliau pernah memarahi saya, tapi kemarahan itu tidak membuat saya kesal, karena setelah itu selalu dibawa bercanda.&lt;br /&gt;Pernah suatu kali, saya memakai sepatu dengan merek terkenal dan lumayan mahal harganya. Sepatu saya itu sama dengan yang digunakan beliau. Lalu beliau pun menegur saya. &lt;br /&gt;“Bagus juga sepatumu Thoriq?” &lt;br /&gt;“Ah tidak Ustad, sama saja dengan sepatunya Ustadz.” Beliau tidak bisa menahan tawanya, lalu berkata, “Kalau saya kan dikasih orang.”&lt;br /&gt;Rupanya sikap dan gaya saya merupakan hiburan tersendiri bagi beliau. Sampai akhirnya saya pun dinikahkan dengan keponakannya. *Mujahid/Suara Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-7106092643307613988?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/7106092643307613988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=7106092643307613988' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/7106092643307613988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/7106092643307613988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/12/jejak-penuh-hikmah_08.html' title='Jejak Penuh Hikmah'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-3733875087196455474</id><published>2007-12-08T23:32:00.000-08:00</published><updated>2007-12-08T23:34:51.759-08:00</updated><title type='text'>Jejak Penuh Hikmah</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Syahadat yang ideal adalah syahadat yang melahirkan kekuatan.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Di atas kesulitan-kesulitan yang kita hadapi di lapangan perjuangan, ada janji-janji Allah yang sangat menggiurkan.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Shalat itu bukan sekadar gerakan ritual semata. Di sana kita mengisi daftar usulan proyek, di sana kita meminta.''&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;''Jangan hanya kagum dengan membaca sejarah yang telah dilakukan Nabi dan sahabat-sahabatnya, serta kecemerlangan pejuang-pejuang Islam di belakang beliau. Tapi kita juga harus berbuat sesuatu yang pantas dicatat sejarah.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan di atas hanya sekadar menyegarkan kembali ingatan kita terhadap sosok almarhum Ustadz Abdullah Said, pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah dan juga pendiri majalah Suara Hidayatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Laporan Utama kali ini, dalam rangka Milad majalah Suara Hidayatullah yang ke-19. kami mencoba tampil sedikit berbeda. Kami akan merekam kembali jejak penuh hikmah sosok Abdullah Said, termasuk nukilan buku berjudul KH Abdullah Said, Pokok-pokok Pikiran, Kiprah dan Perjuangannya karya Ust Manshur Salbu. &lt;br /&gt;Rekaman tersebut akan kami tampilkan dalam 10 halaman. Kami yakin ada banyak teladan dan hikmah yang bisa diambil dari rekaman tersebut. Selamat mengikuti!  *Dadang Kusmayadi, Mahladi/Suara Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan 2: 5 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekam Jejak Sang Pelopor &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan di Jakarta pada 17 Agustus 1945, jauh di pelosok Sulawesi Selatan, tepatnya di Desa Lamatti Rilau, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, lahirlah seorang anak dari ibu bernama Aisyah. Anak tersebut kemudian diberi nama Muhsin Kahar.&lt;br /&gt;Muhsin adalah anak ketiga dari empat bersaudara: Junaid Kahar, Lukmanul Hakim Kahar, dan As'ad Kahar. Ayahnya, Kiai Abdul Kahar Syuaib adalah ulama kharismatik di Kampung Lamatti. Sang ayah lebih populer di kalangan masyarakat dengan sebutan Puang Imang (panggilan kehormatan kepada Imam di kampung) karena cukup lama menjadi imam di kampung. &lt;br /&gt;Ketika masih dalam kandungan, Muhsin telah menjadi bahan perbincangan di kalangan keluarga. Sebab, usia kandungan ibunya sudah mencapai dua tahun, namun sang anak belum juga lahir. &lt;br /&gt;Hanya ayahnya yang selalu mengingatkan sang ibu agar tetap bersabar menunggu kelahirannya sampai kapan pun yang dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta'ala (Swt). &lt;br /&gt;Ketika usia kandungan memasuki tahun kedua timbul tanggapan miring bahwa mungkin yang dikandung itu bukan manusia. Mungkin buaya atau entah apa. &lt;br /&gt;Sang ayah marah besar mendengar tanggapan miring seperti itu. Ada keyakinan dalam hati sang ayah bahwa anak yang dikandung itu kelak justru akan menjadi orang hebat. &lt;br /&gt;Akhirnya bayi yang tadinya mencurigakan itu lahir dalam keadaan normal dan sehat layaknya bayi-bayi pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah ke Makassar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampung halamannya Muhsin sekolah sampai kelas III (1952-1954). Ia kemudian harus meninggalkan tempat kelahirannya tercinta karena harus mengikuti sang ayah pindah ke Makassar.&lt;br /&gt;Hati Muhsin merasa berat. Betapapun bersahajanya kampung itu, baginya banyak kenangan indah yang tidak mudah dilupakan. Desanya yang terletak di dataran tinggi dengan pepohonan yang rimbun selalu mengalirkan kesejukan. Apalagi jika memandang hamparan pulau-pulau di perairan Teluk Bone, memberi energi tersendiri dalam jiwanya. &lt;br /&gt;Kehidupan yang dijalaninya pada awal tiba di Makassar sangat memprihatinkan. Maklum, orang tuanya tdak mempunyai pekerjaan yang mendatangkan banyak uang. Ia hanya imam sebuah masjid di Kampung Malimongan Baru. Sesekali, sang ayah memberi tuntunan agama kepada jamaah masjid itu. &lt;br /&gt;Untunglah sang ibu sangat giat mencari nafkah untuk membantu membiayai anak-anak sekolah. Praktis, meskipun jauh dari memadai, kebutuhan keluarga itu tercukupi.&lt;br /&gt;Di Makassar itu Muhsin banyak menyaksikan orang mabuk-mabukan dan berteriak dengan kata-kata yang tidak sedap. Sering juga terjadi perkelahian antara kelompok anak muda yang hanya disebabkan persoalan sepele. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pindah ke Makassar, Muhsin meneruskan sekolah di kota itu. Ia diterima di kelas IV SD (dulu Sekolah Rakyat) No 30. Di SD ini ia selalu menjadi bintang kelas karena menguasai seluruh mata pelajaran termasuk menggambar. Bahkan ia pernah menjuarai lomba menggambar antar Sekolah Dasar se-Kota Besar Makassar.  Ia juga sering ditugaskan gurunya menyalin pelajaran di papan tulis.&lt;br /&gt;Ketika mengikuti ujian akhir SD, ia mendapat nilai tertinggi sehingga memungkinkan memilih sekolah favorit. Ia tidak memilih sekolah umum tapi sekolah agama yakni Pendidikan Guru Agama Negeri 6 Tahun (PGAN 6 Tahun). Ia memilih sekolah ini karena di samping mempelajari agama juga termasuk sekolah yang didambakan sebagai satu-satunya Pendidikan Guru Agama milik pemerintah di Indonesia Timur.&lt;br /&gt;Di sini yang diterima hanya murid-murid yang berprestasi. Di sisi lain, sangat menguntungkan bagi orang-orang yang tidak mampu dari segi biaya. Siswa di sekolah ini setiap bulan mendapat tunjangan ikatan dinas (ID). Muhsin sangat senang karena sedikit mampu meringankan beban orang tuanya.&lt;br /&gt;Di sekolah ini juga ia terkenal sebagai siswa yang pandai berpidato. Ia juga selalu ditunjuk menjadi ketua kelas. Dalam berbagai pertemuan ia dipercaya untuk memimpin. Ia dikenal sebagai siswa berpengetahuan luas karena sangat rajin membaca. Tunjangan ID-nya setiap bulan tidak bersisa. Semuanya dibelikan buku. &lt;br /&gt;Ini berbeda dengan teman-temannya yang lebih suka membeli baju demi penampilan. Maklum, di sekolah itu bercampur antara pria dan wanita. &lt;br /&gt;Muhsin memang kurang perhatian terhadap penampilan. Ia tidak malu-malu menggunakan sarung ke sekolah kalau celananya sedang dicuci. Teman-temannya sering sinis melihat kebiasaan tak lazim itu. Tapi ia cuek saja. Lagi pula peraturan soal pakaian belum seketat sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan Bangku Kuliah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhsin lulus dari PGAN 6 Tahun dengan nilai memuaskan. Karena prestasi itu ia langsung mendpat tugas belajar di IAIN Alauddin, Makassar.  &lt;br /&gt;Muhsin sempat menjalankan tugas belajar tersebut. Namun hanya bertahan satu tahun. Ia berhenti kuliah. Alasannya, ia merasa tidak memperoleh tambahan ilmu yang berarti. Ia telah membaca semua materi kuliah yang diberikan dosen. &lt;br /&gt;Muhsin berkesimpulan bahwa kalau duduk beberapa tahun di bangku kuliah akan banyak menyita waktu dan energi, sementara hasilnya tidak seimbang dengan yang telah dikorbankan.  &lt;br /&gt;Hati Muhsin terusik juga ketika teman-teman kuliahnya menganggapnya sombong. Tapi prinsipnya tetap dipegang teguh. Menurutnya, kuliah banyak menyia-nyiakan waktu untuk ngobrol ngalor-ngidul antara mahasiswa dan mahasiswi. Yang diobrolkan pun tidak ada hubungannya dengan perkuliahan. Bahkan mengarah pada hal-hal yang tidak wajar dibicarakan. &lt;br /&gt;Karena itu Muhsin berpendapat lebih aman jika berhenti kuliah dan aktif berorganisasi, belajar langsung kepada ulama, giat berdakwah, dan gencar membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Lewat Bacaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak ada rapat organisasi, Muhsin pergi ke tempat favoritnya, yakni toko buku. Beberapa toko buku di Makassar kala itu, seperti Hidayat Book Store, toko Buku Rakyat, Assagaf dan Aloha, menjadi langganannya. &lt;br /&gt;Ia sedih bila buku yang diminatinya tidak bisa dibeli karena uang yang dimilikinya tidak cukup. Saat itulah ia meminta kepada pemilik toko untuk menyimpan buku itu untuknya, sambil ia berusaha mencari uang untuk menebusnya. &lt;br /&gt;Beruntung karyawan toko buku umumnya telah mengenal Muhsin sebagai ''si kutu buku'', sehingga mereka tidak keberatan. Kegemaran seperti itu terus berlanjut kendati telah tampil menjadi muballigh muda favorit. Hampir setiap pekan ia tampak di toko buku, menghabiskan sebagian honor dakwahnya untuk belanja buku.&lt;br /&gt;Ketika telah menjadi pimpinan Pesantren Hidayatullah kegiatan membacanya  semakin tinggi. Untuk membeli sekian banyak buku ia rela mengeluarkan uang sampai jutaan rupiah. Ketika waktu kembali ke Balikpapan dengan menumpang kapal PELNI, buku yang diboyongnya sampai berkardus-kardus.&lt;br /&gt;Menariknya, buku-buku yang ia beli bukan melulu tentang agama tapi termasuk buku-buku manajemen, seperti buku tulisan Sondang P. Siagian. Buku pengembangan diri seperti karangan Dale Carnegie, Napoleon Hill, Norman Vincent Peale, David J.Schwartz, Herbert N. Casson, Stephen R. Covey, Gloria Steinem, John Naisbit, dan Alvin Toffler pun dibeli. Buku jurnalistik, ilmu pernapasan, pijat refleksi juga dibelinya.&lt;br /&gt;Setiap hari ia membaca tiga surat kabar ibu kota: Harian Merdeka, Kompas, dan Sinar Harapan, ditambah surat kabar lokal, Manuntung dan Suara Kaltim. Majalah Tempo, Gatra, Editor, Forum Keadilan, Topik, Panji Masyarakat, Kartini, termasuk majalah Trubus dan Asri tak luput dibacanya. Apalagi waktu menulis naskah Kajian Utama di majalah Suara Hidayatullah, gairah membacanya semakin besar. &lt;br /&gt;Selain membaca buku, ia juga sering mengikuti siaran radio BBC London, Voice Of America, radio Australia, dan RRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Lewat Masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya sering mengajaknya melaksanakan shalat berjamaah dan mendengarkan ceramah di berbagai masjid. Ajakan tersebut baginya mengandung hikmah besar. Karena, di samping menjadi kebiasaan melaksanakan shalat berjamaah, juga dapat menimba ilmu dari ulama-ulama yang memberi pelajaran setiap ba'da Maghrib dan Shubuh.&lt;br /&gt;Ia belajar pada ulama-ulama terkenal, seperti KH Abdul Djabbar Asyiri, yang melatihnya menghafal dan memahami hadits-hadits. Sementara Ustadz Abdul Malik Ibrahim membimbing dasar-dasar bahasa Arab. &lt;br /&gt;Dan, yang mendorongnya lebih giat menggali Al-Qur`an adalah KH Ahmad Marzuki Hasan, yang masih saudara sepupu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Lewat Pergaulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menimba ilmu pengetahuan ia juga memanfaatkan pergaulan dengan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Ia merasa dapat mengembangkan cakrawala berpikir dan mendapat banyak masukan yang diperlukan lewat pertemuan dan diskusi tersebut.&lt;br /&gt;Ia juga bergaul akrab dengan orang-orang seperti Emil Salim, Amin Rais, Adi Sasono, Erna Witular, Nafsiah Mboi Walinono, dan Abbas Muin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggeluti Organisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keranjingannya berorganisasi tidak tanggung-tanggung. Setiap organisasi yang dimasukinya ia selalu memegang jabatan yang ia minati, yakni dakwah dan pengkaderan.&lt;br /&gt;Ketika duduk di bangku PGAN 6 Tahun, ia memilih organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Ia duduk sebagai pengurus ranting di sekolahnya dan seterusnya ke tingkat wilayah.&lt;br /&gt;Sementara organisasi pemuda yang digelutinya yakni Pemuda Muhammadiyah. Ia menjadi pengurus dari tingkat cabang hingga wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra) periode 1966-1968.&lt;br /&gt;Pada masa pengganyangan G30S/PKI ia bergabung dengan Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia (KAPPI). Ia juga aktif dalam latihan militer ketika terbentuk Komando Keamanan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM).&lt;br /&gt;Ia melibatkan diri dan menjadi pengurus Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) di kota Makassar. Parmusi ini diharapkan sebagai penjelmaan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Namun, rupanya Masyumi pun dilarang oleh pemerintah. Sejak itu Muhsin kecewa melihat sikap pemerintah. Ia tidak lagi meneruskan kegiatannya dalam partai. Akhirnya, ia kembali menggeluti dunia dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menambah Ilmu di Jawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pendidikan muballigh di Makassar, Muhsin berangkat ke Surabaya bersama Usman Palese. Mereka sempat belajar sebentar di Pondok Modern Gontor, lalu pindah ke PERSIS Bangil. Di sini juga hanya bertahan tiga bulan.&lt;br /&gt;Muhsin lebih banyak berdiskusi dengan Ustadz Mansyur Hasan. Bahkan sering ditugaskan membawakan khutbah Jum'at dan ceramah di Masjid Persis. Muhsin juga senang berdiskusi masalah hukum dan politik serta hal-hal yang menyentuh agama dengan sepupunya, Jaksa Arsyad Hasan, SH.&lt;br /&gt;Lalu ia meninggalkan Surabaya menuju Jakarta. Di Jakarta, ia bersama Ustadz As'ad El-Hafidy membuka kursus muballigh. Cukup berhasil. Muballigh-muballighat muda banyak yang lahir dari kursus ini.&lt;br /&gt;Muhsin lalu kembali ke Makassar dan bergabung dengan Ustadz Ahmad Marzuki Hasan di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah. Ia aktif melakukan pengaderan dengan anak-anak muda binaan Ustadz Ahmad Marzuki Hasan dalam upaya pemberantasan kemaksiatan yang tengah marak di kota Makassar dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengganyang Judi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa penghancuran tempat perjudian di Makassar terjadi pada 28 Agustus 1969. Sehari sebelumnya, rencana penghancuran diarahkan langsung oleh Muhsin Kahar dan Mahyuddin Thaha. Peristiwa ini melibatkan para pemuda Muhammadiyah di Makassar.&lt;br /&gt;Peristiwa menghebohkan di Sulawesi Selatan itu membuat ruang tahanan Kodim 1408 Makassar penuh sesak. Banyak anggota Pemuda Muhammadiyah ditahan. Bahkan beberapa tokoh seperti Ustadz Ahmad Marzuki Hasan, KH Fathul Mu'in Daeng Maggading, Ustadz M. Arief Marzuki, dan ayahnya sendiri Kiai Abdul Kahar ditahan. Bahkan sampai ada yang dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan hingga diproses ke pengadilan. &lt;br /&gt;Namun, atas saran beberapa ustadz, Muhsin Kahar harus segera pergi dari Makassar dan jangan menyerahkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan Kota Daeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhsin meninggalkan Makassar ke arah selatan menuju daerah Gowa diantar oleh Amir Said dengan sepeda motor.  Pada 30 Agustus 1969 perjalanan dilanjutkan menuju Maros dengan diantar beberapa aktivis Pemuda Muhammadiyah. Akhirnya Muhsin bersama Manshur Salbu tiba di Maros setelah seharian berjalan kaki sejauh 40 km.  &lt;br /&gt;Lalu, pada 30 Agustus, Muhsin dibonceng dengan sepeda motor oleh Mahyuddin Thaha bertolak ke Pare-Pare dengan menempuh jarak 150 km. Muhsin juga mengganti namanya menjadi Abdullah Said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pare Pare yang Penuh Kenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhsin tidak hanya menetap di Pare Pare, ia sempat berkunjung ke Sidrap, dan Sengkang-Wajo, serta ke Pinrang dibonceng sepeda engkol oleh Abdul Fattah, aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Pare-pare. Abdul Fattah akhirnya berubah nama menjadi Abdurrahman Muhammad, yang ternyata kemudian menjadi Pemimpin Umum Hidayatullah.&lt;br /&gt;Selama di Pare Pare, Muhsin ditempatkan di sebuah kamar hotel tua yang tidak terpakai lagi agar tidak mengundang kecurigaan aparat. Hanya ada seorang pemikul air yang kurang normal bernama Marzuki yang sering ngomong tidak karuan. Penempatan ini atas pengaturan Mahyuddin Thaha dan H. Badiu. &lt;br /&gt;Pada saat terkurung di kamar yang hanya ada tumpukan ranjang-ranjang tua berdebu dan sarang laba-laba, ia merasakan tekanan yang menyiksa. Bukan karena sumpeknya kamar, tapi karena tidak bisa berceramah sebagai hobinya sejak kecil. &lt;br /&gt;Namun, di samping rasa sumpek itu, ada ketenangan yang diberikan Allah Swt kepadanya saat melakukan shalat lail (tahajjud). Ada inspirasi dan lintasan ilham yang mengalir deras. Kondisi ini tidak disia-siakan. Ia memanfaatkan waktunya untuk menulis. &lt;br /&gt;Ia mulai berkonsentrasi dan mengingat buku-buku yang dibacanya. Ia hanya ditemani sebuah tafsir Al-Furqan karangan A. Hassan dan beberapa majalah Kiblat yang memuat tulisan Mohammad Natsir secara bersambung tentang Fiqhu Dakwah. Juga mencoba mengingat pengalamannya sebagai muballigh. &lt;br /&gt;Hasilnya, lima buah buku penuh dengan tulisan tentang Metode Dakwah yang Efektif. Sebagai teman diskusi sekaligus melayani kebutuhan yang diperlukannya yakni Manshur Salbu. &lt;br /&gt;Kegiatan menulis berlangsung sampai tempatnya tercium dan digerebek petugas empat bulan kemudian. Tepatnya, Rabu, 24 Desember 1969, pada saat Manshur Salbu ditugaskan ke Makassar. Untung, Muhsin lolos dari sergapan petugas dengan menjatuhkan diri dari ketinggian empat meter lewat jendela lalu meninggalkan tempat itu melalui celah-celah rumah yang padat di kawasan itu.&lt;br /&gt;Sebelum kejadian mengagetkan itu, ia mendengar suara dengan jelas dalam keadaan tidur dan tidak. Ia ingat seperti ada yang membacakan sepotong ayat yang terdapat dalam Surat Yusuf ayat 10 yang berbunyi, ''La taqtulu yusufa ...,(janganlah engkau bunuh Yusuf)!''&lt;br /&gt;Di kala itu ia berjanji dan memasang tekad, ''Kalau memang Allah masih memberi saya umur panjang, di manapun berada akan saya habiskan umur untuk hanya mengurus Islam, tidak mengurus yang lain. Saya anggap umur yang diberikan Allah sesudah ini adalah bonus yang terlalu patut saya syukuri.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan Sulawesi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan-kawan Muhsin segera mengurus kepergiannya. Seperti orang diusir, ia dipaksa naik kapal yang juga tidak tahu tujuannya. Pokoknya, kota mana saja yang dituju kapal, di situlah ia akan berbuat. Di kota ini pulalah kawan-kawan Muhsin mengganti nama Muhsin menjadi Abdullah.&lt;br /&gt;Ternyata, malam itu, 25 Maret 1969, Kapal Motor Ganda Ria yang ditumpanginya bertolak ke Balikpapan. Kapal yang ditumpanginya itu memuat ayam, sapi, dan sayur-sayuran.&lt;br /&gt;Setelah dua hari dua malam diombang-ambingkan gelombang Selat Makassar barulah ia tiba di pelabuhan Kampung Baru. Satu-satunya alamat yang dikenal adalah tempat kerja kakak iparnya, Muchtar Pae, yang bekerja di Kejaksaan Negeri Balikpapan. Ia tiba dengan berpakaian lusuh dan bersandal jepit yang warnanya beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperkenalkan Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga keselamatan Abdullah, kakak iparnya melarangnya berceramah. Namun, kata Abdullah, ''Kayaknya rasa takut saya telah habis pada waktu dalam kejaran ancaman pembunuhan selama empat bulan.''&lt;br /&gt;Suatu waktu pada acara Isra' dan Mi'raj di Karang Anyar, Balikpapan, muballigh yang bertugas mengisi acara tidak hadir. Pihak Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) mencoba menampilkan Abdullah Said (tambahan nama Said setelah tiba di Balikpapan) sebagai gantinya. &lt;br /&gt;Ceramah yang disampaikan Abdullah sangat lancar, padat, bersemangat, dan diselingi humor yang segar.&lt;br /&gt;Sejak itu, nama Abdullah Said mulai populer. Nama Muhsin Kahar yang telah malang melintang di Sulawesi Selatan pelan-pelan tenggelam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggalang Anak Muda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah awal yang dilakukan Abdullah Said dalam mencari kader dengan mengadakan kursus muballigh. Terbukti, setelah kursus berlangsung, banyak anak muda yang tertarik mengikutinya. Ia juga mengadakan berbagai kegiatan Training Center (TC).&lt;br /&gt;Untuk memelihara hasil yang diperoleh dalam TC, ia terus mengadakan pembinaan. Selain itu juga mengadakan pengajian setiap Ahad, yang dinamakan Up-Grading mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin Belajar ke Timur Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah Said mulai berpikir untuk mendirikan sebuah pesantren sebagai pusat pengkaderan da'i. Untuk mewujudkan niatnya itu ia merasakan kurangnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga ia membulatkan tekad untuk menuntut ilmu di Timur Tengah (Kuwait). &lt;br /&gt;Ia pun pergi ke Jakarta untuk mengurus rencana kepergiannya ke Kuwait. Di Jakarta ia bertemu seseorang dari Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) yang memberi nasihat kepadanya. Katanya, ''Bukankah Al-Qur`an yang dipelajari di Kuwait itu juga yang dipelajari di sini? Kalau menurut saran saya kembalilah ke Kalimantan, amalkan ilmu yang kamu miliki. Orang-orang di Kalimantan sekarang sangat memerlukan pembinaan. Siapa yang berdosa kalau harus menunggu pintarnya dulu baru beramal. Insya Allah, Dia akan menambah ilmu yang kamu rasakan sangat kurang itu manakala kamu mengamalkannya.''&lt;br /&gt;Akhirnya setelah dipertimbangkan, Abdullah Said mengikuti nasehat orang tua itu, yang sampai akhir hayatnya tak mengetahui siapa orang tersebut sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memboyong Tenaga Pengajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah Said lalu mengunjungi rekannya, Usman Palese, yang sedang belajar di Akademi Tarjih Muhammadiyah, untuk pulang ke Kalimantan. Sebelum pulang, ia juga sempat berceramah di Masjid At-Taqwa, Jakarta, milik Muhammadiyah. Ceramah tersebut membuat banyak anak muda terpesona dan terpengaruh sehingga ikut ke Balikpapan. &lt;br /&gt;Setelah tiba di Balikpapan, murid-muridnya menyambut dengan gembira. Pasalnya, sang guru, Abdullah Said datang dengan membawa tenaga-tenaga pengajar untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memulai Kegiatan Pesantren&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan belajar mengajar bertempat di Gunung Sari, rumah H Muhammad Rasyid. Satu demi satu santri mulai berdatangan. Lalu pada 1 Muharram 1393 atau 26 Januari 1974 mereka hijrah ke Karang Rejo. Meski tempat ini berupa gubuk yang tidak layak dan jauh dari tetangga, tapi mereka tetap yakin, sabar, dan tawakal. Di tempat ini mereka tinggal 11 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memulai Sejarah Baru &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Karang Bugis mereka tinggal di sebuah emperan rumah milik seorang yang bernama Baba. Tempat ini dipakai untuk belajar sekaligus tempat tidur. Sementara empat kader putri yang setia mengikuti ditempatkan di sebuah rumah pinjaman. Salah satunya, Aida Chered, yang kemudian menjadi istri Abdullah Said. (Dari pernikahannya ini ia dikaruniai 7 anak: Saidah Abdullah Said, Ulfiah Su’adah Abdullah Said, Hizbullah Abdullah Said, Nashrullah Abdullah Said, Fathun Qorib Abdullah Said, Maftuhah Abdullah Said, dan Muntadzirizzaman Abdullah Said).&lt;br /&gt;Akhirnya, mujahadah mereka membuahkan hasil. Seorang tokoh masyarakat, H. Andi Kadir Mappasossong, mewakafkan tanahnya seluas 0,5 hektar. Setelah tiga tahun, untuk pertamakalinya Pesantren Hidayatullah memiliki sebidang tanah. Bangunan yang pertama kali diwujudkan adalah mushalla.&lt;br /&gt;Di tempat inilah setapak demi setapak mereka mulai mewujudkan rencananya. Dan, program-program pengembangan semakin padat dan nyata, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuka Gunung Tembak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi Karang Bugis yang sedemikian sempit, maka Abdullah Said berpikir keras untuk mendapatkan lokasi yang lebih luas.  Setelah melakukan penjajakan, akhirnya pengurus pesantren menemukan tempat yang dianggap cocok. Lalu mereka bersama Walikota Balikpapan, H. Asnawie Arbain, menemui pemilik tanah. Lokasi seluas 5,4 ha ini diserahkan secara resmi oleh pemiliknya, Darman, pada 5 Maret 1976.  &lt;br /&gt;Saat mengetahui tanah itu untuk pesantren, orang tua itu menangis haru. Setelah pesantren sudah ramai dipenuhi santri yang berpakaian putih berduyun-duyun menuju tempat shalat, orang tua itu berkata kepada Abdullah Said, ''Sudah dua tahun lamanya saya bermimpi didatangi orang berpakaian putih dengan muka bercahaya. Sejak itu saya tidak pernah lagi makan nasi. Saya hanya makan buah-buahan dan minum air putih. Saya juga tidak tahu mengapa berbuat demikian. Hanya dalam hati saya ada perasaan bahwa ini pasti kebaikan yang akan muncul di tempat ini.'' *Manshur Salbu, Dadang Kusmayadi/Suara Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihwal 3&lt;br /&gt;Mutiara Berserak dari Sang Pelopor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pepatah berbunyi, “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama.”  Namun meninggalnya orang-orang shaleh, memiliki dimensi lebih dari sekadar warisan nama dan benda.&lt;br /&gt;Di bawah ini butiran-butiran mutiara (hikmah) dari Allahu yarham Ustadz Abdullah Said, pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kader&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasakan serta nikmati hal-hal yang tidak menyenangkan dalam perjuangan, maka akan mendapat kekuatan di dalam jiwa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah dan Kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keberhasilan dakwah seorang muballigh tidak ditentukan oleh banyaknya tepuk tangan dan pujian-pujian.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada kekeliruan yang sangat fatal di kalangan umat, bahwa Nabi Muhammad memilih hidup miskin itu diterjemahkan dengan hidup ideal yang islami adalah yang merana dan sengsara.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika nilai agama hanya diajarkan sebagai ilmu pengetahuan, tanpa diantar pada wujud pelaksanaan, itu merupakan suatu bencana besar yang menimpa umat Islam. Lebih besar bahayanya daripada gempa bumi yang  menewaskan sekian jumlah orang dan menimbulkan kerugian miliaran rupiah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dakwah yang lebih didengar adalah dakwah yang didukung oleh pembuktian nyata, berupa peragaan dan praktik di lapangan pada diri dan keluarga.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena ketidakjelasan manhaj, kadang-kadang dakwah Islam tidak lebih sekadar hura-hura.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dakwah bukanlah pekerjaan ringan, karenanya Allah tidak menitip amanah ini kepada sembarang orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di atas kesulitan-kesulitan yang kita hadapi di lapangan perjuangan, ada janji-janji Allah yang sangat menggiurkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setetes hidayah dari Allah, jauh lebih berarti dari berjilid-jilid buku yang ditulis oleh seorang penulis paling terkenal sekalipun.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ukuran sederhana keimanan seorang mukmin, dapat diketahui lewat kadar cintanya kepada Tuhan melebihi cintanya kepada yang lain.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidup sengsara adalah pabrik yang paling produktif untuk lahirnya ide-ide brilian.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persatuan dan Jamaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan sampai kita terlalu memacu program pelayanan dan pengembangan lembaga, sementara kondisi barisan (shaf) dan jamaah dalam keadaan morat-marit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perputaran Roda Zaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan hanya kagum dengan membaca sejarah yang telah dilakukan  Nabi dan sahabat-sahabatnya, serta kecemerlangan pejuang-pejuang Islam di belakang beliau. Tapi kita juga harus berbuat sesuatu yang pantas dicatat sejarah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Muballigh adalah seperti anak panah yang meluncur mencari sasaran. Jika muballigh melenceng niatnya, jangan harap akan berhasil memperbaiki umat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapa tragisnya, kalau hanya untuk mendapatkan pengakuan sebagai orang yang berjasa, lantas kita korbankan kekayaan yang kita miliki. Yakni keikhlasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang dibutuhkan yunior dari para seniornya adalah keteladanan, bukan perasaan ingin diistimewakan. Perlakuan sebagai  orang yang istimewa, dapat melumpuhkan proses kaderisasi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah memang Maha Pengampun, tetapi bukan berarti kita boleh seenaknya melakukan dosa.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahadat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syahadat yang ideal adalah syahadat yang melahirkan kekuatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sadar akan beratnya tugas khalifah, mestinya mendorong kita memperoleh kekuatan tambahan dengan meningkatkan mutu ibadah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang bersyahadat tidak memerlukan apa yang orang umumnya kejar, dengan sangat mabuk dan penuh kegilaan, siang dan malam. Mereka sudah melampaui tahapan-tahapan seperti itu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus dan Kehidupan Islami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alangkah sayang dan ruginya kita membikin kampus (pesantren) dimana-mana, kalau kehidupan yang ada di dalamnya sama dengan kehidupan di luar kampus.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita dikucilkan orang karena kita tidak berqur’an, maka kita tidak  diberi kekuasaan karena kita jauh dari Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Faktor utama yang membuat kita tinggal di buntut-buntut peradaban dunia adalah karena kita tinggalkan Al-Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang paling aniaya adalah mereka yang tahu Qur’an itu nyata-nyata wahyu, tapi ditolak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelum memulai langkah dakwah, yang pertama-tama harus diselesaikan adalah mengimani Al-Qur’an sebagai konsepsi kebenaran mutlak satu-satunya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seseorang pada saat tidak berada dalam bimbingan Allah, maka dia akan dijadikan (dibimbing) syetan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berjuang di jalan Allah adalah salah satu cara mengharapkan perlindungan Allah Swt dari ganasnya serbuan syetan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat Lail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagi mereka yang pernah melakukan shalat lail tentu merasakan dan mengakui adanya pertarungan yang sangat seru dan sengit dalam menghadapi godaan syetan dan pengaruh nafsu yang luar biasa kuatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah, dia akan mendapatkan rezeki yang banyak dan kehidupan yang lapang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman dan Nafsu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perlawanan orang-orang yang beriman atas kaum tiran, menjadi dekorasi sejarah yang membuat hidup ini menjadi indah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ciri khas dari keberadaan iman adalah tidak mungkin mentolerir bentuk-bentuk kebatilan, bagaimanapun dia dipercantik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada dasarnya iman bergerak atas dasar kerinduan kepada Allah, sedangkan nafsu bergerak atas dasar ambisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akibat perjuangan yang digerakkan oleh hawa nafsu, bukan kemenangan yang yang didapatkan sesuai janji Allah. Bahkan modal kekuatan yang sekian lama menjadi kebanggaan pun lenyap, bertukar dengan rasa takut, cemas dan khawatir.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Format serta model orang yang bekerja karena iman, sudah ada ukurannya dalam Al-Qur’an. Hasil serta ujungnya pasti ada kesamaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya bagi mereka yang merindukan Allah, yang sangat mengharapkan perjumpaan dengan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mungkin ada iman yang mengalah dan menyerah pasrah lalu diam dan berpangku tangan tanpa berbuat apa-apa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iman bukan suatu yang pasif dan netral, ia selalu aktif dan menghasilkan hal-hal positif.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat dan Do’a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berdoa berbeda dengan membaca doa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Usai bertemu dengan Allah (shalat), hendaknya menghasilkan dua hal: semakin bertambah keyakinannya, dan siap melakukan tugas-tugas sebagai khalifatullah fil ardi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat nyaris ‘tidak ada gunanya’ bagi mereka yang tidak melaksanakan tugas tugas kekhalifahan di muka bumi.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; * Ali Athwa/Suara Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aida Chered (istri almarhum Ustadz Abdullah Said)&lt;br /&gt;Beliau Sosok Romantis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuannya saya dengan almarhum adalah sebuah anugerah dari Allah . Jalinan rumah tangga dengan beliau telah mengubah pandangan saya terhadap kehidupan. Pemahaman keislaman saya semakin bertambah, dan saya menemukan tujuan hidup yang hakiki.&lt;br /&gt;Perkenalan saya dengan beliau diawali di sebuah acara pernikahan. Saat itu saya berusia 23 tahun. Ketika memberi khutbah nikah, banyak yang terkesima dengan materi yang disampaikannya. Saya penasaran untuk terus mengikuti pengajian-pengajian beliau. &lt;br /&gt;Puncaknya ketika saya meninggalkan pekerjaan di Dinas Kesehatan Kota (DKK) untuk bergabung dengan beliau. Ketika itu kegiatan kami hanya belajar. Saya rela meninggalkan pekerjaan karena sudah lama ingin meningkatkan pemahaman keislaman. &lt;br /&gt;Setelah dua tahun mengikuti pengajian tersebut, akhirnya saya dipersunting oleh beliau. Sejak itu, saya merasakan perubahan drastis dalam hidup sebagai seorang Muslimah. Sebagai seorang istri, saya harus siap mendampinginya dalam suka dan duka. Kebahagiaan saya saat itu bukan karena pelayanan istimewa dan berbagai fasilitas untuk sang suami, karena saat itu belum ada apa-apa. Makan saja susah. Tapi karena saya telah menemukan makna hidup, perjuangan yang kami jalani terasa nikmat, sehingga hampir tak terasa dukanya.&lt;br /&gt;Untuk menambah pemahaman tentang perjuangan, saya senantiasa menyimak dengan serius setiap kali beliau memberikan pengajian. Ya, kadang-kadang saya itu disindir melalui ceramah. Maklum, beliau sangat sibuk, jadi kadang-kadang tidak sempat memberikan nasehat secara langsung.&lt;br /&gt;Meski memiliki mobilitas tinggi, tapi bagi saya beliau adalah sosok yang romantis. Ia sangat perhatian kepada istri. Demikian juga ketika telah mempunyai buah hati. Beliau tidak luput memperhatikan perkembangan anak-anak. &lt;br /&gt;Dalam hal shalat, misalnya, beliau sangat tegas. Beliau meminta untuk meninggalkan semua kegiatan dan segera mempersiapkan anak-anak untuk menunaikan shalat. Bahkan kalau ada tamu pun beliau minta untuk meninggalkan dulu tamu tersebut.&lt;br /&gt;Saya sangat bersyukur meski waktu yang tersedia untuk anak-anak sangat sedikit, tapi beliau berusaha untuk bercengkrama dan bercanda dengan buah hatinya. Sekarang, saya tidak punya pola pendidikan secara khusus untuk pendidikan anak-anak. Tapi saya senantiasa memperkuat do’a agar anak-anak tumbuh sebagai anak yang shaleh dan shalehah. *Mujahid/Suara Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Atika, Juru masak awal di Gunung Tembak&lt;br /&gt;Selalu Makan Bersama Santri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Abdullah said sosok yang sangat pemberani. Ketika menumpang di rumah saya di Gunung Sari, beliau sempat dicari-cari polisi, tapi selalu luput. Setiap kali para polisi pulang, beliau kembali mengadakan pengajian yang berpindah-pindah, yang diikuti sekitar 30-an pemuda yang setia mengikuti pengajiannya. &lt;br /&gt;Ketika hijrah ke Gunung Tembak, beliau selalu menikmati sajian yang disediakan, apa pun menunya. &lt;br /&gt;Satu hal yang selalu terkenang oleh saya, beliau tidak pernah mau makan sendiri, ia selalu bergabung dengan para santri atau memanggil orang untuk makan bersamanya. &lt;br /&gt;Demikian juga dalam memperlakukan orang lain, beliau selalu menyapa siapa saja, sehingga semua merasa diperhatikan. Beliau sangat perhatian kepada santrinya termasuk soal-soal yang kecil. &lt;br /&gt;Misalnya, beliau kerap meminta saya membagikan sabun kepada para santri yang diletakkan di mangkuk-mangkuk kecil, lalu diletakkan di depan kamar masing-masing. *Mujahid/Suara Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thoriqul Fajr, Pendamping Bagian Kerumahtanggaan.&lt;br /&gt;Beliau Seorang Humoris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau seorang yang humoris, sehingga saya merasa senang mendampingi beliau. Beliau pernah memarahi saya, tapi kemarahan itu tidak membuat saya kesal, karena setelah itu selalu dibawa bercanda.&lt;br /&gt;Pernah suatu kali, saya memakai sepatu dengan merek terkenal dan lumayan mahal harganya. Sepatu saya itu sama dengan yang digunakan beliau. Lalu beliau pun menegur saya. &lt;br /&gt;“Bagus juga sepatumu Thoriq?” &lt;br /&gt;“Ah tidak Ustad, sama saja dengan sepatunya Ustadz.” Beliau tidak bisa menahan tawanya, lalu berkata, “Kalau saya kan dikasih orang.”&lt;br /&gt;Rupanya sikap dan gaya saya merupakan hiburan tersendiri bagi beliau. Sampai akhirnya saya pun dinikahkan dengan keponakannya. *Mujahid/Suara Hidayatullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-3733875087196455474?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/3733875087196455474/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=3733875087196455474' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/3733875087196455474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/3733875087196455474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/12/jejak-penuh-hikmah.html' title='Jejak Penuh Hikmah'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-7966935047235422185</id><published>2007-09-20T03:00:00.001-07:00</published><updated>2007-09-20T03:05:46.695-07:00</updated><title type='text'>Ramadhan: Madrasah Pembentukan Mental</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;Ada yang menyatakan bahwa Ramadhan merupakan bulan pendidikan (syahr al-tarbiyyah). Tentunya ini bukan tanpa alasan. Karena secara realita, Ramadhan benar-benar edukatif. Ia dapat diibaratkan sebagai ‘madrasah’, lebih tepatnya sebagai training centre bagi qalbu-qalbu orang yang ingin menaiki “tangga-tangga ketakwaan”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tulisan sederhana ini akan mengulas secara sederhana, bagaimana Ramadhan membentuk mental orang-orang yang berpuasa di dalamnya. Jika ditilik dengan cermat, inti daripada puasa adalah “self control” (pengendalian diri). Artinya, Ramadhan mendidik para pelakunya menjadi orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya: nafsu perut dan nafsu syahwatnya. Lewat self control inilah puasa Ramadhan mampu membentuk beberapa mental positif.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama, mental qana‘ah. Penulis berasumsi bahwa seluruh orang yang melaksanakan puasa memiliki pengalaman yang sama. Apa itu? Ketika waktu berbuka hampir tiba, nafsu makan begitu “menggebu-gebu”. Seluruh jenis makanan dan aneka ragam minuman ingin kita lahap seluruhnya. Namun apa yang terjadi? Ketika waktu buka telah tiba, yang dapat ‘diterima’ oleh perut besar (lambung) hanya satu gelas teh manis atau sirup dan satu potong roti. Lalu, ke mana ‘nafsu perut’ yang ketika sore itu begitu provokatif itu? Hilang. Sirna. Yang ada hanya rasa kenyang dan puas dengan satu gelas teh manis dan satu potong roti itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya, puasa itu membentuk mental qana‘ah. Hiduplah apa adanya. Tidak usah terlalu memaksakan kehendak dan syahwat duniawi. Apa yang kita nikmati pada hakikatnya lebih sedikit dari apa yang kita miliki. Dan sejatinya, qana‘ah itulah yang disebut oleh Baginda Rasul SAW sebagai “kekayaan” tak akan pernah habis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua, mental muraqabah. Apa maksudnya? Orang yang berpuasa, selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Inilah yang dikenal dengan sistem “waskat” (pengawasan melekat). Orang yang berpuasa benar-benar memiliki strong self-control. Allah selalu hadir di mana dan kapan saja. Logikanya, ketika seseorang – yang sedang berpuasa – mengambil air wuduk untuk melaksanakan shalat, bisa saja dengan gampang dan mudah ‘korupsi’ air wuduk. Atau, seorang ibu yang sedang menyiapkan makanan untuk berbuka dapat melahap “kolak pisang” yang begitu menggoda dan menggiurkan. Tapi kenapa tak seorang pun berani melakukannya?! Karena Allah hadir dan mengawasinya. Bukankah puasa itu hanya ‘milik Allah’ dan hanya dia yang ‘mengganjarnya’? Ini dengan gamblang Dia proklamirkan dalam sebuah hadits Qudsi, “Seluruh amalan anak Adam (manusia) untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendirilah yang akan membalasnya. ” (HR Bukhari).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Amalan (ibadah) yang sangat sulit ditembus oleh setan adalah “puasa”. Sehingga, yang mengetahui hakikat puasa itu hanya Allah dan si pelaku. Jika puasa itu milik Allah, seyogyanya orang yang berpuasa merasa muraqah Allah itu senantiasa menyertainya. Agar Allah benar-benar melihat dan mengganjar puasanya dengan sempurna. Jika mental muraqah ini tidak pernah dimunculkan, niscaya puasa pun dilakukan hanya sekedar “menggugurkan kewajiban”, tidak lebih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketiga, mental ‘sabar’ berkata baik dan bertindak benar. Semua orang yang berpuasa merasakan bahwa Ramadhan itu seperti “rem pakem” kata-kata dan tindakan. Di bulan ini, orang tidak akan sembarangan alias asbun (asal bunyi) dalam berkata-kata. Semuanya benar-benar diperhitungkan. Dan ini salah satu sisi mental yang dibangun oleh puasa itu. Hal ini dijelaskan oleh Kanjeng Nabi SAW dalam sabdanya, “Sesungguhnya puasa itu bukan sekedar “tidak makan dan tidak minum” saja. Puasa itu adalah menahan mulut dan tindakan dari hal yang sia-sia dan keji. ” (HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim). Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga menyatakan, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkatan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak peduli dia tidak makan dan tidak minum. ” (HR Bukhari). Artinya, orang yang biasa berkata dusta ketika berpuasa, maka Allah tidak butuh kepada puasanya. Maka, puasanya menjadi sia-sia dan tak memberikan faedah apapun. Yang dipetik dari puasa seperti ini adalah apa yang diutarakan Rasul SAW, “Berapa banyak orang yang berpuasa, hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. ” (HR Al-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keempat, mental ‘aji mumpung’. Bulan ini benar-benar bulan obral pahala. Maka sangat merugilah orang yang tidak menyadarinya. Yang harus dibangun di bulan yang penuh rahmat, maghfirah dan itqun min al-nar ini adalah “mental aji mumpung”. Ini lah kesempatan dan peluang emas yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Bayangkan, satu kebaikan dilipatkan-gandakan menjadi 70-700 kali lipat. Siapa yang tidak tergiur? Namun, bukan berarti mental ini menjadi mental apportunist.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bayangkan, para hari kiamat nanti, bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi dari bau minya misik (kesturi) yang ada didunia ini. “Demi jiwa Muhammad yang ada dalam genggamannya! Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah pada hari kiamat daripada minyak misik. ” (HR Muslim).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/div/&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Itulah beberapa mental yang coba ditumbuhkan dan dibangun oleh Ramadhan yang mulia ini. Semoga Ramadhan kali ini benar-benar dapat kita “raup” nilai-nilainya. Mari kita tanamkan dalam hati bahwa Ramadhan kali ini harus benar-benar menjadi ‘kolam ampunan dosa’. Karena sangat ini orang yang ditemui oleh Ramadhan, namun ketika Ramadhan itu kembali menghadap Tuhannya, dosa-dosanya belum diampuni. “Betapa hina seseorang jika Ramadhan datang, kemudian ia pergi, sedangkan ia belum diberi ampunan. ” (HR Al-Tirmidzi). Wallahu a‘lamu bi al-shawab. [] (Medan, 6 Ramadhan 1428 H).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-7966935047235422185?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/7966935047235422185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=7966935047235422185' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/7966935047235422185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/7966935047235422185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/09/ramadhan-madrasah-pembentukan-mental.html' title='Ramadhan: Madrasah Pembentukan Mental'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-1366281167602193332</id><published>2007-06-08T16:43:00.000-07:00</published><updated>2007-06-08T16:47:14.171-07:00</updated><title type='text'>Untukmu Penegak Kalimat Tauhid</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;DR. Yusuf Qorodhowi dalam sebuah khutbah Jum'atnya di masjid 'Umar bin Khattab, Dhoha, Qatar mengatakan adalah suatu yang lucu dan menyedihkan Amerika sebagai sebuah bangsa yang memproklamirkan dirinya sebagai penegak HAM mencantumkan batalyon syuhada Al Aqsho sebagai organisasi teroris. Lebih ironis lagi ketika Amerika melalui pemimpin negerinya mengatakan Ariel Sharon yang tangannya berluruman darah dalam membantai umat Islam, mempertahankan dirinya di tengah serangan teroris dan fundamentalis Hamas.Lebih jauh lagi DR. Yusuf Qorodhowi mengatakan, 'Itu sesuatu yang lucu tapi menyedihkan. Karena dengan sikap itu berarti Amerika menyamakan antara daging dan pisau, antara pembunuh dan yang dibunuh, antara korban pembantaian dan pelaku pembantaian. Kalau sikap ini yang dianggap sebagai teroris, Ya Allah jadikanlah aku sebagai orang-orang teroris...matikanlah aku sebagai teroris..dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang teroris...'Semenjak invasi Isarel atas tanah suci Al Quds pada Mei 1948 dengan ditandai berdirinya negara Israel secara sepihak, sampai saat ini tak pernah berhenti memeras darah umat Islam Palestina. Dengan dalih merebut tanah yang dijanjikan menurut versi mereka, mereka menghalalkan membunuh anak-anak dan wanita Palestina dengan rasa penuh kebanggaan telah menjalankan ajaran kitab sucinya. Watak ketertutupan terhadap bangsa lain, sifat individualistis serta anggapan bahwa mereka merupakan bangsa pilihan, menimbulkan kebencian terhadap bangsa ini. Akibatnya mereka sering dikejar-kejar oleh penduduk asli setempat di manapun mereka menyebar di dunia ini. Dengan gerakan yang dinamakan Zionisme yang didirikan oleh Theodore Herzl yang pada tahun 1896, menyerukan kepada bangsa Yahudi untuk mendirikan negara Yahudi, di Palestina. Berbagai kelicikan telah dipertontonkan oleh bangsa yang satu ini. Dengan berpelayankan Amerika, mereka dengan santainya berteriak keseluruh dunia, bangsa Palestina adalah Teroris. Kenyataannya, Teroris teriak Teroris.Bom syahid yang dilancarkan oleh pemuda-pemuda Palestina nan gagah berani, sering kali dengan konspirasi besar dicap sebagai teroris fundamentalis. Teroris yang menyerang penduduk sipil Yahudi. Padahal tidak ada penduduk sipil Yahudi di Palestina krn seluruh anasir Yahudi adalah tentara. DR. Yusuf Qorodhowi kembali berkomentar tentang aksi bom syahid ini:'Orang yang bunuh diri itu membunuh dirinya untuk kepentingan pribadinya sendiri. Sementara pejuang ini mempersembahkan dirinya sebagai korban demi agama dan umatnya. Orang yang bunuh diri itu adalah orang yang pesimis atas dirinya dan atas ketentuan Allah, sedangkan pejuang ini adalah manusia yang seluruh cita-citanya tertuju kepada rahmat Allah SWT.Orang yang bunuh diri itu ingin menyelesaikan dari dirinya dan dari kesulitannya dengan menghabisi nyawanya sendiri, sedangkan seorang mujahid ini membunuh musuh Allah dan musuhnya dengan senjata terbaru ini yang telah ditakdirkan menjadi milik orang-orang lemah dalam menghadapi tirani kuat yang sombong. Mujahid itu menjadi bom yang siap meledak kapan dan di mana saja menelan korban musuh Allah dan musuh bangsanya, mereka (baca: musuh) tak mampu lagi menghadapi pahlawan syahid ini. Pejuang yang telah menjual dirinya kepada Allah, kepalanya ia taruh di telapak tangan-Nya demi mencari syahadah di jalan Allah.'Sekarang adalah bagimana kita sebagai muslim menjalankan ukhuwwah yang selama ini kita teriakkan di mimbar-mimbar, di kajian-kajian, di tabligh akbar, bahwa sesungguhnya muslim itu adalah ibarat sebuah tubuh, yang apabila satu bagian dari tubuh tersebut merasakan suatu kesakitan maka bagian tubuh yang lain turut merasakannya. Apa yang sudah kita perbuat untuk saudara-saudara kita di Palestina. Bila saja seorang Yusuf Qorodhowi masih mengatakan, 'Aku masih belum menyerahkan diriku sepenuhnya terhadap perjuangan Islam, sebagaimana Imam Ghazali yang menyerahkan dirinya untuk islam; beliau hidup bersama ilmu dan amal. Usaha kita terlalu sedikit bila dibandingkan dengan usaha kaum Yahudi dalam menegakkan Negara Israel, terlalu sedikit bila dibandingkan dengan kaum Nasrani yang giat menyebarkan ajaran agama mereka. Perjuangan kita untuk menegakkan Islam belumlah ada apa-apanya'. Bagaimana dengan kita ?Saudaraku, Perjuangan masih panjang. Jalan berliku penuh onak masih akan kita jumpai. Darah yang keluar dari sela-sela jari kita mungkin akan keluar dari dada kita. Luruskan dan rapatkan barisan. Bersihkan niat dari segala kekotoran. Bisa jadi, kita tak merasakan waktu yang kita citakan, tetapi tongkat estafet haruslah tetap berjalan. Perteguh iman, pertajam kesadaran..Perbanyak 'perbekalan'... Jangan sampai kita kehabisan di tengah jalan. Saudaraku, Kematian bukanlah kehinaan. Kematian adalah keindahan dan kemuliaan. Persiapkan diri agar bumi Allah ini mau menerima kita. Allohu Akbar !!...Ya muslimun...ya muslimun...Ya muslimun...ya muslimun...Ya muslimun...ya muslimun...Jihad memanggil akankah kau bangun...Tataplah wajah-wajah saudara-saudara kita dalam ingatan dan do'a-do'amu. Sudahkah kita peduli kepada mereka ? Dan mengulurkan tangan memberikan kehangatan takkala baju-baju mereka habis menjadi penyeka darah dan panasnya matahari Gaza. Sudahkah kita tunjukkan ? Bahwa kita adalah saudara mereka, yang siap menjadi ayah mereka, kakak mereka, anak mereka, ibu mereka, takkala ayah, ibu, anak, kakak mereka tertembus timah panas dan terlindas deru kecongkakan tank ? Hanya karena mereka berkata : Ana Muslim....Allohu Akbar....Ataukah kita menjadi sebagian muslim dunia, yang tak ada sedetikpun terlintas nasib mereka. Sementara baju-baju kita melebihi apa yang kita butuhkan .Sementara kita bingung mau makan apa esok hari dan bukan makankah esok hari.Wahai saudaraku...Tahukah engkau bagaimana rasa bahagianya mati syahid ? Al-Bukhary mentakhrij dari Abu Hurairah r.a, dia berkata, 'Aku mendengar Nabi SAW bersabda, 'Demi yang diriku ada di tangan-Nya, sekiranya tidak ada orang-orang Mukmin yang tidak suka jika aku meninggalkan mereka dan aku tidak mendapatkan apa yang kubebankan kepada mereka, tentu aku selalu ikut dalam pasukan perang fi sabilillah. Demi diriku yang ada di tangan-Nya, aku benar-benar suka terbunuh di jalan Allah, kemudian aku dihidupkan lagi, lalu aku terbunuh lagi, lalu dihidupkan lagi, terbunuh lalu dihidupkan lagi, lalu terbunuh.'Al-Bukhary mentakhrij dari Aslam, dari Umar bin Khaththab r.a, dia pernah berkata, 'Ya Allah, berilah aku mati syahid di jalan-Mu, dan jadikanlah saat kematian di negeri Rasul-Mu.'Al-Isma'ily mentakhrij dari Hafshah Radhiyallahu 'Anha, dia menambahi riwayat di atas, 'Aku bertanya, 'Apa arti semua ini?' Beliau menjawab, 'Allah mendatangkannya pada hari kiamat menurut kehendak-Nya.' Begitulah yang disebutkan di dalam, 'Fathul-Bari', 3/71.Wahai saudaraku...Bosnia merintih dalam kesendirian...Qosova mengalir sungai-sungai merah...Palestin menjerit terhimpit konspirasi kecongkakan binatang Israel dan Amerika...Afghanistan dalam tekanan.....Indonesia dalam keterpurukan....Kashmir dalam penindasan....Wahai saudaraku...Siapkan apa yang ada yang kau mampu dan dapat kau tempuhMasukkanlah mereka dalam barisan do'a-do'a tahajjudmu...Berikan ruang hati kita Untuk saudara kita disana...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-1366281167602193332?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/1366281167602193332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=1366281167602193332' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/1366281167602193332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/1366281167602193332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/06/untukmu-penegak-kalimat-tauhid.html' title='Untukmu Penegak Kalimat Tauhid'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-4423659389770462609</id><published>2007-06-08T16:08:00.000-07:00</published><updated>2007-06-08T16:41:29.622-07:00</updated><title type='text'>Risalah Malam</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin larut. Hujan yang turun sejak senja tadi, menyisakan rintik-rintik kecil. Menambah sunyi sang malam. Menambah dingin angin malam. Membuat cahya rembulan menjadi remang. Sembunyi di balik kerumunan awan. Meninabobokan anak-cucu adam. Lelap dalam tidurnya. Hangat dalam selimutnya. Terbuai dalam mimpinya. Bergumam dalam igaunya. Suasana yang pernah digambarkan Al Ghazali dalam petikan syairnya : Di akhir malam yang makin kelamDi waktu tenang seisi alamAku berbaring di atas ranjang Bagaikan benda yang melayangMalam memasuki separuh masa. Sang purnama mulai berani manampakkan diri. Juga bintang-bintang. Kerlip silih berganti. Menghilangkan kepekatan malam. Memberikan kehidupan. Sebaik-baik kehidupan. Adakah anak-cucu adam yang tersadar? Bangun dari tidurnya? Merasakan kelezatannya? Ataukah mereka cukup puas dengan mimpinya. Hingga tak mendengar panggilan Rabb-Nya.Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan. (QS Al Muzzamil : 1-4) Panggilan itu terdengar sayup. Namun menyusup dalam hembusan angin malam. Menemukan seorang yang menantinya. Yang mengharapkan pertemuan itu. Tanpa dialog panjang, bergegas ia bangkit. Dengan kerinduan yang memuncak. Ia bergegas membersihkan diri. Kemudian larut dalam munajatnya. Mencurahkan isi hati. Menyesali kealpaan diri. Mengharapkan ampunan Rabbi.'...Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir'. (QS Al Baqarah : 286)Ayat demi ayat dalam kitab suci mengalir. Dari lisannya yang lembut. Dari suara hatinya yang bening. Memberikan ketenangan jiwa. Menciptakan kepekaan bathin. Membuang jauh urusan duniawi. Melebur dalam firman-firmanNya yang agung. Hingga suatu saat tubuhnya berguncang hebat. Diiringi oleh isak tangis yang mendalam. Tatkala sekelebat bayangan neraka jahannam nampak di hadapannya... Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka): 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya'. (QS At Thur : 11-14)Jahannam... mungkin tiada yang mampu membayangkan pedih siksanya. Termasuk dirinya. Namun jika membayangkan kotornya hati, lumuran dosa, dan lembaran dusta yang pernah diperbuat, siapa yang menjamin tidak akan menjadi penghuninya ?Untaian kalam ilahi terus mengalir. Isaknya mulai reda. Bahkan tidak tampak lagi. Semburat senyum tipis kini menghias wajahnya yang teduh. Seolah ia sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa. Andai kita tahu apa yang tengah dirasakannya. Namun hanya dia dan Rabbnya yang tahu. Hanya rahasia kecil yang kita tahu. Bahwa kelezatan yang ia rasakan terkait dengan ayat Qur'an yang sedang dilantunkannya... Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): 'Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan', mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. (QS At Thur : 17-20)Surga... ingin rasanya menjadi penghunimu. Tapi layakkah? Makan dan minum dengan hidangan yang terlezat dan selalu tersedia? Bersenda gurau dengan bidadari-bidadari nan cantik bermata jeli?Malam mulai memasuki penghujungnya. Rembulan memberi isyarat untuk berpamitan. Malam itu Sang penanti benar-benar menemukan penantiannya. Dan akan selalu menantikannya kembali. Saat-saat terindah dengan Sang Rabbi pun harus berlalu. Namun ia memiliki energi baru. Untuk membuka lembaran pagi yang baru. Untuk menjalani tugasnya sebagai khalifah bumi. Mencari nafkah untuk anak isteri. Mengajak umat ke jalan ilahi.Tatkala bangkit dari tikar panjangnya, tampak sesosok wanita di belakangnya. Sang istri tercinta. Yang sejak tadi menyertainya. Dalam isak tangisnya. Dalam semburat senyumnya. Wanita itu menggapai tangannya. Mencium erat jemarinya. Menatapnya lekat. Penuh cinta. Sarat makna. Bidadari dunia telah menyambutnya, dan bidadari surga tengah menantinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-4423659389770462609?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/4423659389770462609/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=4423659389770462609' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/4423659389770462609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/4423659389770462609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/06/risalah-malam.html' title='Risalah Malam'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-5923432567628960680</id><published>2007-06-08T16:06:00.000-07:00</published><updated>2007-06-08T16:08:23.670-07:00</updated><title type='text'>Nikmatnya Menjadi Mukmin</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sungguh heran terhadap perihal seorang Mukmin, semua urusannya membawa kebaikan kepadanya dan hal tersebut tidak dimiliki oleh seorangpun selain orang mukmin. Jika mendapat kegembiraan, ia bersyukur dan itu membawa kebaikan baginya. Jika mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu juga membawa kebaikan baginya." (H.R. Muslim)Seorang mukmin pada hakekatnya tidak pernah mengalami kegundahan hati, baik ketika diberi kenikmatan maupun diberi cobaan. Kenikmatan yang telah diberikan Allah Swt, bagi seorang mukmin, akan menimbulkan rasa haru bercampur bahagia dan memanjatkan rasa syukur dan mengucap "Alhamdulillahi-Robbil-‘alamin" dan itu akan membawa kebaikan baginya. Berbeda dengan orang yang kurang rasa syukurnya kepada Allah Swt, yang jika telah diberikan rezeki yang melimpah dari Allah maka mereka kebanyakan akan berpaling dari Allah, seperti disinggung dalam Surah Fusshilat Ayat 49-51 :"Manusia (yang kafir) itu tidak jemu meminta kebaikan, jika kesusahan menimpa dia, maka (ia) putus harapan. Dan jika Kami rasakan kepadanya saru rahmat dari Kami, sesudah kesusahan yang mengenainya, niscaya ia berkata, "Ini buatku, dan aku tidak percaya akan terjadinya Hari Kiamat dan jika andakan aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya adalah bagiku disisi-Nya (pemberian-pemberian) yang baik. Tetapi Kami sesungguhnya akan beritahu kepada mereka yang kafir itu apa-apa yang telah mereka kerjakan, dan sesungguhnya Kami akan rasakan kepada mereka azab yang keras. Dan apabila Kami beri nikmat atas manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri tapi bila dia dikenai kesusahan, maka ia mempunyai permintaan yang panjang (lebar)." Dan sebaliknya, seorang mukmin yang diberi musibah seperti mengalami kesusahan dalam mencari sesuap nasi, akan bersabar. Dan kesabarannya ini akan memperoleh hasil berupa pahala disisi Allah Swt. Bagi seorang mukmin yang telah menyerahkan hati, tubuh dan jiwanya hanya kepada Allah Swt semata, ketidakmampuannya atau kesulitannya dalam mencari rezeki selama ini akan membuahkan nikmat tersendiri yang akan sulit dibayangkan oleh orang yang tidak mengerti akan hikmah kehidupan. Seorang Mukmin yang sejati akan berfikir bahwa kesusahan yang dialaminya tidaklah sebanding dengan kenikmatan yang diperolehnya dari Allah Swt. Mereka mempunyai keyakinan yang kuat bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya merupakan kehendak Tuhannya, Yang Maha Pemelihara. Sungguh banyak Nikmat Allah Swt yang telah diberikan kepada manusia, yang sebahagian kecilnya adalah :&lt;br /&gt;Nikmat Naluri, tanpa naluri yang diberikan-Nya, mungkin manusia tidak akan ada didunia ini. Naluri inilah yang membimbing seorang bayi untuk berkomunikasi melalui tangisan sehingga didengar oleh ibu atau orang yang dekat dengannya. Tanpa naluri berupa tangisan ini, bayi tersebut mungkin sudah lama mati.&lt;br /&gt;Nikmat Panca Indera, berupa mata, telinga, hidung, lidah dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Nikmat Akal, yang membuat kita mampu berpikir sehingga kita bisa mengetahui segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, yang memiliki batasan menurut kemampuan seseorang.&lt;br /&gt;Nikmat kebebasan berbuat, dimana manusia bisa bebas melakukan sesuatu menurut kehendaknya.&lt;br /&gt;Nikmat Agama yang berupa Petunjuk kejalan yang lurus, berupa mukjizat Allah yang diberikan kepada Rasulullah Saw, berupa Al-Quran dan sunah Nabi, yang merupakan nikmat tertinggi, pedoman bagi kita untuk menempuh kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;Nikmat ampunan dari-Nya, segala dosa yang telah kita perbuat, akan diberikan keampunan oleh Allah Swt dengan jalan tobat, kecuali Syirik.&lt;br /&gt;Nikmat ciptaan-Nya berupa binatang dan buah-buahan, yang dengannya manusia bisa memperoleh makanan dan kesehatan.&lt;br /&gt;Dan nikmat-nikmat lainnya yang tidak terhitung banyaknya. Dan dari sekian banyak nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt tersebut, bagi seorang mukmin, nikmat yang paling besar manfaatnya adalah nikmat berupa Agama. Salah satunya adalah Nikmat Sholat. Mengapa Sholat memiliki kenikmatan yang luar biasa? Bagi kita yang tidak memahami hikmah dibalik Sholat tersebut, maka berpendapat bahwa sholat itu hanya merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan. Tetapi bagi kita yang memahami arti dari Sholat tersebut akan menikmatinya dengan penuh kekhusukan.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui salah satu nikmat sholat yang diperoleh adalah dengan memahami makna sebahagian surat Al Fatihah. Cobalah kita pelajari salah satu hadist Qudsi yang disampaikan Rasulullah melalui menantunya, Ali bin Abi Thalib yang mengatakan, Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda bahwa Allah Swt berfirman :"Aku membagi surah Al Fatihah menjadi dua (2) bagian, setengah bagian untuk-Ku, setengah bagian lainnya untuk Hamba-Ku, apa yang dimintanya akan aku perkenankan, bila ia membaca Bismillahirrahmanir-rahim, Allah Berfirman, "Hamba-Ku memulai pekerjaannya dengan menyebut nama-Ku, maka menjadi kewajibanku untuk meyempurnakan seluruh pekerjaannya serta Kuberkati seluruh keadaannya. Apabila ia membaca, Al-hamdulillahi Rabbil-alamin, Allah menyambutnya dengan berfirman, "Hamba-Ku mengetahui bahwa seluruh nikmat yang dirasakannya bersumber dari-Ku, bahwa ia telah terhindar dari malapetaka karena kekuasaan-Ku. Aku mempersaksikan (wahai para malaikat), bahwa Aku akan menganugerahkan kepadanya nikmat-nikmat di akhirat, disamping nikmat-nikmat duniawi dan akan Kuhindarkan pula ia dari malapetaka ukhrawi dan duniawi." Apabila ia membaca, Ar-Rahmanir-Rahim, Allah menyambutnya dengan berfirman, "Aku diakui oleh hamba-Ku sebagai pemberi Rahmat dan sumber segala rahmat. Kupersaksikan kamu (wahai para malaikat) bahwa akan Aku curahkan rahmat-Ku kepadanya, sehingga sempurna dan akan kuperbanyak pula anugerah-Ku." Apabila ia membaca, "Malikiyaumid-din, Allah menyambutnya dengan berfirman, "Kupersaksikan kamu wahai para malaikat, sebagaimana diakui oleh hamba-Ku, bahwa Akulah Pemilik Hari Kemudian, maka akan Aku permudah baginya perhitungan dihari itu, akan Kuterima kebaikan-kebaikannya dan Kuampuni dosa-dosanya." Apabila ia berkata, Iyyaka na’budu, Allah menyambutnya dengan berfirman, "Benar apa yang diucapkan hamba-Ku, hanya Aku yang disembahnya. Kupersaksikan kamu semua, akan Kuberi ganjaran atas pengabdiannya, ganjaran yang menjadikan semua yang berbeda ibadah dengannya akan iri dengan ganjaran itu." Apabila ia membaca wa-iyyakanasta’in, Allah berfirman, "Kepada-Ku hamba-Ku meminta pertolongan dan perlindungan. Kupersaksikan kamu pasti akan Kubantu ia dalam segala urusannya akan Kutolong dia dalam segala kesulitanya, serta akan Kubimbing dia pada saat-saat krisisnya." Apabila ia membaca, "Ihdinash-shiratal mustaqim, Allah menyambutnya dengan berfirman, "Inilah permintaan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya telah Kuperkenankan bagi hamba-Ku permintaannya, Kuberikan apa yang diharapkannya, Kutenteramkan jiwanya dari segala yang mengkhawatirkannnya."Sungguh memang Allah Swt pemberi nikmat terbesar di alam raya ini. Memang patutlah kita sebagai seorang mukmin, tidak diperbolehkan berkeluh kesah dalam menghadapi segala macam cobaan. Tetapi, Apakah ada kenikmatan atau kebaikan yang dirasakan oleh seorang Mukmin yang ditinggal mati oleh salah seorang keluarga yang dicintainya? Untuk kejadiannya ini, ada menariknya jika kita mengutip suatu pelajaran dari sebuah buku yang berjudul "Memoar Hasan Al-Banna", dimana dikisahkannya sebagai berikut, "Pada saat menjelang perayaan peringatan Maulid Nabi, setiap malam sejak tanggal 1 hingga 12 Rabi’ul Awwal, secara berombongan dan bergiliran kami selalu mengunjungi rumah salah seorang ikhwan. Malam itu, tibalah giliran rumah Syaikh Syalbi Ar-Rijal yang menjadi jadwal kunjungan. Kami pun berangkat seperti biasanya, setelah Sholat Isya. Saya melihat rumah Syaikh Syalbi sangat terang, bersih dan rapi. Dihidangkanlah serbat, kopi dan girfah seperti biasanya. Kami duduk dan meminta nasehat-nasehat Syaikh Syalbi. Ketika kami hendak pergi, ia berkata dengan senyum lembut, "Datanglah kalian besok pagi-pagi sekali, agar kita bisa menguburkan Ruhiyah bersama-sama." Ruhiyah adalah putrid beliau satu-satunya. Allah menganugerahkan Ruhiyah kepadanya kurang lebih 11 tahun dari usia pernikahannya. Ia mencintainya sehingga tidak pernah meninggalkannya sekalipun walau sedang sibuk bekerja. Ruhiyah kemudian tumbuh menjadi seorang remaja. Ia manamainya Ruhiyah karena putrinya ini menempati kedudukan "ruh" pada dirinya. Tentu kami terperanjat dan berkata, "Kapan ia meninggal?" Tanya kami spontan. "Tadi menjelang maghrib!" jawabnya tenang. "Kenapa Syaikh tidak memberitahukan kepada kami sejak tadi, sehingga kami dapat mengajak kawan yang lain untuk kemari bersama-sama." Ia menjawab, "Apa yang terjadi telah meringankan kesedihanku. Pemakaman telah berubah menjadi peristiwa yang membahagiakan. Apakah kalian masih menginginkan Nikmat Allah yang lebih besar lagi daripada nikmat ini?" Subhanallah, semoga Allah Swt memberi tempat kepada Syaikh tersebut ditempat yang sebaik-baiknya. Amin… (edi/aol)&lt;br /&gt;Risalah Malam&lt;br /&gt;Penulis: Faruq&lt;br /&gt;Malam semakin larut. Hujan yang turun sejak senja tadi, menyisakan rintik-rintik kecil. Menambah sunyi sang malam. Menambah dingin angin malam. Membuat cahya rembulan menjadi remang. Sembunyi di balik kerumunan awan. Meninabobokan anak-cucu adam. Lelap dalam tidurnya. Hangat dalam selimutnya. Terbuai dalam mimpinya. Bergumam dalam igaunya. Suasana yang pernah digambarkan Al Ghazali dalam petikan syairnya : Di akhir malam yang makin kelamDi waktu tenang seisi alamAku berbaring di atas ranjang Bagaikan benda yang melayangMalam memasuki separuh masa. Sang purnama mulai berani manampakkan diri. Juga bintang-bintang. Kerlip silih berganti. Menghilangkan kepekatan malam. Memberikan kehidupan. Sebaik-baik kehidupan. Adakah anak-cucu adam yang tersadar? Bangun dari tidurnya? Merasakan kelezatannya? Ataukah mereka cukup puas dengan mimpinya. Hingga tak mendengar panggilan Rabb-Nya.Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan. (QS Al Muzzamil : 1-4) Panggilan itu terdengar sayup. Namun menyusup dalam hembusan angin malam. Menemukan seorang yang menantinya. Yang mengharapkan pertemuan itu. Tanpa dialog panjang, bergegas ia bangkit. Dengan kerinduan yang memuncak. Ia bergegas membersihkan diri. Kemudian larut dalam munajatnya. Mencurahkan isi hati. Menyesali kealpaan diri. Mengharapkan ampunan Rabbi.'...Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir'. (QS Al Baqarah : 286)Ayat demi ayat dalam kitab suci mengalir. Dari lisannya yang lembut. Dari suara hatinya yang bening. Memberikan ketenangan jiwa. Menciptakan kepekaan bathin. Membuang jauh urusan duniawi. Melebur dalam firman-firmanNya yang agung. Hingga suatu saat tubuhnya berguncang hebat. Diiringi oleh isak tangis yang mendalam. Tatkala sekelebat bayangan neraka jahannam nampak di hadapannya... Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka): 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya'. (QS At Thur : 11-14)Jahannam... mungkin tiada yang mampu membayangkan pedih siksanya. Termasuk dirinya. Namun jika membayangkan kotornya hati, lumuran dosa, dan lembaran dusta yang pernah diperbuat, siapa yang menjamin tidak akan menjadi penghuninya ?Untaian kalam ilahi terus mengalir. Isaknya mulai reda. Bahkan tidak tampak lagi. Semburat senyum tipis kini menghias wajahnya yang teduh. Seolah ia sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa. Andai kita tahu apa yang tengah dirasakannya. Namun hanya dia dan Rabbnya yang tahu. Hanya rahasia kecil yang kita tahu. Bahwa kelezatan yang ia rasakan terkait dengan ayat Qur'an yang sedang dilantunkannya... Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): 'Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan', mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. (QS At Thur : 17-20)Surga... ingin rasanya menjadi penghunimu. Tapi layakkah? Makan dan minum dengan hidangan yang terlezat dan selalu tersedia? Bersenda gurau dengan bidadari-bidadari nan cantik bermata jeli?Malam mulai memasuki penghujungnya. Rembulan memberi isyarat untuk berpamitan. Malam itu Sang penanti benar-benar menemukan penantiannya. Dan akan selalu menantikannya kembali. Saat-saat terindah dengan Sang Rabbi pun harus berlalu. Namun ia memiliki energi baru. Untuk membuka lembaran pagi yang baru. Untuk menjalani tugasnya sebagai khalifah bumi. Mencari nafkah untuk anak isteri. Mengajak umat ke jalan ilahi.Tatkala bangkit dari tikar panjangnya, tampak sesosok wanita di belakangnya. Sang istri tercinta. Yang sejak tadi menyertainya. Dalam isak tangisnya. Dalam semburat senyumnya. Wanita itu menggapai tangannya. Mencium erat jemarinya. Menatapnya lekat. Penuh cinta. Sarat makna. Bidadari dunia telah menyambutnya, dan bidadari surga tengah menantinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-5923432567628960680?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/5923432567628960680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=5923432567628960680' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/5923432567628960680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/5923432567628960680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/06/nikmatnya-menjadi-mukmin.html' title='Nikmatnya Menjadi Mukmin'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-5804942750723519043</id><published>2007-06-08T16:01:00.000-07:00</published><updated>2007-06-08T16:02:29.358-07:00</updated><title type='text'>Ketika Da'wah Terasa Sendirian...</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah pertemuan rutin, seorang aktivis 'mengeluhkan' segala yang membuat gundah perjalanan da'wah yang digelutinya. Begitu banyak yang disampaikan dari perasaan bekerja (dalam da'wah) sendiri sampai tak melihat hasil yang dilakukannya. Sang ustadz hanya tersenyum dibalik keseriusannya mendengarkan penuturan aktivis tersebut.Dalam perjalanan hidupnya dakwah memang selalu bertemu dengan yang namanya sunnatulloh. Tak peduli ia ada di desa-desa terpencil, di perkotaan, di rumah-rumah maupun di perkantoran sekalipun. Tak kala ia dilandasi oleh keikhlasan diri dan tujuan yang suci, sungguh tak ada rintangan sebesar apapun yang dianggap kecil dan tak ada halangan kecil pun yang dianggap besar. Semua dihadapi dengan kesungguhan hati karena pada setiap da'I yang terlibat di dalamnya telah terbina sebelumnya dengan segala kemungkinan yang terjadi. Selangkah hambatan bisa saja itu merupakan lompatan yang jauh kedepan. Walaupun tak jarang lompatan yang jauh kedepan seringkali membuat kita terjatuh dan mundur kebelakang. Dan memang, tugas menyampaikan dan menjadi ispirator dan inisiator penggerak ummat bukan hanya terletak pada pundak seorang ustadz atau 'ulama. Justru tugas itu berada pada pundak kita semua sebagai muslim.'Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.' (Qs. 3:104)Walaupun demikian Allah SWT tidak membiarkan da'wah itu berjalan dengan apa adanya. Allah SWT telah memberikan perangkat berupa petunjuk dalam menjalani da'wah yang benar. Allah SWT berfirman :'Katakanlah: 'Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik'. (Qs. 12:108)Ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dalam surat tersebut, diantaranya adalah :Membuat garis demarkasi dalam diri kita antara Al Haq dengan Al Bathil. Dalam surat Yusuf tersebut, kita diperintahkan untuk memisahkan antara yang haq dan yang bathil : katakanlah :'Ini jalan (agama) ku..., sehingga secara tidak langsung Allah SWT memerintahkan kita untuk membenahi diri kita terutama aqidah kita dan membuat garis demarkasi antara kita sebagai penegak da'wah dengan kebathilan itu sendiri. Dan pembenahan diri ini hanya dapat dilakukan dengan pembinaan diri secara menyeluruh dan integral secara berkesinambungan. Proses pembinaan yang beraspek kepada pemurnian aqidah yang shohih, pendalaman keilmuan, perluasan wawasan keislaman dan peningkatan akhlakul karimah dalam keseharian.Mengajak kepada Allah SWT Kalimat berikutnya adalah kita diperintahkan mengajak kepada Allah SWT bukan kepada yang lainnya, bukan kepada kita atau bukan kepada golongan kita. Karena dalam kenyataannya berapa banyak da'i yang merasa 'sakit hati' tak kala orang yang diajaknya tidak mau mengikutinya. Sehingga kita diperintahkan untuk bersabar dan memiliki keikhlasan yang tinggi, karena kata perintahnya (Fi'il) menggunakan fi'il mudhori' artinya istimroriyyah atau berkelanjutan dan terus menerus. Dalam masyarakat terlihat sekali hal ini ketika masa-masa pemilu dilaksanakan. Begitu banyak yang terkecoh untuk mengajak orang lain kedalam partainya dengan mengangkat kepartaiannya bukan nilai yang dibawanya. Hendaknya kita melihat nilai-nilai apa yang diasung oleh partai tersebut. Apakah nilai-nilai Islam ataukah hanya fatamorgana tujuan sesaat.Menggunakan dalil dan faktaHujjah yang kita sodorkan pun harus baik dan benar. Ketika mereka berlogika, kita pun diperbolehkan berlogika selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Karena tidak semua dalam Islam itu dapat dilogikakan. Dalam dakwahpun kita harus memiliki cara-cara yang baik. Allah SWT sudah mengajarkan kita bahwa dakwah harus dilakukan dengan lemah lembut, dengan hikmat dan bukan dengan kekerasan. Kenapa ? karena ada beberapa diantara kita yang mungkin salah mengartikan bahwa muslim itu keras terhadap orang kafir. Bagaimana mungkin mereka (orang-orang kafir) dapat tertarik dengan ajakan kita sementara kita menghujat mereka. Keras disini maksudnya adalah dalam segi aqidah... Ingatlah akan surat al Kafirun. Tetapi takkala apa yang menjadi hak dan kehormatan kita sebagai muslim di ganggu, barulah Islam membolehkan dan bahkan mewajibkan kita untuk memerangi mereka. Disinilah pemahaman akan mencintai dan membenci karena Allah akan teruji. Kita berhak dan harus mengatakan : SAYA MUSLIM.Membuat barisan dan jaringan da'wah Dalam dakwahpun kita juga diperintahkan untuk menggalang persatuan dalam barisan yang kokoh. 'aku dan orang-orang yang mengikutiku'.Di sini harus ada keseragaman visi dan misi yaitu menegakkan kalimatulloh semata. Ingat perkataan sahabat Ali bin Abi Tholib R.A bahwa kebenaran yang melanggar peraturan akan dapat dikalahkan oleh kebathilan yang mengikuti peraturan. Dan dalam surat yang lain, yaitu surat Ash Shaff ayat ke 4 Allah SWT sangat mencintai orang-orang yang berjuang dalam sebuah barisan laksana bangunan yang kokoh.Berfokus kepada proses bukan kepada hasil Lalu apa yang keluar dari seorang da'i ketika ia berjuang menegakkan kalimat Allah SWT ? Tak ada kata lain kecuali perkataan yang baik, SubhanAllah Maha Suci Allah SWT. Artinya bahwa segala apa yang terjadi adalah karena kehendak Allah SWT. Ketika orang mengikuti kita itu karena kehendak yang Allah SWT limpahkan dan bukan karena usaha kita semata sehingga tidak ada rasa takabbur atau sombong dalam diri kita. Begitu juga ketika orang melecehkan kita, bagi seorang da'i itu hanyalah hikmah yang dapat diambil pelajaran baginya, diantaranya, bahwa bukan kita (da'i) yang dapat memberikan hidayah tapi hanya Allah yang dapat memberikan hidayah. Juga memberikan pelajaran kepada kita bahwa kita harus memperbaiki cara-cara yang mungkin selama ini salah dalam penerapannya.Berpegang teguh kepada Al Islam sampai ajal menjemputAkhirnya, apa yang kita lakukan itu semakin membulatkan hati dan aqidah kita kepada Allah SWT. Yaitu dengan perkataan :…dan tiada aku termasuk orang-orang yang musyrik... Tidak ada yang patut kita sembah, kita taati, kita ikuti kecuali Allah SWT. Kita akan semakin menyadari konsekuensi syahadat yang kita ucapkan dan akan senantiasa terhujam dalam diri kita kebenaran dalam lindungan Allah SWT.Wallohu a'alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-5804942750723519043?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/5804942750723519043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=5804942750723519043' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/5804942750723519043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/5804942750723519043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/06/ketika-dawah-terasa-sendirian.html' title='Ketika Da&apos;wah Terasa Sendirian...'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-8258716252854197019</id><published>2007-06-08T15:59:00.000-07:00</published><updated>2007-06-08T17:25:23.436-07:00</updated><title type='text'>10 Jawaban Kepada Saudariku Untuk Segera Berhijab</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu.' (Q.S. an-Nisa:59)'Orang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.' (H.R. At Thabrani)Bahwa seorang mukmin dapat mengenali kekurangannya dari mukmin lainnya, sehingga ia laksana cermin bagi dirinya.Islam juga menganjurkan dan mengajak penganutnya agar sebagian mereka mencintai sebagian yang lain, dimana diantaranya engkau berharap agar saudaramu masuk Surga dan dijauhkan dari api Neraka. Tak sebatas mengharap, namun berupaya keras dan maksimal menyediakan berbagai sarana dari hal-hal yang membahayakan dan merugikannya, di dunia maupun di akhirat kelak.Allah Subhaanahu wa Ta'ala, dalam Q.S. Al Ahzab : 59 berfirman :'Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.''Katakanlah kepada wanita yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.' (Q.S. An Nur : 31) Dalam perjalanan hidup saya, saya mendapati beberapa alasan yang senantiasa terulang ketika ajakan untuk berhijab dikumandangkan. Oleh karenanya, semoga risalah ini dapat bermanfa'at bagi saudariku sekalian, dan memperteguh mereka yang masih ragu-ragu dalam menunaikan kewajiban utama muslimah ini. Alasan-alasan yang sering saya temui antara lain :1. Tubuh ini adalah ciptaan Allah, dan keindahannya bukan untuk ditutupi, melainkan diperlihatkan.Saudariku, begitu banyak nikmat yang diberikan Allah kepada kita, baik yang kita tidak sadari hingga yang terlihat di depan mata kita. Cara mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah SWT, yang menciptakan diri kita adalah dengan beribadah menurut tuntunanNya, dan memasrahkan diri sepenuhnya kepada segala ketentuan dan aturanNya. Karena ketidakpatuhan kita akan menjebak kita ke dalam perangkap penolakan/pembangkangan atas Rabb kita.Berfirman Allah SWT dalam Q.S Al Baqarah : 216,'Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.'Pernahkah kita bayangkan manakala Allah mencabut nikmat kecantikan yang dititipkan kepada kita? Pernahkah kita sadari bahwa kecantikan itu adalah ujian dari Allah, sejauh mana ia bersyukur atas kecantikannya itu? Pernahkan kita renungi manakala Allah meminta pertanggungjawaban dari nikmat kecantikan yang telah dianugerahkanNya, sementara kita menggunakannya tidak berlandaskan syari'at Allah?Dan jika engkau menjawab, 'Kecantikah itu untuk diperlihatkan, bukan untuk ditutupi, maka kembali kita perlu bertanya :&lt;br /&gt;Relakah engkau kecantikanmu dinikmati oleh orang yang dekat dan yang jauh darimu?&lt;br /&gt;Relakah engkau menjadi objek yang dilihat, bagi semua orang, yang jahat maupun yang terhormat?&lt;br /&gt;Bagaimana engkau bisa menyelamatkan dirimu dari mata para pria?&lt;br /&gt;Maukah kamu jika dirimu dihargai serendah itu, sementara engkau bisa menjadi seorang wanita yang mulia di mata Allah SWT?&lt;br /&gt;2. Aku takut dijauhi teman-teman, dikeluarkan dari kerjaan (kehilangan mata pencaharian), dan mendapat posisi yang rendah.Saudariku, rizki ada di tangan Allah. Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini telah diberikan kadar rizkinya, tinggal apakah kita mau menjemputnya ataukah tidak.Telah banyak terjadi di sekitar kita cerita-cerita nyata kegigihan mereka pada prinsipnya, yang seharusnya semakin memperkuat keyakinan kita semua, bahwa rizki bukan ditangan manajemen kantor, namun berada di tangan Allah. Kekayaan yang kita miliki hari ini, kemuliaan di hadapan manusia yang kita rasakan dapat dengan hilang dengan amat segera, manakala Allah mencabutnya.Berfirman Allah SWT dalam Q.S. Ali 'Imran : 26,'Katakanlah: 'Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.'Dan ingatlah bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hambaNya yang berusaha bertaqwa dan istiqomah berpegang teguh memperjuangkan prinsip keislamannya. Ingatlah firman Allah SWT dalam Q.S. Ali 'Imran : 195 'Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), 'Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.'Dalam ayat lain, Allah melanjutkan,'Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.' (Q.S. Al A'raaf : 170)'Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.' (Q.S. Hud : 115)Adapun ketakutan dijauhi teman-teman, adalah ketakutan yang seharusnya tidak terjadi. Karena seorang mukmin seharusnya menjadi tenang dan tentram dengan Allah bersamanya. Tidak ada lagi yang dia dambakan kecuali kedekatan dan kecintaan Allah padanya.3. Saya senantiasa menjaga amalan ibadah saya yang lain kok, kecuali hijab, saya belum mampu untuk memakainya.Saudariku, kalau memang Anda sudah melakukan amalan-amalan terpuji, yang berpangkal dari iman, dan kepatuhan pada perintah Allah, serta takut siksaanNya jika meninggalkan kewajiban itu, mengapa Anda beriman kepada sebagian dan tidak beriman kepada sebagian yang lain, padahal sumber perintah itu hanya satu?Sebagaimana shalat yang selalu Anda jaga adalah sebuah kewajiban, maka hijab pun demikian. Kewajiban mengenakan hijab tidak diragukan dalam Al Qur'an dan As Sunnah.Berfirman Allah SWT dalam Q.S. Al Baqarah:85 ketika mencerca Bani Israil :'Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tidaklah balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang amat pedih. Allah tidak lengah atas apa yang kamu perbuat'.Padahal ............... digambarkan oleh Rasulullah SAW,'Sesungguhnya penghuni Neraka yang paling ringan adzabnya pada hari Kiamat adalah orang yang diletakkan kedua telapak kakinya dua bara api, dari dua bara api ini otaknya mendidih, sebagaimana periuk yang mendidih dalam bejana besar yang dipanggang dalam kobaran api.' (H.R. Bukhari)Jika seperti itu adzab yang paling ringan di hari Kiamat, maka bagaimana adzab bagi orang yang diancam Allah dengan adzab yang pedih, sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas, yang beriman kepada sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain?4. Saya belum siap berperilaku dan berakhlak sebagaimana muslimah yang berjilbab. Yang berjilbab saja perilakunya tidak sesuai dengan jilbabnya.Saudariku, kewajiban harus diutamakan diatas segalanya.Berfirman Allah SWT, dalam kumpulan kalam Ilahinya, Q.S. Al Baqarah : 208,'Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.'Tunaikanlah kewajibanmu dahulu kepada Penciptamu, dan kemudian secara perlahan memperbaiki segala akhlak buruk yang masih sulit engkau tinggalkan. Apakah engkau tidak sadar, dengan semakin lamanya engkau tunda berhijab, maka sedemikian menumpuklah dosa besar yang terus menggunung, yang harus dibalas dengan siksaan Allah, kuatkah engkau menjalaninya? Dosa yang terus mengalir dari hari ke hari, semakin memperberat timbangan dosa kita. Segeralah kita menuju jalan Allah.Sementara bagi mereka yang telah berhijab, namun perilakunya tidak sesuai dengan hijabnya, maka berprasangka baiklah, bahwa minimal ia telah menunaikan tugasnya sebagai hamba Allah, dalam hal menutup auratnya, sedangkan engkau masih enggan menjalaninya. Adapun sifat kurang baiknya adalah tugas kita bersama untuk memperbaikinya, dengan nasihat-nasihat yang baik, dan ikhlas, karena boleh jadi ia belum mengetahui ilmunya, sementara ia baru mendapatkan ilmu wajibnya berhijab, dan ia segera menunaikannya.Adapun kesiapan diri, maka sifatnya amatlah abstrak. Tidak ada parameter pasti yang mampu mengukur tingkat kesiapan seseorang, kecuali kalimat Sami'na wa Atho'na, sebagai implementasi Laa Ilaaha Illa Allah (Tidak ada yang lebih aku cintai kecuali Allah semata, hidupku hanyalah untuk Allah, Yang Menciptakanku, dan kepadaNya kelak aku akan kembali.Saudariku, harus bisa kita bedakan antara perintah manusia dan perintah Tuhan. Perintah manusia bisa salah dan benar. Imam Malik r.a. pernah berkata, 'Setiap orang bisa diterima ucapannya dan juga bisa ditolak, kecuali (perkataan) orang yang ada di dalam kuburan ini (Rasulullah)'.Jika perintah itu datang dari Allah di dalam kitabNya, atau melalui NabiNya, maka tidak ada bagi manusia untuk mengatakan 'saya belum mantap', padahal Dia Maha Mengetahui bahwa perintah itu untuk kebaikan kita, dan salah satu sebab tercapainya kebahagiaan kita.Padahal Allah menyukai orang-orang yang berkata, 'Sami'na wa atho'na, ghufronaka rabbanaa wa ilaykal mashiir (Q.S. Al Baqarah:285)', (Kami dengar dan kami segera ta'at, ampuni kami ya Allah, kepadaMulah tempat kembali kami), dan padahal Allah membenci orang-orang yang berkata, 'Sami'na wa 'ashoina (Q.S. Al Baqarah:93/Q.S. Annisa:46)', (Kami dengar tapi kami tidak mena'atinya).Alangkah hinanya kita ketika kita tidak menuruti keinginan Yang Menciptakan kita. Sementara ucapan 'Aku belum mantap' adalah ucapan yang berbahaya, karena bermakna ia meragukan kebenaran perintah tersebut, dan bermakna ia tidak mencintai Penciptanya, Rabbul 'Alamin.Berfirman Allah SWT dalam Q.S. Al Ahzab : 36 :'Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi wanita mukminah, apabila Allah dan RasulNya telah menerapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.'Begitu kerasnya Allah berfirman dalam ayat diatas, apakah kita tidak takut dimasukkan Allah dalam golongan orang-orang yang sesat?5. Saya belum dapat hidayah. Do'akanlah aku agar segera mendapat hidayah.Saudariku, hidayah tidak datang dengan sendirinya. Hidayah membutuhkan pencaharian. Dan bagaimanakah engkau mengetahui bahwa Allah belum memberimu hidayah? Apakah engkau mengetahui sesuatu yang ghaib yang ada dalam kitab yang tersembunyi (Al Lauh Al Mahfuzh), ataukah engkau mendapatkan bisikan dari golongan jin atau manusia?Telah berfirman Allah SWT dalam Q.S. Muhammad:17,'Dan orang-orang yang meminta petunjuk, Allah (akan) menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.'Ingatlah bahwa dalam hidayah, terdapat campur tangan dan usaha manusia, maka ikutilah petunjuk Allah agar engkau semakin dekat dengan hidayah Allah. Carilah sebab-sebab untuk mendapatkannya.Berfirman Allah SWT dalam Q.S. Ar Ra'd:11,'Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.'Fahamilah sunnatullah.Wahai saudariku, berusahalah mendapatkan sebab-sebab hidayah, niscaya akan engkau dapatkan dengan izin Allah. Banyaklah berdo'a kepada Allah, pilihlah teman yang shalihah, banyaklah membaca, pelajari dan renungilah Kitab Allah, ikutilah majelis-majelis dzikir dan ceramah-ceramah agama, dengarkanlah kaset-kaset pengajian, dan bacalah buku-buku tentang keimanan. Di sisi lain, hendaklah engkau terlebih dahulu meninggalkan hal-hal yang bisa menjauhkan dirimu dari datangnya hidayah, seperti teman yang tidak baik, bacaan-bacaan yang tidak bermanfa'at, tayangan-tayangan televisi yang buruk, dan hal-hal lainnya.6. Insha Allah saya akan berhijab setelah menikah kelak.Saudariku, bagaimana mungkin engkau dapat memastikan sesuatu yang engkau pun belum yakin apakah usiamu sampai hingga menikah kelak ataukah tidak. Bagaimanakah jika engkau telah dipanggil Allah dalam keadaan belum berhijab? Tidakkah engkau takut mati dalam keadaan masih tidak beriman pada sebuah kewajiban Allah yang amat mendasar bagi seorang muslimah? Bagaimana ketika hari ini kita telah berniat berbuat sebuah kebaikan yang kita telah tahu ilmunya, namun kita tunda karena beberapa alasan, namun ternyata di kemudian hari, usia kita tidak sampai merealisasikannya, karena Allah telah mencabut nyawa kita, maka bagaimana kita mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah kelak? Kenapa kita menundanya? Kemana usia kita kita gunakan di dunia? Sejauh mana cinta kita pada Allah dan RasulNya?Saudariku, kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sakit, tidak pula orang yang lanjut usia saja, tetapi juga orang-orang yang sehat wal afiat, orang dewasa, pemudi, bahwa sampai bayi yang masih menyusu pada ibunya. Banyak contoh yang dapat kita ambil dari kejadian di sekitar kita.Dalam Kitaabun Nikah, Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits Rasulullaah SAW,'Wanita itu dinikahi karena empat hal. Yaitu karena harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang berpegang teguh dengan agama, (jika tidak) niscaya kedua tanganmu berlumur debu.'Wanita yang shalihah untuk pria yang shalihah.Boleh jadi, wanita yang terbiasa memperlihatkan kecantikan tubuhnya -- yang dimaksudkan untuk menawan hati pria -- malah membuat para pemuda enggan menikahinya, karena beranggapan, jika wanita tersebut berani melanggar salah satu perintah Allah, yaitu hijab, tidak menutup kemungkinan dia akan berani melanggar perintah-perintah yang lain. Karena syaithan memiliki banyak langkah.7. Sesungguhnya iman itu ada di hati, dan juga Allah Maha Tahu kalaupun nanti saya telah berniat untuk berhijab.Saudariku, benar yang telah engkau katakan bahwa iman berada di dalam hati, sebagaimana sabda Rasulullaah SAW, 'Taqwa itu ada disini, seraya menunjuk ke arah dadanya.' (H.R. Muslim)Namun jangan sampai salah dalam mengartikan hadits di atas. Penulis kitab Nuzhatul Muttaqin berkata, 'Hadits ini menunjukkan pahala amal tergantung keikhlasan hati, kelurusan niat, perhatian terhadap situasi hati, kebenaran tujuan, dan kebersihan hati dari segala sifat tercela yang dimurkai Allah.'Bahwa Rasulullah SAW tidak memaksudkan bahwa iman tidak akan sempurna kecuali hanya di dalam hati saja, tetapi amal perbuatan tetap harus diperlihatkan kepada Allah, sementara hati adalah benteng terakhir selamatnya perbuatan kita.Bahwa telah sepakat jumhur ulama bahwa, 'Keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan pelaksanaan dengan anggota badan.'Dan akan lebih jelas lagi ketika kita menemukan firman Allah dalam Q.S. al-Ankabut:1-3,'Alif Laam Miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta.'8. Saya sangat ingin berhijab, tapi suami saya lebih suka dengan keindahan rambut saya ketika tidak berhijab, lebih cantik katanya.Saudariku, ketaatan kepada Allah harus didahulukan daripada ketaatan kepada makhluk, siapapun dia. Setelah ketaatan kepada Allah, kedua orang tua lebih berhak untuk ditaati dari yang lainnya, selama itu bukan dalam kemaksiatan.Bersabda Rasulullah SAW,'Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam kebaikan.' (H.R. Bukhari dan Muslim)'Dan tidak boleh taat kepada makhluk dengan mendurhakai (bermaksiat) kepada al-Khaliq.' (H.R. Ahmad)Harus disadari bahwa halangan yang dihadapi merupakan ujian bagi setiap hamba, karena memang meraih Surga tidaklah semudah meraih Neraka.Bagi sang suami, harus ada seseorang yang mampu menasihatinya agar bertaqwa kepada Allah dalam urusan keluarganya. Dan hendaknya ia bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepadanya isteri yang ingin menerapkan salah satu perintah Allah, yakni memakai pakaian sesuai ketentuan syari'at, sehingga menjaga keselamatan dirinya dari fitnah. Dan mengingatkan dia sebuah kalam Ilahi dalam Q.S. At Tahrim:6, 'Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.'Ayat diatas mendapat penegasan pula dari Rasulullah SAW, dalam haditsnya,'Seseorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.' (H.R. Bukhari)Sehingga patutkan bagi seorang suami untuk memaksakan kehendaknya agar sang isteri tidak menutup auratnya dengan sempurna sebagaimana mestinya?Adapun bagi isteri, tetaplah untuk tidak menaati suami dalam kemaksiatan terhadap Allah, sampai kapanpun. Dan dalam tataran teknis, perhatikanlah adab sopan santun dan cara-cara yang hikmah dalam menyampaikannya kepada suami, bisa secara mesra, dan lemah lembut, dan tidak menggunakan kalimat-kalimat yang memancing emosi ataupun amarah, dan terkesan menggurui. Dan tetaplah tabah dan sabar menghadapi celaan, ejekan, dan hinaan, dan tidak boleh menyebabkan hubungan dengan suami menjadi retak. Hendaklah selalu meminta pertolongan Allah agar diberi keteguhan dalam prinsip, kemudahan dan jalan keluar dari kesulitan ini, kemudian meminta pertolongan sanak kerabat, dan kawan-kawan dekat suami. Senantiasalah membalas segala keburukan dengan kebaikan, dan pilihlah saat-saat yang tepat untuk dialog, dan sadarilah sekali lagi bahwa jalan ke Surga memang penuh dengan onak dan duri, dan tidak akan diberikan Allah kecuali setelah melewati kepayahan, kerja keras, dan tabah menanggung segala rintangan dan hambatan di jalan Allah.9. Kata orang tua saya, tidak berhijab lebih baik. Dan saya yakin orang tua selalu menginginkan yang terbaik buat anaknya.Saudariku, benar bahwa orang tua pasti selalu menginginkan yang terbaik buat anak puterinya. Namun, harus kita fahami, bahwa orang tua kita berpendapat akan sesuatu amat dilandasi oleh pemahamannya. Terkait masalah jilbab, amat boleh jadi, orang tua kita belum mendapatkan ilmunya, sejak kecilnya. Maka tugas kitalah secara perlahan-lahan menyadarkan orang tua kita, dan melakukan lobi-lobi internal, agar akhirnya menjadikan orang tua kita pendukung sejati niat kita untuk berhijab, dan bahkan mengikuti anaknya dalam berhijab. Subhanallah.Nabi kita, Rasulullah SAW pernah bersabda,'Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan ditanya tentang yang dipimpinnya ....' (H.R. Bukhari)Seorang ayah adalah pemimpin dalam rumah tangga, dan akan ditanya Allah di hari Kiamat tentang orang-orang yang berada dibawah kepemimpinannya. Hendaknya seorang ayah bertanya pada dirinya sendiri :- Berapa banyak pemuda yang telah tergoda oleh puterinya?- Seberapa jauh puterinya telah menyebabkan penyimpangan para pemuda?- Berapa banyak hinaan yang dilontarkan para pemuda kepadanya?Semoga Allah senantiasa mengisi hati kita dengan cahayaNya yang tidak pernah padam, dan memenangkan kita dalam pertarungan kita melawan kejahatan syaithan, jin, dan manusia. Memerdekakan diri kita dari tawanan hawa nafsu, menuju alam kebebasan, kemuliaan, kehormatan, dan ketenangan, dan alam kesucian.10. Hijab hanyalah kebudayaan orang Arab, dan hijab tidak sesuai dengan mode masa kini.Saudariku, memang benar bahwa kebanyakan budak wanita di masa Rasulullah tidak berhijab, dan sebagian dari hartawan di kalangan wanita mengenakan hijab. Tapi kita harus fahami sebuah kejadian menarik di Madinah ketika Surah Al Ahzab:59 diturunkan, dimana terjadi Peristiwa yang amat menghebohkan di Madinah. Kedua setelah MIRAS. Apakah itu? Bagaimana 10 tahun awal da'wah Rasulullaah di Makkah Al Mukarramah tidak pernah menyinggung masalah syari'at. Beliau hanya menekankan pada masalah tauhid dan aqidah. Karena memperkuat penyerahan diri manusia atas Penciptanya adalah yang paling utama. Membina keikhlasan dan kesungguhan (mujahadah) dalam mengusung kalimat 'Laa ilaaha illallaah wa Muhammad Rasul Allah' adalah sebuah keniscayaan. Sehingga kita lihat bersama, bagaimana setelah keimanan umat Islam di Madinah telah begitu kokohnya, dan begitu pasrahnya mereka akan aturan Allah, dan begitu cintanya mereka pada Rasul Allah, ketika turun ayat Al Qur'an yang memerintahkan kaum wanita untuk mengenakan kerudung hingga ke dadanya, dan tidak memperlihatkan auratnya kepada laki-laki, pamannya, dll, (sebagaimana tercantum dalam Al Qur'an), dan ketika berita ini sampai ke telinga mereka, maka prinsip mereka hanya satu, yakni SAMI'NA wa ATHO'NA, kami dengar dan kami segera ta'at. Seluruh pasar-pasar di madinah, seluruh tempat-tempat di madinah menjadi riuh, karena para wanitanya yang saat itu sebagian besar tidak berkerudung, berlari ke sana kemari mencari segala sesuatu yang bisa menutupi rambut mereka, seperti goni, gorden rumah, dll. Subhanallaah, begitulah kita lihat bersama bagaimana mereka benar-benar hanya mengharapkan kebaikan di akhirat yang kekal abadi saja.Dan ingatlah bahwa ayat itu tidak diturunkan khusus untuk orang Arab, tapi kalimatnya ditujukan untuk seluruh wanita-wanita mukmin, wanita-wanita yang benar-benar beriman kepada Penciptanya.Saudariku sekalian, demikian 10 Jawaban yang saya susun, tiada lain kecuali berharap mengetuk pintu kesadaran saudariku sekalian untuk kembali kepada tuntunan suci Al Qur'an dan As Sunnah, agar jalan hidup kita menjadi lurus, dan mendapatkan kebaikan hidup baik di dunia maupun kehidupan akhirat kelak yang tidak memiliki batasan akhir kehidupan (kekal abadi). Apakah kita kekal dalam kebahagiaan, atau kekal dalam siksanya Allah, seluruhnya terpulang pada diri kita masing-masing. Tidak ada seorangpun yang berhak memaksa orang lain untuk berpaling dari keyakinannya, hanya kewajiban menyeru ke jalan Allah lah yang wajib ditunaikan.Berfirman Allah SWT dalam Q.S. Al Baqarah : 272,'Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya'.Oleh karenanya, janganlah kita termasuk kepada golongan orang-orang yang mengunci mati hati mereka dari datangnya petunjuk, menutup rapat-rapat telinga kita, sehingga hidayah semakin jauh dari kita. Bersegeralah menuju ridhonya Allah, di hari-hari hidup kita yang masih tersisa ini.Allaahu a'lam, waliyyut taufiiq.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-8258716252854197019?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/8258716252854197019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=8258716252854197019' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/8258716252854197019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/8258716252854197019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/06/10-jawaban-kepada-saudariku-untuk.html' title='10 Jawaban Kepada Saudariku Untuk Segera Berhijab'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-3867400636844187009</id><published>2007-06-08T15:57:00.000-07:00</published><updated>2007-06-08T17:16:31.376-07:00</updated><title type='text'>Sabar Itu Indah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RmnxME8142I/AAAAAAAAAB4/iT12TXAZXVw/s1600-h/8143881_703ab11ddd_m.jpeg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073851644999230306" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RmnxME8142I/AAAAAAAAAB4/iT12TXAZXVw/s400/8143881_703ab11ddd_m.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas kesabaran kita diuji sepanjang jalan kita meraih tujuan, untuk menjadikan diri kita orang yang tenang dan penuh kasih sayang. Semakin kita sabar, semakin dapat menerima hidup ini apa adanya bukan semakin memaksakan hidup ini persis seperti yang kita kehendaki. Tanpa kesabaran, hidup pastilah akan membuat kita sangat frustasi. Kita akan mudah jengkel, terganggu, dan merasa disakiti. Kesabaran menambahkan suatu dimensi ketenteraman dan rasa menerima pada hidup kita. Dimensi yang sangat penting bagi ketenangan batin. "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung." (Ali Imran: 200).Menjadi lebih sabar mengharuskan kita membuka hati kita pada saat sekarang, bahkan bila kita tidak menyukainya. Bila kita terjebak di tengah kemacetan total, terlambat datang ke sebuah pertemuan, membayangkan saat-saat itu akan berarti memerangkap diri kita, membentuk bola salju mental sebelum pikiran kita keluar dan mengingatkan kita untuk santai. Ini juga mungkin waktu yang baik untuk meraih nafas dan juga kesempatan untuk mengingatkan dirimu bahwa, pada skema yang lebih besar, terlambat adalah "masalah kecil". "Siapa saja yang melatih dirinya untuk bersabar, niscaya Allah akan memberikan kepadanya kekuatan sehingga mampu bersabar." (Al Hadits).Kesabaran juga mengharuskan kita melihat ketidakbersalahan pada diri orang lain. Seringkali ketika aku sedang menulis, ibu memanggilku untuk melakukan ini itu, yang bagi seorang penulis bisa sangat membuyarkan konsentrasi. Yang aku ingat setelah itu, adalah jasa-jasanya yang begitu banyak, yang telah diberikannya kepadaku, bukan memikirkan implikasi yang bisa terjadi pada pekerjaanku karena gangguannya itu ("Aku tak bisa menyelesaikan pekerjaanku, aku kehilangan ilham, hari ini aku tak punya waktu lagi untuk menulis,dan seterusnya").Aku ingatkan diriku mengapa ibu menyuruhku melakukan ini itu – karena aku anaknya, dia masih percaya kepadaku, bukan berencana merusak pekerjaanku. Bila aku ingat untuk melihat ketidakbersalahan, aku akan segera memunculkan suatu perasaan sabar, dan perhatianku balik kembali ke masa sekarang. Rasa terganggu yang mungkin terbentuk menjadi lenyap dan aku diingatkan sekali lagi, bahwa betapa beruntungnya aku memiliki ibu yang telah melahirkanku.Aku menemukan bahwa bila kita melihat lebih jauh, kita dapat hampir selalu melihat ketidakbersalahan di dalam diri orang lain, dan juga di dalam setiap situasi yang baik membuat frustasi. Bila kita melakukannya, kita akan menjadi orang yang lebih sabar dan tenang dan, dengan cara yang aneh, kita mulai menikmati saat-saat yang biasanya akan membuat kita frustasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-3867400636844187009?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/3867400636844187009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=3867400636844187009' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/3867400636844187009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/3867400636844187009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/06/sabar-itu-indah.html' title='Sabar Itu Indah'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RmnxME8142I/AAAAAAAAAB4/iT12TXAZXVw/s72-c/8143881_703ab11ddd_m.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-3225731948085010163</id><published>2007-06-08T15:50:00.000-07:00</published><updated>2007-06-08T17:06:12.911-07:00</updated><title type='text'>Apa Pantas Berharap Surga?</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/Rmnupk8141I/AAAAAAAAABw/NnsNq6u5qUQ/s1600-h/436304204_e66f93ea0e_m.jpeg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073848853270487890" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/Rmnupk8141I/AAAAAAAAABw/NnsNq6u5qUQ/s400/436304204_e66f93ea0e_m.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah? Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata. Baca Qur'an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman? Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi. Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah? Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya. Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak? Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri? Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah? Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan. Astaghfirullaah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-3225731948085010163?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/3225731948085010163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=3225731948085010163' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/3225731948085010163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/3225731948085010163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/06/apa-pantas-berharap-surga.html' title='Apa Pantas Berharap Surga?'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/Rmnupk8141I/AAAAAAAAABw/NnsNq6u5qUQ/s72-c/436304204_e66f93ea0e_m.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-2802710397504063358</id><published>2007-05-27T20:29:00.000-07:00</published><updated>2007-05-27T20:48:09.437-07:00</updated><title type='text'>Jika Aku Jatuh Cinta</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RlpPjxBrfhI/AAAAAAAAABo/kkk_jVY7hMk/s1600-h/427977425_096af12284_m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5069451806433312274" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RlpPjxBrfhI/AAAAAAAAABo/kkk_jVY7hMk/s400/427977425_096af12284_m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, jika aku jatuh cinta,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;cintakanlah aku pada seseorang yang&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;melabuhkan cintanya pada-Mu,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.&lt;br /&gt;Ya Muhaimin,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;jika aku jatuh cinta,j&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;agalah cintaku padanya agar tidak&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;melebihi cintaku pada-Mu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Ya Allah, &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;jika aku jatuh hati,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;izinkanlah aku menyentuh hati seseorang&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;yang hatinya tertaut pada-Mu&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;,agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.&lt;br /&gt;Ya Rabbana,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;jika aku jatuh hati,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;jagalah hatiku padanya agar tidak&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;berpaling pada hati-Mu.&lt;br /&gt;Ya Rabbul Izzati,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;jika aku rindu,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;rindukanlah aku pada seseorang&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;yangmerindui syahid di jalan-Mu.&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;jika aku rindu,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;merindukan syurga-Mu.&lt;br /&gt;Ya Allah, &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;menyeru manusia kepada-Mu.&lt;br /&gt;Ya Allah, &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;jangan biarkan aku melampaui batas&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;sehingga melupakan aku&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;(dalam rinduku)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-2802710397504063358?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/2802710397504063358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=2802710397504063358' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/2802710397504063358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/2802710397504063358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/05/jika-aku-jatuh-cinta.html' title='Jika Aku Jatuh Cinta'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RlpPjxBrfhI/AAAAAAAAABo/kkk_jVY7hMk/s72-c/427977425_096af12284_m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-1082091420984319526</id><published>2007-05-27T19:59:00.000-07:00</published><updated>2007-05-27T20:09:28.459-07:00</updated><title type='text'>ADA APA DENGAN CINTA</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RlpHTxBrfgI/AAAAAAAAABg/9sG48Kp616I/s1600-h/517123977_718ac576a4_m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5069442735462383106" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RlpHTxBrfgI/AAAAAAAAABg/9sG48Kp616I/s320/517123977_718ac576a4_m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;ketika masih duduk semester VI di STAI Luqman Al Hakim Hidayatullah Surabaya, ada salah seorang teman dipanggil oleh pengasuh. Setelah kembali teman itu sebutlah si Ali (Nama samaran) menceritakan pengalamannya ketika dipanggil oleh Pengasuh. Ternyata Ali dipanggil karena dia terjangkit virus CBSA….tuh istilah yang digunakan bagi kami para aktivis pondok. CBSA itu singkatan dari “cinta bersemi sesama aktivis”. Emang sich dipondok kami bagi yang sedang menempuh jenjang pendidikan regular untuk menahan diri dari yang namanya terang-terangan dalam “Proses” menggenapkan addin(Menikah). Ada satu jawaban yang membuat saya sedikit terperangah ketika Ali ditanya teman tentang perasaannya dengan santai Ali mengatakan kalau “sehari saja tidak berjumpa dengan dia serasa satu tahun”&lt;br /&gt;ah..cinta..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu terpana dengan cinta. Membuat pikiran ini dengan susah payah membayangkan seorang Abu Bakar yang menahan air matanya karena digigit kalajengking ketika Rasulullah tidur dipangkuannya ketika perjalanan hijrah, walaupun akhirnya air matanya jebol juga mengenai wajah Rasulullah yang kemudian terbangun lantas bertanya kenapa menangis. Lantas Abu Bakar mencertikan tentang keadaannya. Dan diakhiri dengan “aku takut dengan tangisku membangunkanmu”. Berkat mukzizat Rasul, sakit itu pun berhasil disembuhkan. (Sumber, ‘Berkas-berkas Cahaya Kenabian’, Ahmad Muhammad Assyaf). Seorang sahabat pernah bernasyid di depan saya, menukil sebuah nasyid yang dipopulerkan oleh SNADA. Ingin kukatakan, arti cinta kepada dirimu dindaAgar kau mengerti, arti sesungguhnyaTak akan terlena dan terbawa, alunan bunga asmara Yang kan membuat dirimu sengsara Cinta suci luar biasa, rahmat sang penciptaKepada semua hamba-hambanya Jangan pernah kau berpaling dari cintaCinta dari sang maha penciptaKau pasti tergoda… Nyanyian itu membuat saya merenung panjang lebar. Yups, ketemu deh. Ada cinta positif, ada juga cinta negatif. Jika cinta adalah energi, maka akan muncul pula energi positif dan energi negatif. Adanya energi membuat semua terasa ringan. Dengan energi, gampang saja si Edo misalnya, menghajar serombongan preman yang mengusili pacarnya, Dewi. Konon cinta bisa membuat si penakut menjadi pemberani. Dengan energi pula puasa ramadhan terasa begitu indah, meskipun sebulan penuh kita diperintahkan untuk tidak makan dan minum dari terbit hingga terbenam matahari.&lt;br /&gt;Kendali, itu kuncinyaEnergi itu akan di dihasilkan oleh reaktor hati, pembedanya adalah faktor pengendali. PLTN adalah sebuah tempat berlangsungnya reaksi nuklir yang terkendali, sehingga energi yang dilepaskan dapat menjadi komponen yang berfungsi untuk manusia. Itu energi positif. Jika reaksi nuklir tidak terkendali, bayangkanlah ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menewaskan ratusan ribu manusia dan menimbulkan kerugian yang luar biasa. Itu energi negatif. Karena reaktor tersebut adalah hati, maka semua manusia pasti memilikinya. Positif atau negatif tergantung pada pengendalian manusia tersebut terhadap hati yang dimiliki. Seperti sabda rasulullah SAW : “Inna fii jasadi mudhghotan Idza sholuhat sholuhal jasadu kulluhu. Waidza fasadat fasadal jasadu kulluhu. Alaa wahiyal qolbu.” Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruhnya. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruhnya. Ingatlah bahwa ia adalah hati. (HR Bukhari Muslim). Cinta Negatif, Apaan tuh?!Adalah cinta yang dialirkan dari energi tak terkendali. Ini nich, cinta yang merusak. Terlahir dari syubhat dah syahwat. Ngakunya moderat, padahal kuno berat. Bagaimana tidak kuno, cinta yang lahir dari syahwat mulai ada sejak jaman bauhela, bagaimana mungkin orang yang tidak pacaran disebut sebagai ‘ketinggalan jaman?’ Cinta negatif kini telah membanjiri pasaran, menebar kemadhorotan. Remaja gelagapan dan tidak tahu jalan, akhirnya ikut-ikutan. Pacaran, free sex, kumpul kebo, selingkuh… mendadak jadi tren. Secara normatif, semua perempuan tidak mau melihat lelaki yang dicintai ngabuburit dengan perempuan lain. Namun anehnya, ia malah berdandan seseksi mungkin agar lelaki lain tertarik padanya. Mana bisa kesetiaan dipertahankan jika syahwat dikedepankan?Mau tahu korban dari cinta negatif? Kerusakan moral. Yap! Survey di Yogyakarta menyebutkan 97,05% mahasiswa di Yogya tidak perawan, Survey itu dilakukan kepada 1660 responden dan hanya 3 orang yang mengaku belum melakukan aktivitas seks termasuk masturbasi! Astaghfirullah. Terlepas dari pro dan kontra tentang kashahihan hasil survey itu, jelas… data yang tercatat menunjukan sebuah ketakutan yang luar biasa bagi para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ke Yogya. Cinta negatif telah menjelma menjadi teroris! Bukan hanya cinta yang mengeksploitasi seks, juga cinta kepada tahta dan harta yang membuat manusia berubah menjadi serigala yang sanggup tertawa-tawa ketika mengunyah bangkai rekan sendiri. Menggapai Cinta PositifCinta positif adalah cinta yang frame-nya adalah cinta karena Allah. Cinta kepada Allah sebagai cinta yang hakiki, sedang cinta kepada selain Allah dilaksanakan dalam rangka ketaatan kepada Allah. Jika diatas disebutkan bahwa kata kuncinya adalah ‘kendali hati’, maka jelas, untuk menggapai cinta positif, hati harus pertama kali ditundukan. Jika hati telah ditundukkan maka akan bisa kita kendalikan. Jika hati terkendali, yakin deh, seluruh jasad dan akal kita pun mampu selaras dengan sang panglimanya tersebut. Bahasa Pena?Jika cinta adalah energi, maka yang terlahir dari cinta adalah produktivitas. Pena hanya salah satu dari banyak pilihan, tergantung pada potensi masing-masing. Saya memilih pena karena profesi saya adalah seorang penulis. Karena bingkai kecintaan itu adalah cinta kepada Allah, maka saya akan menjadikan tarian pena saya sebagai ekspresi kecintaan kepada Allah. Serupa tapi tak sama akan dialami oleh teman-teman yang mahir dibidang lain, memasak, memprogram komputer dan sebagainya. Bukti cinta itu adalah produktivitas. So, jika kita tidak produktif, berarti tidak ada energi yang menggerakan, yang ujung-ujungnya, kamu tidak punya cinta. Kasiaaan deh Luuu. Ada apa dengan cinta? Jawabnya : ada energi. Muaranya, produktivitas, optimalisasi potensi. Tentu saja yang kita usahakan adalah cinta positif, sehingga produktivitas yang tercetak adalah produktivitas yang positif pula. (by Ibam dengan sumber kafemuslimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-1082091420984319526?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/1082091420984319526/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=1082091420984319526' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/1082091420984319526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/1082091420984319526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/05/ada-apa-dengan-cinta.html' title='ADA APA DENGAN CINTA'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RlpHTxBrfgI/AAAAAAAAABg/9sG48Kp616I/s72-c/517123977_718ac576a4_m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-6611266925465265154</id><published>2007-05-27T19:45:00.000-07:00</published><updated>2007-05-27T19:55:24.523-07:00</updated><title type='text'>Mutiara sang Pelopor Peradaban Islam…(ust Abdullah Said)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RlpDxxBrffI/AAAAAAAAABY/LO8nQblGeo4/s1600-h/451735119_0cf62d45db_m.jpg"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5069438852811947506" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RlpDxxBrffI/AAAAAAAAABY/LO8nQblGeo4/s320/451735119_0cf62d45db_m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;KADER&lt;br /&gt;“ rasakan serta nikmati hal-hal yang tidak menyenangkan dalam perjuangan, maka akan mendapat kekuatan dalam jiwa”&lt;br /&gt;DAKWAH dan KEHIDUPAN&lt;br /&gt;keberhasilan dakwah seorang muballigh tidak ditentukan oleh banyaknya tepuk tangan dan puji-pujian. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;ada kekeliruan yang sangat fatal dikalangan umat bahwa Muhammad memilih hidup miskin itu diterjemahkan dengan hidup ideal yang islami adalah merana dan sengsara.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;jika nilai agama hanya diajarkan sebagai ilmu pengetahuan, tanpa diantar pada wujud pelaksanaan, maka merupakan suatu bencana besar yang menimpa umat Islam. Lebih besar bahayanya dari gempa bumi yang menewaskan sekian jumlah orang dan menimbulkan kerugian miliaran rupiah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;dakwah yang lebih didengar adalah dakwah yang didukung dengan pembuktian nyata berupa peragaan dan praktek di lapangan pada diri dan keluarga.&lt;br /&gt;karena ketidak jelasan manhaj kadang-kadang dakwah islam tidak lebih dari sekedar huru hara.&lt;br /&gt;dakwah bukanlah pekerjaan ringan, karena Allah tidak menitip amanah ini kepada sembarang orang.&lt;br /&gt;diatas kesulitan-kesulitan yang kita hadapi di lapangan perjuangan, ada janji-janji Allah yang sangat menggiurkan.&lt;br /&gt;setetes hidayah dari Allah, jauh lebih berarti dari berjilid-jilid buku yang ditulis oleh seorang penulis terkenal sekalipun.&lt;br /&gt;ukuran sederhana keimanan seorang mukmin dapat diketahui lewat kadar cintanya (bersambung)….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-6611266925465265154?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/6611266925465265154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=6611266925465265154' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/6611266925465265154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/6611266925465265154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/05/mutiara-sang-pelopor-peradaban-islamust.html' title='Mutiara sang Pelopor Peradaban Islam…(ust Abdullah Said)'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RlpDxxBrffI/AAAAAAAAABY/LO8nQblGeo4/s72-c/451735119_0cf62d45db_m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-3111574252646204659</id><published>2007-05-27T19:26:00.001-07:00</published><updated>2007-05-27T19:43:50.992-07:00</updated><title type='text'>7 Ciri 'Sok Tahu'</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RlpBfxBrfeI/AAAAAAAAABQ/RtPh90GNa_Q/s1600-h/sel.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5069436344551046626" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RlpBfxBrfeI/AAAAAAAAABQ/RtPh90GNa_Q/s320/sel.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;'Sok tahu' pada dasarnya adalah "merasa sudah cukup berpengetahuan" padahal sebenarnya kurang tahu. Masalahnya, orang yang sok tahu biasanya tidak menyadarinya. Lantas, bagaimana kita tahu bahwa kita 'sok tahu'? Mari kita mengambil hikmah dari Al-Qur'an. Ada beberapa ciri 'sok tahu' yang bisa kita dapatkan bila kita menggunakan perspektif surat al-'Alaq. 1. Enggan MembacaKetika disuruh malaikat Jibril, "Bacalah!", Rasulullah Saw. menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Lalu malaikat Jibril menyampaikan lima ayat pertama yang memotivasi beliau untuk optimis. Adapun orang yang 'sok tahu' pesimis akan kemampuannya. Sebelum berusaha semaksimal mungkin, ia lebih dulu berdalih, "Ngapain baca-baca teori. Mahamin aja&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;sulitnya minta ampun. Yang penting prakteknya 'kan?" Padahal, Allah pencipta kita itu Maha Pemurah. Ia mengajarkan kepada kita apa saja yang tidak kita ketahui. Disisi lain, ada pula orang Islam yang terlalu optimis dengan pengetahuannya, sehingga enggan memperdalam. Katanya, misalnya, "Ngapain baca-baca Qur'an lagi. Toh udah khatam 7 kali. Mending buat kegiatan lain aja." Padahal, Al-Qur'an adalah sumber dari segala sumber ilmu, sumber 'cahaya' yang tiada habis-habisnya menerangi kehidupan dunia. Katanya, misalnya lagi, "Ngapain belajar ilmu agama lagi, toh sejak SD hingga tamat kuliah udah diajarin terus." Padahal, 'ilmu agama' adalah ilmu kehidupan dunia-akhirat. 2. Enggan MenulisOrang yang sok tahu terlalu mengandalkan kemampuannya dalam mengingat-ingat dan menghafal pengetahuan atau ilmu yang diperolehnya. Ia enggan mencatat. "Ngerepotin," katanya. Seolah-olah, otaknya adalah almari baja yang isinya takkan hilang. Padahal, sifat lupa merupakan bagian dari ciri manusia. Orang yang sok tahu enggan mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, ceramah, dan sebagainya. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia. Di sisi lain, ada pula orang yang kurang mampu menghafal dan mengingat-ingat pengetahuan yang diperolehnya, tapi ia merasa terlalu bodoh untuk mampu menulis. "Susah," katanya. Padahal, merasa terlalu bodoh itu jangan-jangan pertanda kemalasan. Emang sih, kalo nulis buat orang lain, kita perlu ketrampilan tersendiri. Tapi, bila nulis buat diri sendiri, bukankah kita gak bakal kesulitan nulis 'sesuka hati'? Apa susahnya nulis di buku harian, misalnya, "Tentang ciri sok tahu, lihat al-'Alaq!"? 3. Membanggakan Keluasan PengetahuanOrang yang sok tahu membanggakan kepintarannya dengan memamerkan betapa ia banyak membaca, banyak menulis, banyak mendengar, banyak berceramah, dan sebagainya tanpa menyadari bahwa pengetahuan yang ia peroleh itu semuanya berasal dari Allah. Ia mengira, prestasi yang berupa luasnya pengetahuannya ia peroleh berkat kerja kerasnya saja. Padahal, terwujudnya pengetahuan itu pun semuanya atas kehendak-Allah. Mungkin ia suka meminjam atau membeli buku sebanyak-banyaknya, tetapi membacanya hanya sepintas lalu atau malah hanya memajangnya. Ia merasa punya cukup banyak wawasan tentang banyak hal. Ia tidak merasa terdorong untuk menjadi ahli di bidang tertentu. Kalau ia menjadi muballigh 'tukang fatwa', semua pertanyaan ia jawab sendiri langsung walau di luar keahliannya. Ia mungkin bisa menulis atau berbicara sebanyak-banyaknya di banyak bidang, tetapi kurang memperhitungkan kualitasnya.4. Merendahkan Orang Lain Yang Tidak SepahamBagi orang Islam yang sok tahu, siapa saja yang bertentangan dengan pendapatnya, segera saja ia menuduh mereka telah melakukan bid'ah, sesat, meremehkan agama, dan sebagainya. Bahkan, misalnya, sampai-sampai ia melarang orang-orang lain melakukan amal yang caranya lain walau mereka punya dalil tersendiri. Ia menjadikan dirinya sebagai "Yang Maha Tahu", terlalu yakin bahwa pasti pandangan dirinyalah satu-satunya yang benar, sedangkan pandangan yang lain pasti salah. Padahal, Allah Swt berfirman: "Janganlah kamu menganggap diri kamu suci; Dia lebih tahu siapa yang memelihara diri dari kejahatan." (an-Najm [53]: 32) Muslim yang sok tahu cenderung menganggap kesalahan kecil sebagai dosa besar dan menjadikan dosa itu identik dengan kesesatan dan kekafiran! Lalu atas dasar itu dengan gampangnya ia mengeluarkan 'vonis hukuman mati'. Padahal, dalam sebuah hadits shahih dari Usamah bin Zaid dikabarkan, "Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallaah, maka ia telah Islam dan terpelihara jiwa dan hartanya. Andaikan ia mengucapkannya lantaran takut atau hendak berlindung dari tajamnya pedang, maka hak perhitungannya ada pada Allah. Sedang bagi kita cukuplah dengan yang lahiriah." 5. Menutup Telinga dan Membuang Muka Bila Mendengar Pendapat LainOrang yang sok tahu tidak memberi peluang untuk berdiskusi dengan orang lain. Kalau toh ia memasuki forum diskusi di suatu situs, misalnya, ia melakukannya bukan untuk mempertimbangkan pendapat yang berbeda dengan pandangan yang selama ini ia anut, melainkan untuk mengumandangkan pendapatnya sendiri. Ia hanya melihat selayang pandang gagasan orang-orang lain, lalu menyerang mereka bila berlainan dengannya. Ia tidak mau tahu bagaimana mereka berhujjah (berargumentasi). Di samping itu, orang yang sok tahu itu bersikap fanatik pada pendapat golongannya sendiri. Seolah-olah ia berseru, "Adalah hak kami untuk berbicara dan adalah kewajiban kalian untuk mendengarkan. Hak kami menetapkan, kewajiban kalian mengikuti kami. Pendapat kami semuanya benar, pendapat kalian banyak salahnya." Orang yang terlalu fanatik itu tidak mengakui jalan tengah. Ia menyalahgunakan aksioma, "Yang haq adalah haq, yang bathil adalah bathil." 6. Suka Menyatakan Pendapat Tanpa Dasar Yang KuatMuslim yang sok tahu gemar menyampaikan pendapatnya dengan mengatasnamakan Islam tanpa memeriksa kuat-lemahnya dasar-dasarnya. Ia suka berkata, "Menurut Islam begini.... Islam sudah jelas melarang begitu...." dan sebagainya, padahal yang ia ucapkan sesungguhnya hanyalah, "Menurut saya begini.... Saya melarang keras engkau begitu...." dan seterusnya. Kalau toh ia berkata, "Menurut saya bla bla bla....", ia hanya mengemukakan opini pribadinya belaka tanpa disertai dalil yang kuat, baik dalil naqli maupun aqli. 7. Suka Berdebat KusirJika pendapatnya dikritik orang lain, orang yang sok tahu itu berusaha keras mempertahankan pandangannya dan balas menyerang balik pengkritiknya. Ia enggan mencari celah-celah kelemahan di dalam pendapatnya sendiri ataupun sisi-sisi kelebihan lawan diskusinya. Sebaliknya, ia tekun mencari-cari kekurangan lawan debatnya dan menonjol-nonjolkan kekuatan pendapatnya. Dengan kata lain, setiap berdiskusi ia bertujuan memenangkan perdebatan, bukan mencari kebenaran. Demikianlah beberapa ciri orang yang sok tahu menurut surat al-'Alaq dalam pemahamanku. Dengan mengenali ciri-ciri tersebut, semoga kita masing-masing dapat melakukan introspeksi dan memperbaiki diri sehingga kita tidak menjadi orang yang sok tahu. Aamien.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-3111574252646204659?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/3111574252646204659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=3111574252646204659' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/3111574252646204659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/3111574252646204659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/05/7-ciri-sok-tahu.html' title='7 Ciri &apos;Sok Tahu&apos;'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RlpBfxBrfeI/AAAAAAAAABQ/RtPh90GNa_Q/s72-c/sel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-6586755600757019970</id><published>2007-05-04T17:19:00.000-07:00</published><updated>2007-05-23T18:59:50.136-07:00</updated><title type='text'>Peradaban Islam Sebuah Pesan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"MEMBANGUN PERADABAN ISLAM"… BAGAIMANA ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Genderang kebangkitan Islam telah ditabuh"; itulah kira-kira yang diusung oleh para mujaddid (Pembaharu), baik berupa pribadi maupun organisasi Islam. Mereka semua memiliki icon-icon yang berbeda-beda namun dalam satu tujuan menuju Islam Jaya. Demikian pula Hidayatullah sebagai sebuah organisasi massa Islam yang mengusung icon "Membangun Peradaban Islam" juga mendengunkan membangkitkan Islam dengan membangun peradaban dalam arti universal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan malam muhasabah tahun baru Islam 1428 H, Ust Dr Abd Mannan MM (Ketua DPP Hidayatullah), memaparkan apa dan bagaimana membangun peradaban Islam dalam kacamata ormas Hidayatullah. Menurut beliau peradaban Islam adalah "manifestasi dan implementasi daripada Aqidah Islam yang benar" maka sudah tentu dalam pengertian seperti itu mengandung sebuah makna universal bahwa apapun itu yang merupakan hasil dari pada implementasi ketauhidan seorang hamba sungguh itulah yang disebut peradaban Islam.&lt;br /&gt;Lantas bagaimana membangun dan bagaimana kader Hidayatullah diharapkan memproses diri dalam sebuah bingkai perjuangan membangun peradaban Islam? Dalam paparan beliau ada beberapa hal praktis yang merupakan sebuah proses yang harus dilalui dalam rangka membangun peradaban Islam jaya, diantaranya :&lt;br /&gt;perbaiki niat : seluruh ulama sepakat bahwa niat adalah hal yang paling awal yang mesti dilalui oleh muslim yang mengaku beraqidah Islam. Dalam kacamata membangun peradaban Islam memperbaiki Niat adalah dengan senantiasa mengevaluasi kemajuan dan kekurangan diri dalam ketauhidan kepada Allah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ibadah yang kuat baik itu ibadah wajib maupun sunnah. Dalam manhaj SNW ibadah yang diharuskan sebagai sebuah syarat untuk memproses diri dalam membangun peradaban Islam diantaranya adalah Sholat lail. Beliau mengatakan kader Hidayatullah yang tidak sholat lail dipertanyakan peradaban Islam apa yang ia bangun.&lt;br /&gt;Tartil al Qur’an, dalam hal ini Hidayatulah telah mewajibkan anggotanya untuk membumikan al Qur’an dalam sebuah program yaitu Grand Mengajar belajar Al Qur’an.&lt;br /&gt;Demikian kesimpulan daripada malam muhasabah, semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;wallahu a’lam.(IbAm)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-6586755600757019970?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/6586755600757019970/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=6586755600757019970' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/6586755600757019970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/6586755600757019970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/05/peradaban-islam-sebuah-pesan.html' title='Peradaban Islam Sebuah Pesan'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-8092870836967733346</id><published>2007-04-29T19:33:00.000-07:00</published><updated>2007-05-22T19:21:31.999-07:00</updated><title type='text'>LINGKUNGAN DAN KADAR IMAN KITA</title><content type='html'>&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RjVXf6rGufI/AAAAAAAAAA0/LnNjFqiFlII/s1600-h/CA6BK5MZ.jpg"&gt;&lt;span style="color:#9999ff;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5059045962258233842" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RjVXf6rGufI/AAAAAAAAAA0/LnNjFqiFlII/s320/CA6BK5MZ.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#9999ff;"&gt;Banjir, tanah longsor, yang terbaru banjir akibat lumpur panas di Sidoarjo, adalah pemandangan kita sehari-hari. Mengapa kasus seperti ini kerap terjadi? bukankah Al-Qur'an mengajarkan menjaga lingkungan?&lt;br /&gt;Oleh: Dr. Ir. Yusmin Alim, MSc *)&lt;br /&gt;Hujan, banjir disertai longsor adalah pemandangan ‘mengerikan’ yang sedang terjadi di negeri kita. Kasus terbaru adalah banjir lumpur panas di desa Siring, Porong, Sidoarjo. Yang Pada intinya, kerusakan alam yang terjadi, banyak disebabkan ketidaktaatan kita mengelola alam. Padahal, dalam agama kita (Islam) pengelolaan alam banyak ditegaskan dalam ayat suci Al-Qur’an.Kali ini, hidayatullah.com menurunkan tulisan tentang lingkungan dan iman yang ditulis oleh Dr. Ir. Yusmin Alim, MSc, pangamat masalah lingkungan hidup dan Islam. Penulis kini tinggal di Abbott Lane, Ithaca, New York. Tulisan akan diturunkan secara berseri. Inilah tulisan bagian pertama.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu, Menteri Lingkungan, Rachmat Witoelar merasa miris oleh fakta bahwa pada tahun 2005 lalu ada 62 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berstatus kritis. Angka ini tiga kali lipat dibanding tahun 1984 yang hanya ada 22. “Lama-lama bisa habis,'' kata Menteri Negara Lingkungan Hidup dikutip wartawan.&lt;br /&gt;Sadar dengan kondisi gawat ini, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melancarkan jurus anyar guna menyelamatkan DAS-DAS kritis. Caranya, tentu saja, menghambat laju pembabatan hutan.&lt;br /&gt;Namun jurusnya tak lagi mengedepankan teknik 'mengancam'. Sebaliknya, memberi 'iming-iming'. Jurus ini berupa sebuah kompetisi. Namanya program Menuju Indonesia Hijau (MIH). Lewat MIH, KLH mengajak seluruh kabupaten di Indonesia berkompetisi menjadi yang terhijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa rusaknya lingkungan, barangkali menjadi pemandangan kurang mengenakkan dalam kurun waktu setahun ini. Jangan heran, bila di mana-mana banyak longsor atau banjir.Mulai banjir di sungai Citarum, di Dayeuhkolot (Bandung), banjir dan longsong Jember, Jawa Tengah, sampai Ambon dan Sinjai yang sedang kita saksikan hari ini. Yang terakhir, adalah peristiwa banjir lumpur panas yang menggenangi desa Siring, Porong, Sidoarjo yang kemudian merembet hingga beberapa kecamatan akibat eksplorasi gas yang dilakukan PT Lapindo Brantas. Mengapa kasus-kasus seperti ini terjadi? Islam dan lingkungan hidupMasalah lingkungan hidup belum digarap serius sebagai bagian integral dari dakwah Islamiah. Lingkungan hidup makin rusak, karena insan Indonesia telah gagal mengemban misinya sebagai khalifah di muka bumi; untuk memelihara lingkungan hidup. Salah satu faktor penyebabnya adalah “nonsatiation rule” yang telah merasuk dalam prinsip hidup sehari-hari. Menjadikan insan Indonesia dengan kadar keimanan tipis dan acuh terhadap proses perusakan lingkungan yang makin cepat dan meluas.Sebelumnya, jarang kita dengar tema lingkungan hidup menjadi bagian obyek dakwah di Indonesia. Kalaupun ada, seperti gencarnya publikasi “Agama dan Lingkungan Hidup” baru pada tahun 1980-an. Itupun, konteksnya tak jauh dari kampanye ‘Keluarga Berencana saja. Beberapa kajian yang pernah ditulis dalam disertasi Dr. Mujiono Abdillah, MA serta jurnal dari Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta hanya merupakan upaya awal mengangkat masalah lingkungan hidup sebagai bagian dari pengkajian agama. Belum banyak pemuka agama yang menyempatkan diri untuk mengusik isu lingkungan hidup. Tak jarang diskusi agama menjadi kering dan jauh dari hal keseharian seperti masalah lingkungan. Walaupun ada angin segar yang dihembus tokoh-tokoh seperti Aa Gym dengan Manajemen Qolbu-nya atau Ary Ginanjar dengan ESQ-nya, hal ini tidaklah merubah persepsi bahwa umat Islam belum terlalu perduli dengan urusan lingkungan hidup yang sudah semakin parah di Indonesia.Masalah lingkungan hidup sangatlah luas, dimulai dari hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya sampai kepada penggunaan ampas uranium dalam peperangan. Untuk kasus Indonesia, indikator lingkungan disederhanakan mencakup masalah polusi udara, persampahan, air bersih, perumahan, konservasi lahan, dan kemacetan lalu-lintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang berpikir bahwa terminologi lingkungan hidup lebih dikenal sebagai kosa kata dari peradaban barat, seperti “Agenda 21”, Habitat, dan “Greenhouse effect”, “Ecolabeling”, dan “Sustainable Development”. Sehingga tumbuh anggapan yang salah bahwa hanya ahli-ahli dari negara baratlah yang menguasai masalah lingkungan hidup. Padahal untuk seorang muslim masalah lingkungan hidup sifatnya inheren sebagai bagian dari kepribadian. Namun banyak yang secara tidak sengaja memisahkan masalah lingkungan hidup dari urusan agama. Benarkah demikian? Perhatikan isi Surat Al An’aam 101 yang berarti sebagai berikut, “Dia pencipta langit dan bumi…. Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu”. Urusan lingkungan hidup adalah bagian integral dari ajaran Islam. Seorang Muslim/Muslimah justru menempati kedudukan strategis dalam lingkungan hidup sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah 30 yang berarti sebagai berikut; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini ditafsirkan secara lebih spesifik oleh Sayyed Hossein Nasr, dosen studi Islam di George Washington University, Amerika Serikat. dalam dua bukunya “Man and Nature (1990)” dan “Religion and the Environmental Crisis (1993)”, yang disajikan sebagai berikut:“……Man therefore occupies a particular position in this world. He is at the axis and centreof the cosmic milieu at once the master and custodian of nature. By being taught the names ofall things he gains domination over them, but he is given this power only because he is thevicegerent (khalifah.) of God on earth and the instrument of His Will. Man is given the rightto dominate over nature only by virtue of his theomorphic make-up, not as a rebel againstheaven.”Jelaslah bahwa tugas manusia, terutama muslim/muslimah di muka bumi ini adalah sebagai khalifah (pemimpin) dan sebagai wakil Allah dalam memelihara bumi (mengelola lingkungan hidup).Andaikan Islam dilaksanakan dengan konsisten tentunya akan tercipta lingkungan hidup yang baik. Namun tanah air tercinta justru sedang dirongrong oleh kerusakan bumi pertiwi.Lingkungan hidup dalam Al-Qur’anIslam adalah agama yang realisits, banyak sekali pedoman bagi seorang Muslim/Muslimah untuk mengurus masalah sehari-hari. Karenanya, patutlah diresapkan apa yang telah dikatakan oleh ulama besar kita seperti Buya HAMKA, “Memang, begitulah kebijaksanaan Al-Quran. Karena Islam itu bukanlah semata-mata mengatur ibadah: kepentingan tiap-tiap pribadi dengan Allah saja, tetapi juga memikirkan dan mengatur masyarakat.”Allah telah memberikan tuntunan dalam Al-Quran tentang lingkungan hidup. Karena waktu perenungan, hanya beberapa dalil saja yang diulas sebagai landasan untuk merumuskan teori tentang lingkungan hidup menurut ajaran Islam.Dua dalil pertama pembuka diskusi ini bersumber pada Surat Al An’aam 101 dan Al Baqarah 30. Dalil pertama adalah: “Allah pencipta langit dan bumi (alam semesta) dan hanya Dialah sumber pengetahuannnya”. Lalu dalil kedua menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Perlu dijelaskan bahwa menjadi khalifah di muka bumi itu bukan sesuatu yang otomatis didapat ketika manusia lahir ke bumi. Manusia harus membuktikan dulu kapasitasnya sebelum dianggap layak untuk menjadi khafilah. Seperti halnya dalil pertama, dalil ke tiga ini menyangkut tauhid. Hope dan Young (1994) berpendapat bahwa tauhid adalah salah satu kunci untuk memahami masalah lingkungan hidup. Tauhid adalah pengakuan kepada ke-esa-an Allah serta pengakuan bahwa Dia-lah pencipta alam semesta ini. Perhatikan firman Allah dalam Surat Al An’aam 79: “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil ke empat adalah mengenai keteraturan sebagai kerangka penciptaan alam semesta seperti firman Allah dalam Surat Al An’aam, dengan arti sebagai berikut, “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang..”Adapun dalil ke lima dapat ditemukan dalam Surat Hud 7 yang menjelaskan maksud dari penciptaan alam semesta, “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,….Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah salah satu tujuan penciptaan lingkungan hidup yaitu agar manusia dapat berusaha dan beramal sehingga tampak diantara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah. Dalil ke enam adalah kewajiban bagi manusia untuk selalu tunduk kepada Allah sebagai maha pemelihara alam semesta ini. Perintah ini jelas tertulis dalam Surat Al An’aam 102 yaitu, “..Dialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu”Dalil ke tujuh adalah penjabaran lanjut dari dalil kedua yang mewajibkan manusia untuk melestarikan lingkungan hidup. Adapun rujukan dari dalil ini adalah Surat Al A’raaf 56 diterjemahkan sebagai berikut; “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya……..” Selanjutnya dalil ke delapan mengurai tugas lebih rinci untuk manusia, yaitu menjaga keseimbangan lingkungan hidup, seperti yang difirmankanNya dalam surat Al Hijr 19, ”Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.”Dalil ke sembilan menunjukkan bahwa proses perubahan diciptakan untuk memelihara keberlanjutan (sustainability) bumi. Proses ini dikenal dalam literatur barat sebagai: siklus Hidrologi. Dalil ini bersumber dari beberapa firman Allah seperti Surat Ar Ruum 48, Surat An Nuur 43, Surat Al A’raaf 57, Surat An Nabaa’ 14-16, Surat Al Waaqi’ah 68-70, dan beberapa Surat/Ayat lainnya. Penjelasan mengenai siklus hidrologi dalam berbagai firman Allah merupakan pertanda bahwa manusia wajib mempelajarinya. Perhatikan isi Surat Ar Ruum: 48 dengan uraian siklus hidrologi berikut ini. Hujan seharunya membawakegembiraaan karena menyuburkan tanah dan merupakan sumber kehidupan.Surat Ar Ruum 48 Siklus hidrologiMencakup proses evaporasi, kondensasi, hujan, dan aliran air ke sungai/danau/laut, Al-Qur’an dengan sangat jelas menjabarkannya. Evaporasi, adalah naiknya uap air ke udara. Molekul air tersebut kemudian mengalami pendinginan yang disebut dengan kondensasi. Kemudian terjadi peningkatan suhu udara, yang menciptakan hujan. Air hujan tersebut menyuburkan bumi dan kemudian kembali ke badan air (sungai, danau atau laut.Ini dengan jelas dibambarkan dalam Al-Qur’an surat ar-Ruum:48 yang berbunyi; “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hambahamba-Nya yang dikehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.”Sebagai khalifah, sudah tentu manusia harus bersih jasmani dan rohaninya. Inilah inti dari dalil ke sepuluh bahwa kebersihan jasmani merupakan bagian integral dari kebersihan rohani.Merujuk pada Surat Al-Baqarah 222; “….sesungguhnya Allah senang kepada orang yang bertobat, dan senang kepada orang yang membersihkan diri.” Serta Surat Al-Muddatstsir 4-5; “..dan bersihkan pakaianmu serta tinggalkan segala perbuatan dosa.” Meski slogan yang dikenal umum seperti “kebersihan adalah sebagian dari iman”, banyak diakui sebagai hadis dhaif, namun demikian, Rasulluah S.A.W. bersabda bahwa iman terdiri dari 70 tingkatan: yang tertinggi adalah pernyataan “tiada tuhan selain Allah” dan yang terendah adalah menjaga kerbersihan.Jajdi, memelihara lingkungan hidup adalah menjadi bagian integral dari tingkat keimanan seseorang. Khususnya beragama Islam. Mengutip disertasi Abdillah (2001), Surat Luqman ayat 20 Allah berfirman, “Tidakkah kau cermati bahwa Allah telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupanmu secara optimum. Entah demikian, masih saja ada sebagian manusia yang mempertanyakan kekuasaan Allah secara sembrono. Yakni mempertanyakan tanpa alasan ilmiah, landasan etik dan referensi memadai.”Selain itu, Abdillah juga mengutip bahwa manusia harus mempunyai ketajaman nalar, sebagai prasyarat untuk mampu memelihara lingkungan hidup. Hal ini bisa dilihat Surat Al Jaatsiyah 13 sebagai berikut; “Dan Allah telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia. Yang demikian hanya ditangkap oleh orang-orang yang memiliki daya nalar memadai.”Dalil-dalil di atas6 adalah pondasi dari teori pengelolaan lingkungan hidup yang dikenal dengan nama “Teorema Alim” yang dirumuskan sebagai berikut:Misi manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah memelihara lingkungan hidup, dilandasi dengan visi bahwa manusia harus lebih mendekatkan diri pada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perangkat utama dari misi ini adalah kelembagaan, penelitian, dan keahlian. Adapun tolok ukur pencapaian misi ini adalah mutu lingkungan. Berdasarkan “Teorema Alim” ini, kerusakan lingkungkan adalah cerminan dari turunnya kadar keimanan manusia.Rasulullah S.A.W. dan para sahabat telah memberikan teladan pengelolaan lingkungan hidup yang mengacu kepada tauhid dan keimanan. Seperti yang dilaporkan Sir Thomas Arnold (1931) bahwa Islam mengutamakan kebersihan sebagai standar lingkungan hidup. Standar inilah yang mempengaruhi pembangunan kota Cordoba. Menjadikan kota ini memiliki tingkat peradaban tertinggi di Eropa pada masa itu. Kota dengan 70 perpustakaan yang berisi ratusan ribu koleksi buku, 900 tempat pemandian umum, serta pusatnya segala macam profesi tercanggih pada masa itu. Kebersihan dan keindahan kota tersebut menjadi standar pembangunan kota lain di Eropa.Contoh lain adalah inovasi rumah sakit dan manajemennya (Arnold, 1931). Pada masa itu manajemen rumah sakit sudah sedemikian canggihnya sebagai pusat perawatan dan juga pusat pendidikan calon-calon dokter. Rumah sakit tersebut sudah memiliki ahli bedah, ahli mata, dokter umum, perawat, dan administrator. Tercatat 34 rumah sakit yang tersebar dari Persia ke Maroko serta dari Siria Utara sampai ke Mesir. Rumah sakit pertama yang berdiri di Kairo pada tahun 872 Masehi, bahkan beroperasi selama 700 tahun kemudian. Inovasi bidang kesehatan ini bahkan berkembang sampai pada penemuan ambulan atau menurut Arnold (1931) sebagai “traveling hospital&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-8092870836967733346?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/8092870836967733346/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=8092870836967733346' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/8092870836967733346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/8092870836967733346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/04/lingkungan-dan-kadar-iman-kita.html' title='LINGKUNGAN DAN KADAR IMAN KITA'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RjVXf6rGufI/AAAAAAAAAA0/LnNjFqiFlII/s72-c/CA6BK5MZ.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-7769485052599579911</id><published>2007-04-29T17:49:00.000-07:00</published><updated>2007-05-22T19:25:49.055-07:00</updated><title type='text'>1 tamparan untuk 3 pertanyaan</title><content type='html'>&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri,kembali ke tanahair.Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanyauntuk mencariseorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisamenjawab 3pertanyaannya.Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orangtersebut, seorang kiyai.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RjVBl6rGueI/AAAAAAAAAAs/yjLX4H51gWI/s1600-h/bsmalah+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5059021876081637858" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RjVBl6rGueI/AAAAAAAAAAs/yjLX4H51gWI/s320/bsmalah+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawabpertanyaan-pertanya an saya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akanmenjawabpertanyaan anda.&lt;br /&gt;Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramaiorang yang pintartidak mampu menjawab pertanyaan saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:1.Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan wujud Tuhankepada saya 2.Apakahyang dinamakan takdir 3.Kalau syaitan diciptakan dariapi kenapadimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidakmenyakitkan buatsyaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. ApakahTuhan tidakpernah berfikir sejauh itu?&lt;br /&gt;Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadidengan keras.&lt;br /&gt;Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marahkepada saya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Kiyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawabansaya atas 3pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.&lt;br /&gt;Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?&lt;br /&gt;Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.Kiyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?&lt;br /&gt;Pemuda : Ya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!&lt;br /&gt;Pemuda : Saya tidak bisa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama…kita semuamerasakankewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.&lt;br /&gt;Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditamparoleh saya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pemuda : Tidak.&lt;br /&gt;Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerimatamparan darisaya hari ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pemuda : Tidak.&lt;br /&gt;Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.&lt;br /&gt;Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakanuntuk menampar anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pemuda : Kulit.&lt;br /&gt;Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pemuda : Kulit.&lt;br /&gt;Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Pemuda : Sakit.&lt;br /&gt;Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan nerakajuga terbuat dariapi, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjaditempat yangmenyakitkan untuk syaitan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahuwata’ala kepada seluruh manusia yang akan bertambahbila diamalkan, salah satupengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itukepada yangmembutuhkan.&lt;br /&gt;Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karenajika Allah Subhanahu wata’ala berkehendak ilmu ituakan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidaktahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlahilmu itu sebatas yang engkau mampu(ibam)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-7769485052599579911?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/7769485052599579911/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=7769485052599579911' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/7769485052599579911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/7769485052599579911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/04/1-tamparan-untuk-3-pertanyaan.html' title='1 tamparan untuk 3 pertanyaan'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RjVBl6rGueI/AAAAAAAAAAs/yjLX4H51gWI/s72-c/bsmalah+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-1806945528937393687</id><published>2007-04-28T03:21:00.000-07:00</published><updated>2007-04-28T03:47:23.033-07:00</updated><title type='text'>Teks Nasyid Pilihan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Rindu&lt;/strong&gt; oleh : Snada&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5058428457630218674" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RjMl4arGubI/AAAAAAAAAAU/Ih9khBiwiD4/s320/snada.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;didalam kegelapan &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;kumencari cahyamu &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;yang hilang sirna tak tersisa&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Semakin kuterlena&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;semakin kuterbawa&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;arah hina dan ternoda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;kurindukan sinar sucimu yang mulia&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;dan kuharapkan belas kasihmu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;agar musnah semua keangkuhan diriku&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;dan kulepaskan dari sifatku....&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="center"&gt;(report by Ibam)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-1806945528937393687?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/1806945528937393687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=1806945528937393687' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/1806945528937393687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/1806945528937393687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/04/teks-nasyid-pilihan.html' title='Teks Nasyid Pilihan'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RjMl4arGubI/AAAAAAAAAAU/Ih9khBiwiD4/s72-c/snada.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-5542553150449972892</id><published>2007-04-11T02:29:00.000-07:00</published><updated>2007-05-23T19:04:15.954-07:00</updated><title type='text'>Pesanku tuk para wanita</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RjUxL6rGudI/AAAAAAAAAAk/o-yYuitm5Q4/s1600-h/jilbab2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5059003837218994642" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 121px; CURSOR: hand; HEIGHT: 102px" height="89" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RjUxL6rGudI/AAAAAAAAAAk/o-yYuitm5Q4/s320/jilbab2.jpg" width="121" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab? Jawabanny sederhana. Karena mata saya susah diajak kompromi.bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampau kembali masuk pintu rumah lagi. Dan kamu tau ? dikampus tempat seharian saya disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak, hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak keatas langit atau menunduk ketanah. kala mata melihat kedepan kulihat perempuan berlenggok dengan seutas "Tank Top", kubuang muka kekiri pemandangan "Pinggul Terbuka".&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lalu cepat kubuang kekanan ada "celana ketat plus u can see" lalu kuberbalik kebelakang dihadang "dada menantang" Astaghfirullah kemana lagi mata ini harus memandang. Kalau saya berbicara nafsu. Oww jelas sekali saya suka, kurang merangsang itu mah !! tapi saya tidak ingin hidup ini dibaluti dengan nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas tapi mereka adalah sosol yang anggun mempesona. Kalau dipandang bikin sejuk dimata. Bukan paras yang membuat mata panas,membuat iman lepas ditarik oleh fikiran "ngeres" dan hatipun menjadi keras, andai wanita itu mengerti apa yang dilakukan oleh laki-laki ketiika melihat mereka berpakaina seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik laki-laki untuk memakai asset berharga yang mereka punya. Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh laki-laki, janganlah berbangga dulu sebagai seorang manusia yang mempunyai fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi , lebih….dan lebih lagi. Dan anda tahu apa kesimpulan yang yang ada dalam benak laki-laki? Yaitu : anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan. Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda anda sudah membuat diri anda tidak dihargao dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata nyeleneh pelecehan seksual atau mungkin sampai perkosaan. Siapa semestinya disalahkan. Saya yakin anda akan menjawabnya "lelaki" bukan ? oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dizaman ini. Kalau boleh saya ibaratkan tak ada pembeli kalau tak ada penjual. Simple saja, orang pasti akan membeli kalau ada yang menawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya. Begitulah seharian tadi saya harus&lt;br /&gt;Menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes tapi mau protes kemana? Apakah saya harus menikmatinya..??? tapi saya sungguh takut dengan zat yang memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan ? sungguh dilemma yang berkepanjangan dalam hidup saya. Allah ta’ala berfirman : katakanlah kepada lelaki berimanm hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara pandangannya dan memelihara kemaluannya" yang demikian itu lebih sucu bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman "hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluannya."(QS. An-Nuur : 30-31).&lt;br /&gt;Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini. Duduk didepan komputer menyerap sekian juta electron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, dari pada saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya didepan Allah. Jadi tak salah bukam? Jika saya paling malas diajak ke mall, jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian. Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini.Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dam bingung harus berbuat apa-apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemandangan yang anda tayangkan?&lt;br /&gt;So, berjilbablah … karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, mempesona dan tentunya sejuk dimata.(Ibam)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-5542553150449972892?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/5542553150449972892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=5542553150449972892' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/5542553150449972892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/5542553150449972892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/04/pesanku-tuk-para-wanita.html' title='Pesanku tuk para wanita'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mXMhgZCPMKM/RjUxL6rGudI/AAAAAAAAAAk/o-yYuitm5Q4/s72-c/jilbab2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3565091803020276442.post-5631612114653402938</id><published>2007-04-11T02:13:00.000-07:00</published><updated>2007-05-22T19:28:47.873-07:00</updated><title type='text'>My Skripsi</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;A. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Pendidikan yang ideal memang menjadi harapan semua orang, terutama umat Islam karena dalam Islam keselamatan dunia akhirat harus dicapai dengan ilmu pengetahuan, berbicara tentang ilmu pengetahuan tidak terlepas dengan dunia pendidikan.&lt;br /&gt;Pendidikan Islam tidak membenarkan adanya sekulerisasi atau pemisahan ilmu umum dengan ilmu pengetahuan agama atau menekankan pada salah satu diantara keduanya saja, tetapi harus seimbang antara ilmu umum dengan ilmu agama atau pembinaan aqliyah maupun ruhiyah.&lt;br /&gt;Saat ini banyak sekali sekolah-sekolah yang hanya menekankan pada salah satu segi saja, banyak sekolah-sekolah umum baik negeri maupun swasta sangat menekankan bagaimana anak didiknya dapat meraih NEM yang tinggi dan menjadi pimipinan teratas bagi rekan-rekan sekolahan yang berada di daerahnya. Dengan kata lain keberhasilan pendidikan hanya diukur dengan intelektualitas yang tinggi dengan mengesampingkan aspek ruhiyah yang menekankan pada aspek perilaku, ahlak, bagaimana hubungan dengan Allah (Hablunminallah) serta hubungan dengan sesama manusia (Hablunminannas).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula sebaliknya banyak model pendidikan yang menekankan pada aspek ruhiyah saja dan kurang memperhatikan aspek intelektualitasnya. Hal ini melahirkan manusia yang beriman yang tidak bisa bersaing dengan kehidupan pada era modern.&lt;br /&gt;Dari dua model pendidikan di atas dapat kita simpulkan bahwa perlu adanya sebuah model pendidikan yang terpadu (integral) yang menekankan pada semua aspek manusia, baik aspek spiritual, intelektual, maupun jasmaniyah agar semua sisi pada manusia dapat berkembang seimbang&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=3565091803020276442#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Integral berarti menyeluruh, sekolah integral berarti melibatkan komponen-komponen pendidikan secara menyeluruh. Komponen pendidikan meliputi institusi pendidikan, pendekatan dan metodologi, institusi pendidikan keluarga, sekolah yang masyarakat merupakan kesatuan utuh yang memberi dasar, arahan dan proses pendidikan sesuai dengan proporsi masing-masing. Pendekatan yang dimaksud adalah kerangka yang digunakan dalam proses pendidikan integral yaitu meliputi aspek islamiah, alamiah dan ilmiah&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=3565091803020276442#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;. Namun kesemua itu akan terasa sangat berat tanpa dukungan yang kuat dari masyarakat terutama elemen paling penting dalam masyarakat pendidikan yaitu orang tua wali siswa.&lt;br /&gt;Hubungan sekolah dengan salah satu elemen masyarakat sekolah yang bernama orang tua siswa, pada hakekatnya merupakan salah satu sarana yang paling penting dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah, dalam hal ini sekolah sebagai sistem sosial merupakan integrasi dari sistem yang lebih besar, yaitu masyarakat. Sekolah dan orang tua sebagai salah satu elemen dari masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan, secara efektif dan efisien. Sebaliknya sekolah juga harus menunjang pencapaian tujuan atau pemenuhan kebutuhan masyarakat, khususnya kebutuhan pendidikan. Oleh karena itu sebuah lembaga pendidikan berkewajiban memberikan penerangan atau penyuluhan tentang tujuan-tujuan, visi misi, program-program, kebutuhan-kebutuhan sekolah kepada orang tua wali siswa. Sebuah lembaga pendidikan juga berkewajiban untuk mengetahui dengan jelas apa kebutuhan, harapan dan tuntutan orang tua wali terhadap lembaga pendidikan tersebut. Dengan kata lain sebuah lembaga pendidikan harus menjalin hubungan yang harmonis dengan orang tua wali siswa.&lt;br /&gt;Hubungan dengan orang tua wali siswa bertujuan antara lain untuk (1). Memajukan kualitas pembelajaran, dan pertumbuhan anak didik. (2). Memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat. (3). Menggairahkan orang tua wali siswa untuk menjalin hubungan dengan sekolah. Untuk merealisasikan tujuan tersebut, banyak cara yang bisa dilakukan oleh sekolah untuk menarik simpati orang tua siswa. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberitahu orang tua mengenai program-program sekolah, baik program yang telah dilaksanakan maupun yang belum dilaksanakan sehingga orang tua wali memiliki persepsi atau pemahaman yang sama tentang visi misi sekolah di mana anak mereka dididik.&lt;br /&gt;Jika persepsi orang tua wali siswa tentang sekolah baik, maka rasa tanggung jawab dan partisipasi orang tua siswa dalam ikut serta membangun dan memajukan sekolah juga akan baik. Maka agar tercipta persepsi yang baik antara pihak orang tua wali dan sekolah, para orang tua wali siswa harus mendapatkan pengetahuan dan gambaran yang jelas tentang visi misi sekolah, program-program unggulan sekolah.&lt;br /&gt;Integralisasi sistem pendidikan di lembaga pendidikan Sekolah Dasar Islam Luqman al Hakim menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti untuk menggali data yang valid dan kuat tentang bagaimana persepsi atau pemahaman orang tua wali siswa terhadap sistem pendidikan dimana anak-anak mereka menempuh pendidikan dasar.&lt;br /&gt;B. Rumusan masalah&lt;br /&gt;Dari latar belakang yang dikemukakan diatas muncul rumusan masalah yang hendak dikaji, yaitu :&lt;br /&gt;1. Bagaimana persepsi Orang Tua Siswa terhadap sistem pendidikan integral di SDI Luqman al Hakim Surabaya ?&lt;br /&gt;2. Bagaimana langkah-langkah sekolah dalam membangun persepsi orang tua siswa terhadap sistem pendidikan integral ?&lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Tujuan penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;1. Untuk mendeskrifsikan persepsi Orang Tua Siswa terhadap sistem pendidikan integral di SDI Luqman al Hakim Surabaya.&lt;br /&gt;2. Untuk mendeskrifsikan langkah-langkah sekolah dalam membangun persepsi orang tua siswa terhadap sistem pendidikan integral&lt;br /&gt;D. Manfaat penelitian&lt;br /&gt;Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini:&lt;br /&gt;1. Bagi lembaga sekolah penelitian ini akan bermanfaat dalam upaya peningkatan mutu pendidikan khususnya tentang pentingnya membangun persepsi yang baik antara Orang Tua Siswa dan Sekolah sehingga sekolah mendapatkan solusi yang baik dalam rangka membangun pendidikan yang maju dan bermartabat.&lt;br /&gt;2. Bagi ilmu pengetahuan penelitian ini bermanfaat untuk menambah kepustakaan dibidang psikologi pendidikan.&lt;br /&gt;E. Penegasan Judul&lt;br /&gt;Agar dapat dipahami dengan baik maka perlu ditegaskan bagian-bagian yang dalam masalah ini menjadi inti dari pada penelitian ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Persepsi orang Tua&lt;br /&gt;Persepsi menurut bahasa adalah pengamatan (penyusunan dorongan-dorongan dalam kesatuan-kesatuan) hal mengetahui, melalui indera (tanggapan atau daya memahami).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=3565091803020276442#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dodit Setiawan Persepsi adalah Pengalaman tentang objek peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyampaikan informasi dan menafsirkan Pesan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=3565091803020276442#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Sedangkan menurut Irwanto, persepsi adalah proses diterimanya rangsangan (objek, kualitas hubungan antar gejala maupun peristiwa) sampai rangsangan itu disadari dan dimengerti.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=3565091803020276442#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang dimaksud persepsi orang tua siswa adalah : orang tua siswa memahami dan memberi tanggapan mengenai keberadaan pendidikan di sekolah sesuai dengan pemahaman mereka selama menjadi orang tua siswa. Mengenai persepsi mereka bisa berbeda-beda dan mempunyai alasan masing-masing tentang persepsi mereka tentang sistem pendidikan dimana anak mereka belajar.&lt;br /&gt;2. Sistem Pendidikan Integral&lt;br /&gt;Yang dimaksud sistem pendidikan Integral adalah sistem yang pada arah dan tujuan pendidikannya mengintegrasikan aspek Ruhiyah (spiritual dan emosional), aspek aqliyah (intelektual) dan aspek jismiyah (ketrampilan). Sedangkan pada lingkungan atau institusinya mengintegrasikan antara keluarga, sekolah dan masyarakat.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=3565091803020276442#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;F. Metode Penelitian&lt;br /&gt;Pendekatan dan Jenis Penelitian.&lt;br /&gt;Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan pendekatan fenomenologis. Penelitian kualitatif dalam pendidikan bertujuan mendeskripsikan suatu proses kegiatan pendidikan berdasarkan apa yang terjadi di lapangan sebagai kajian lebih lanjut, untuk menemukan kekurangan dan kelemahan sistem dalam program pendidikan, sehingga dapat di ketahui dan dapat menentukan jenis dan upaya penyempurnaannya. Dalam penelitian ini, peneliti ingin mendeskrifsikan persepsi Orang Tua Siswa dengan tujuan untuk menemukan kelemahan dan kekurangan sistem pendidikan integral di mata orang tua siswa sehingga penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis dan upaya penyempurnaan&lt;br /&gt;Penelitian ini, juga untuk menganalisa suatu fakta, gejala dan peristiwa pendidikan yang terjadi di lapangan sebagaimana adanya konteks ruang dan waktu serta situasi lingkungan pendidikan secara alami. Selain itu penelitian kualitatif dapat digunakan untuk menyusun hipotesis berkenaan dengan konsep dan prinsip pendidikan berdasarkan data dan informasi yang diperoleh di lapangan sehingga dapat dilakukan penelitian lebih lanjut.&lt;br /&gt;b. Sumber dan Jenis Data Penelitian&lt;br /&gt;Prof. Dr. Suharsimi Arikunto menjelaskan, bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, ucapan, mimik, perbuatan, tingkah laku dll&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=3565091803020276442#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;6&lt;/a&gt;, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen, arsip dll.&lt;br /&gt;1. Data Utama&lt;br /&gt;1.1 Sumber Lisan&lt;br /&gt;Sumber lisan akan diperoleh dari wawancara dengan orang tua wali siswa, dan pihak sekolah.&lt;br /&gt;1.2 Sumber Tertulis&lt;br /&gt;Sumber tertulis ini diperoleh dari dokumen sekolah, arsip, brosur, dan sumber lain yang mendukung penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Obyek Penelitian&lt;br /&gt;Obyek penelitian ini adalah Persepsi Orang tua wali siswa terhadap sistem pendidikan integral di SDI Luqman Al Hakim Surabaya&lt;br /&gt;Subyek Penelitian&lt;br /&gt;Subyek penelitian ini adalah orang tua wali Siswa SDI Luqman Al Hakim Surabaya.&lt;br /&gt;e. Prosedur Penelitian&lt;br /&gt;Prosedur yang peneliti tempuh dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu :&lt;br /&gt;1) Tahap Persiapan&lt;br /&gt;Pada tahapan ini, peneliti mengadakan wawancara untuk memperoleh informasi tentang Perspesi orang tua wali Siswa terhadap Sistem pendidikan integral di SDI Luqman Al Hakim Surabaya.&lt;br /&gt;2) Tahap Pelaksanaan&lt;br /&gt;Tahapan ini merupakan tahap pengumpulan data melalui wawancara, serta dokumentasi.&lt;br /&gt;3) Tahap Penyelesaian&lt;br /&gt;Dalam tahapan ini, peneliti berusaha mengumpulkam hasil wawancara dan dokumen, kemudian menafsirkan serta menyusun data dalam bentuk hasil penelitian (laporan).&lt;br /&gt;f. Tekhnik Pengumpulan Data Penelitian&lt;br /&gt;Teknik yang digunakan dalam penelitian terdiri dari :&lt;br /&gt;1) Wawancara&lt;br /&gt;Wawancara yang digunakan peneliti bersifat indepth yang dilakukan secara open-ended, sistimatis dan fleksibel. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data secara detail tentang persepsi dari orang tua siswa terhadap system pendidikan Integral yang dilaksanakan di SDI Luqman Al Hakim Surabaya.&lt;br /&gt;2) Dokumentasi&lt;br /&gt;Sebagai data pendukung yang keabsahan dan kevalidannya sudah diakui, data-data tertulis dan arsip-arsip sangat dibutuhkan dalam penelitian ini. Data dokumentsi ini sebagai pengecek data yang verbal yang diberikan oleh pihak Sekolah SDI Luqman Al Hakim Surabaya&lt;br /&gt;g. Instrumen Pengumpulan Data Penelitian&lt;br /&gt;Variasi jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;a. Angket.&lt;br /&gt;b. Ceklis atau daftar centang.&lt;br /&gt;c. Pedoman wawancara.&lt;br /&gt;h. Tekhnik Analisis Data dan Penafsiran Data Penelitian&lt;br /&gt;Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Dalam penelitian ini, digunakan analisis data kualitatif dengan pendekatan induktif dalam menarik kesimpulan dari data yang ada. Artinya peneliti bertolak dari fakta, informasi dan data empiris untuk membangun teori. Atau berangkat dari kasus-kasus yang bersifat khusus berdasarkan pengalaman nyata (ucapan atau perilaku subyek penelitian atau situasi lapangan penelitian), untuk kemudian dirumuskan menjadi model, konsep, teori, prinsip, atau definisi yang bersifat umum.&lt;br /&gt;G. Sistimatika Pembahasan&lt;br /&gt;Untuk mempermudah penyusunan dan pemahaman dalam penelitian skripsi nanti maka peneliti membuat sistimatika pembahasan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Bab I&lt;br /&gt;Pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan judul , metode penelitian berisi tentang jenis penelitian, metode pembahasan, sumber data serta analisa data sedangkan sub yang terakhir adalah sistematika pembahasan.&lt;br /&gt;Bab II&lt;br /&gt;Memuat kajian teori mengenai persepsi orang tua wali siswa terhadap sistem Pendidikan Integral. Meliputi pengertian persepsi orang tua, faktor-faktor persepsi, sifat-sifat persepsi, pengertian sistem, pengertian pendidikan Integral dan komponen-komponen pendidikan integral.&lt;br /&gt;Bab III&lt;br /&gt;Bab ini peneliti akan memaparkan seluruh persyaratan dan kriteria penulisan karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan yaitu tekhnik penulisan dengan menggunakan sebuah metodologi tertentu berikut tekhnik pengumpulan data atau informasinya. Karena penelitiam ini menggunakan jenis penelitian kualitatif-deskriptif maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomenologis.&lt;br /&gt;Bab IV.&lt;br /&gt;Memuat tentang gambaran umum obyek penelitian yang meliputi: Latar belakang berdirinya SDI Luqman Al Hakim Surabaya, Letak geografis SDI Luqman Al Hakim Surabaya, struktur Organisasi SDI Luqman Al Hakim Surabaya, Visi dan Misi SDI Luqman Al Hakim Surabaya, dan data Sistem pendidikan Integral yang diterapkan di SDI Luqman al Hakim Surabaya.&lt;br /&gt;Bab V.&lt;br /&gt;Dalam bab ini menyajikan data tentang Persepsi Orang Tua Wali siswa terhadap system pendidikan Integral dan data tentang langkah-langkah sekolah dalam membangun persepsi orang tua terhadap sistem integral di SDI Luqman al Hakim Surabaya.&lt;br /&gt;Bab VI&lt;br /&gt;Penutup yang memuat kesimpulan dari semua pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan dan saran-saran yang berkaitan dengan hasil penelitian yang dapat menjadi pertimbangan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA.&lt;br /&gt;Arikunto.Suharsimi Prof. Dr. Edisi Revisi V. “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek”. 2002. PT Rineka Cipta, Jakarta.&lt;br /&gt;Document, Buletin Integral SDI luqman Al Hakim, Edisi Juli 2000, Surabaya&lt;br /&gt;Tim Departmen Pendidikan Ta 2000/2001, Buku Induk Seri Konsep Sekolah Integral Hidayatullah, Jakarta, 2000 DPP Hidayatullah.&lt;br /&gt;Irwanto, Psikologi Umum: buku panduan mahasiswa, , Jakarta 1998 Gramedia&lt;br /&gt;Mastuhu, memberdayakan system pendidikan Islam, 1999 , Jakarta Logos.&lt;br /&gt;Moleong, Lexy J., , Metodologi penelitian kualitatif, Bandung, 2001, PT. Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;Pius A Partanto, M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, 1994,Arkola Surabaya.&lt;br /&gt;Setiawan, Dodit. Persepsi masyarakat terhadap agrevitas remaja, , 2001, Untag Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=3565091803020276442#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Mastuhu, 1999, memberdayakan system pendidikan Islam, Logos, Jakarta. Hal 33&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=3565091803020276442#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Document, Buletin Integral SDI luqman Al Hakim, Edisi Juli 2000, Surabaya&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=3565091803020276442#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;/a&gt;[3] Pius A Partanto, M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, Arkola Surabaya, 1994 hal 591.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=3565091803020276442#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Setiawan, Dodit. Persepsi masyarakat terhadap agrevitas remaja, Untag Surabaya, 2001&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=3565091803020276442#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Irwanto, Psikologi Umum: buku panduan mahasiswa, Gramedia, Jakarta 1998&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=3565091803020276442#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Tim Departmen Pendidikan DPP Hidayatullah Pusat Ta 2000/2001, Buku Induk Seri Konsep Sekolah Integral Hidayatullah, Jakarta, 2000 hal 7&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=3565091803020276442#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;6&lt;/a&gt; Prof. Dr. Suharsimi Arikunto. Edisi Revisi V. “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek”. 2002. PT Rineka Cipta, Jakarta. Hlm.12&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3565091803020276442-5631612114653402938?l=myidris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://myidris.blogspot.com/feeds/5631612114653402938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3565091803020276442&amp;postID=5631612114653402938' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/5631612114653402938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3565091803020276442/posts/default/5631612114653402938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://myidris.blogspot.com/2007/04/my-skripsi.html' title='My Skripsi'/><author><name>M. Idris Rahman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i173.photobucket.com/albums/w57/risya_2007/IMAG0011.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
